Habib Umar: Dua Kelompok Pendengar Al-Quran

3 April 2014

Oleh: Habib Umar Bin Hafidh, Darul Musthafa – Yaman

Tugas Nabi Muhammad saw. adalah mengumandangkan dan menerangkan kepada kita wahyu yang beliau terima dari Allah swt. Allah Ta'ala berfirman,

"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. dan sebelum itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata."

Maka, kesucian jiwa (Tazkiyatun Nafs), ilmu Kitab dan Hikmah, akan diperoleh setelah kita mendengarkan bacaan Firman Allah yang disampaikan oleh Rasulullah.

Allah Ta'ala berfirman, "Sebagaimana Kami telah utus kepada kalian seorang Rasul dari golongan kalian sendiri yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Allah, mensucikan kalian dan mengajarkan mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah, dan mengajarkan kepada kalian yang tidak kalian ketahui sebelumnya. Ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku pasti mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan jangan menjadi orang-orang yang ingkar."

Adapun pintu masuk menuju medan Ma'rifah dan kedekatan kepada Allah swt. adalah kesungguhan hati untuk menerima dan siap mendengar terhadap ajaran dan bimbingan yang dibawa oleh Sang Nabi Terkasih, Sayyidina Muhammad saw.

Tingkatan martabat para Shahabat dalam derajat Iman, Yaqin dan Ma'rifah tergantung dari apa yang mereka serap dan terima dalam sanubari mereka terhadap ajaran Allah yang disampaikan oleh Sayyiduna Muhammad saw.

Karena itu, saat mendengarkan ayat Al-Quran, mereka merasakan sentuhan Cita dan Cinta, kesedihan, kerinduan, rasa takut, peningkatan kualitas iman, pamahaman yang luas, serta kehadiran Allah.

Tatkala datang delegasi dari Yaman pada masa pemerintahan Sayyiduna Abu Bakar As-Shiddiq ra. di Kota Madinah Al-Munawwarah, mereka melihat Sayyiduna Abu Bakar menangis tersedu saat dikumandangkan ayat-ayat Al-Quran.

Beliau berkata, "Demikianlah keadaan kami dulu, saat kami mendengar Al-Quran atau membacanya. Seperti inilah keadaan kami, sampai kemudian hati menjadi beku." Beliau merasa heran dengan keadaan hati manusia di masanya, sementara para shahabat nabi senantiasa mengalami peningkatan kualitas Iman dengan Al-Quran.

Sayyiduna Utsman bin Affan berkata, "Jika hati kita bersih, niscaya tak akan pernah puas dengan Kalamullah."

Demikian itu keadaan mereka setelah Allah bukakan hati mereka untuk mendengar, sehingga jika mereka mendengar, langsung mengambil pelajaran dan memahami kandungan rahasianya.

Allah swt. berfirman, "Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik, Kami membawamu ke dalam bahtera, agar kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar."

Rasululah saw. bersabda, "Jadikanlah hal itu pada pendengaran Ali bin Abu Thalib." Dan pendengaran Ali bin Abi Thalib termasuk pendengaran yang paling kuat terhadap firman-firman Allah swt. Karena itu, Sayyidina Ali pernah mengatakan, "Andai aku mengupas rahasia Bismillahirrahmanirrahim yang Allah ajarkan padaku, pasti akan kupenuhi seribu onta dengan karya tulis yang mengupas maknanya."

Beliaupun pernah menunjuk dadanya seraya berkata, "Sungguh di sini tersimpan ilmu yang berlimpah, andai saja aku bisa dapatkan seseorang yang mampu menerimanya."

Ketika Nabi Muhammad saw. menjatuhkan pilihannya kepada Sayyiduna Abu Bakar ra untuk menjadi imam shalat mewakili beliau, berkatalah Sayyidah 'Aisyah istri Rasululah, "Sesungguhnya ayahku (Abu Bakar) adalah orang yang berjiwa lembut, jika ia menggantikan posisimu, suaranya tak akan terdengar oleh para makmum karena tangisnya. Ia akan menangis saat membaca Al-Quran, hingga orang tak akan mendengar suaranya.

Inilah sebagian dari potret kehidupan mereka saat berinteraksi dengan Al-Quran dan apa yang disampaikan oleh Baginda Rasulullah saw. Pendengaran semacam inilah yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya, "Sesungguhnya seburuk-buruk binatang di Sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak mengerti apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada diri mereka, tentulah Allah jadikan mereka dapat mendengar."

Demikian jika Allah mengetahui kebaikan padamu, tentu ia akan menjadikanmu mendengar! Hati orang-orang yang baik bisa mendengar, sesuai dengan kebaikan yang Allah kehendaki bagi mereka.

Masyarakat yang hidup pada masa Rasulullah saw. terbagi mejadi dua kelompok;

Kelompok yang ketika dibacakan Al-Quran atau turun wahyu kepada mereka, maka bertambah imannya, bertambah kuat keyakinannya, tenang hatinya, sukacita, mulai merenungkan dan cahayanya, serta masuk ke area Qurb (kedekatan) kepada Allah. Kelompok lainnya, ketika Al-Quran dibacakan atau turun wahyu, maka bertambah parah penyakitnya, bertambah kotor dirinya, bertambah pekat kegelapannya.

Allah swt. berfirman, "Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka ada yang berkata; 'siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan surat ini?'. Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambahlah kekafiran mereka, di samping kekafirannya dan mereka mati dalam keadaan kafir."

Wal 'iyaadzu billah!

Demikianlah perjalanan hidup yang dilalui Rasulullah saw., sepeninggal beliaupun manusia terbagi menjadi dua kelompok ini, kapanpun dan dimanapun.

Karena itulah kita lihat para imam penyampai seruan dari Allah dan Rasul-Nya, sebagai wakil sekaligus penerus tugas Rasulullah saw, serius hati dan telinganya dalam mendengar. Sehingga banyaklah hati menjadi hidup sebab keberadaan mereka, dan Allah merahmati orang yang mau mendengarkan dan memperhatikan penyampaian mereka.

Berkata Sayyiduna Syaikh Abu Bakar bin Salim, "Andai datang kepadaku seorang dari dusun (orang badwi) yang tidak mengerti apa-apa, yang jika buang air kencing dia melakukan semaunya, kemudian datang dengan sepenuh hati, menyimak, menimba ilmu dan hadir dalam majelis, akan kusampaikan dia kepada Allah dalam waktu sekejap."

Sebagaimana kita sering mendengar kabar dalam sejarah tentang banyaknya orang yang beralih dari kegelapan kufur kepada Islam setelah menyimak penyampaian Rasulullah saw.

Sungguh beliau ini (Syaikh Abu Bakar bin Salim) telah terkesan hatinya dengan sentuhan rahasia Al-Quran, hingga membuat beliau berani bersumpah atas Nama Allah swt, bahwa, "Semenjak usia tujuh belasan tahun, tidaklah mata ini memandang sesuatu, terkecuali aku menghadirkan Allah sebelumnya, pada-Nya atau bersama-Nya."

Beginilah hati yang selalu hadir bersama Allah! Hati yang menyimak wahyu Allah yang diturunkan! Dengan sebab inilah, rumah-rumah mereka menjadi tempat turunnya Rahmah, barakah.

Jarak antara kita dengan beliau terpaut 439 tahun sejak beliau wafat, namun curahan sirr (kekuatan rahasia) yang menghidupkan hati terus mengalir sampai detik ini di majelis ini. maka hendaknya, ketika seorang mukmin beranjak dari majelis ini, maka terpancar cahaya dari tutur kata dan perilakunya, cahaya bekas majelis perkumpulan zikir kepada Allah Ta'ala, terlihat perubahan ke arah yang lebih baik dalam gaya hidup dan pola fikirnya.

Pintu masuk kita untuk bisa dekat kepada Allah, ma'rifah kepada-Nya, yakni dengan sepenuh hati menyimak ayat-ayat Allah yang akan menjadi cahaya akal, cahaya hati, sehingga terbentuklah pola pikir yang benar dan intelektualitas imaniyyah, terbangun pula pondasi ilmiyah yang kokoh dan benar, bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah Nabi saw. Semua itu Allah anugerahkan kepada kita dengan kesungguhan kita menyimak ayat-ayat-Nya.

Hati umat Islam saat ini telah diserang oleh berbagai opini dan pemikiran yang beragam, menghantam hati dan pikiran mereka dengan beragam media dan sarana, menyesatkan mereka dari jalan yang benar, merusak pola pikir mereka, mengacau persepsi mereka tentang banyak hal!


Penyebab utamanya tidak lain adalah; jauhnya mereka dari upaya yang serius dalam menyimak ayat-ayat Allah. Padahal di dalamnya ada penjelasan terhadap segala sesuatu!

Allah Ta'ala berfirman, "Agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan pada mereka."

"Agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia." Seolah-olah engkau tinggal bersama mereka, sampai orang terakhir dari mereka. Semua ayat ini diperdengarkan oleh Rasulullah, selanjutnya para shahabat, begitu seterusnya sampai kepada para ulama yang menjadi penyambung lidahnya.

Maka kita wajib menilai diri kita, bagaimana kita menyikapi ayat-ayat yang Allah turunkan ini, agar intelektualitas kita kokoh dibangun di atas pondasi kesejatian iman.

*Sumber: Ceramah Habib Umar Bin Hafidh (Ribath Darul Musthafa – Tarim, Hadhramawt, Yaman) pada acara Haul Syech Abubakar bin Salim di Cidodol – Kebayoran Lama, Ahad 14 Muharram 1430 / 11 Januari 2009. Reporter: Zia Ul Haq.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang