Akhlak Rasulullah Kepada Pemeluk Agama Lain

21 April 2014

Oleh: Sya’roni As-Samfury

Bila sikapmu terhadap non muslim masih buruk lalu bagaimana dengan pemuda Yahudi yang berkhidmat di rumah Rasulullah dan Rasulullah menerimanya berkhidmat. Bagaimana seorang kafir Yahudi itu masuk ke rumah Rasulullah bahkan diterima sebagai khadim beliau. Rasulullah tidak menghardik dan mengusirnya atau memaksanya masuk Islam. Adakah orang yang lebih benci pada kekufuran melebihi Muhammad? Namun beliau menerimanya bahkan tinggal di rumah beliau. Sampai kemudian pemuda itu sakit, Rasulullah menjenguknya dan ia di sakaratulmaut, dan ia masuk Islam. Demikian dalam Shahih al-Bukhari.

Juga kemarahan Rasulullah terhadap Muslim yang menampar Yahudi yang mengatakan Nabi Musa lebih mulia dari Nabi Muhammad Saw. Maka Rasulullah menegur keras Muslim tersebut. Juga tersebutkan dalam Shahih al-Bukhari.

Lalu bagaimana dengan Abu Lahab yang menggali lobang untuk perangkap Nabi dan ia sendiri yang terjatuh ke dalamnya? Tangan mulia Rasulullah yang menolongnya keluar dari perangkapnya sendiri. Kenapa Rasulullah menolong gembong kafir jahat yang sudah dilaknat oleh Allah Swt. dalam al-Quran ini?

Lalu bagaimana dengan doa Rasulullah pada penduduk Thaif yang melemparinya dan menganiayanya: “Wahai Allah, beri hidayah pada kaumku, sungguh mereka tidak mengerti.” Bagaimana Rasulullah mengatakan kepada kafir jahat itu “kaumku”?

Lalu bagaimana dengan kejadian perang Uhud saat panah besi menembus rahang beliau, dan Ibunda Agung Fathimah binti Rasulullah dan Sayyidina Ali membersihkan luka dan darah di wajah beliau, dan Rasulullah malah sibuk menjaga agar darah tidak jatuh ke tanah dari wajah beliau. Maka para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, biarkan dulu darah itu, kita benahi lukamu terlebih dahulu.” Rasulullah bersabda: “Demi Allah, jika ada setetes darah dari wajahku menyentuh bumi maka Allah akan menumpahkan adzab pada mereka.” Ini terkisah dalam Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari.

Demikian Nabi menjaga musuh-musuhnya agar tidak terkena adzab dari Allah.

Lalu bagaimana dengan Nabi yang mendoakan orang Yahudi dengan doa beliau:

“Yahdikumullah wayushlih Balukum. semoga Allah memberi kalian petunjuk dan memperbaiki keadaan kalian.”
Lalu bagaimana dengan perbuatan Nabi pada sahabatnya yang mencaci seorang munafik, lalu Rasulullah bertanya: “Kenapa kalian mencacinya munafik?” Para sahabat berkata: “Sungguh perbuatannya dan ucapannya adalah sebagaimana perbuatan kaum munafik.” Maka Rasulullah bersabda: “Jangan kalian mencacinya, sungguh Allah telah mengharamkan api neraka bagi mereka yang mengucap La Ilaha Illallah karena ingin mendapat ridha Allah.” Lihatlah dalam Shahih al-Bukhari.

Lalu bagaimana dengan seorang pemabuk yang dihukum lalu ia mabuk lagi, dihukum lagi, lalu mabuk lagi, maka Sayyidina Umar melaknatnya dan Rasulullah menghardik Sayyidina dan bersabda: “Jangan kau caci ia, sungguh ia mencintai Allah dan RasulNya.” Lagi-lagi dalam Shahih al-Bukhari.

Lalu bagaimana dengan Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong munafik di Madinah yang berhati kufur, berkedok Islam, ia selalu mengabarkan rahasia Muslimin pada kuffar Quraisy. Jika Rasulullah berangkat berjihad maka ia berusaha menghalangi dengan kata-kata fitnah: ini musim panas, ini musim dagang, pasukan kuffar terlalu kuat, dan sebagainya. Namun diam-diam ia kabarkan bahwa pasukan Muslimin berjumlah sekian, dan seluruh rahasia kepada kuffar Quraisy. Jika Rasulullah pulang selamat maka ia menyambut Nabi dengan sambutan hangat, menangis gembira, dan mohon ampunan karena tak ikut peperangan, namun ia tetap dalam kemunafikannya.

Saat ia sakaratulmaut dan wafat maka Rasulullah datang menyolatinya, menguburkannya, dan anaknya yang juga bernama Abdullah adalah orang yang beriman, dan meminta baju Rasulullah untuk dikafankan pada ayahnya yang munafik itu. Rasulullah memberikannya, lalu turun ayat bahwa Allah tak akan mengampuni Abdullah bin Ubay bin Salul. Rasulullah berkata pada Umar: “Allah melarangku memohonkan pengampunan untuknya walau 70 kali kuistighfari pun dia tak akan diampuni Allah. Namun jika seandainya Allah akan mengampuninya jika kuistighfari lebih dari 70 kali, maka akan kuistighfari ia lebih dari 70 kali agar ia diampuni Allah. Namun aku mengetahui memang Allah tak mau memaafkannya.” Jelas dipaparkan dalam Shahih Bukhari.

Apakah Rasulullah salah? Tentu tidak, beliaulah panutan. Lalu siapa panutan bagi segelintir orang Islam yang berperilaku beringas? Siapa panutan para teroris yang bersembunyi di markasnya mereka sambil menebarkan kebencian dan meluncurkan serangan?

Kita kenal Umar bin Khattab yang pemberani., namun ia bukan pengecut yang suka sembunyi. Demikian pula Hamzah yang sengaja memakai tanda di dadanya berbeda dengan orang lain agar para kuffar tahu dan cepat mengenal bahwa ia adalah Hamzah. Ia tidak sembunyi lalu menyerang dari belakang sebagaimana para teroris saat ini.

Jika Muslimin meneror dan berbuat bengis terhadap kuffar, maka mustahil ada orang masuk Islam, bahkan orang Islam akan banyak yang menjauh. []
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang