Begitu Sadiskah Generasi Muda Kita?

3 April 2014

OLEH: FAHMA AMIROTULHAQ - MAJALENGKA

Kejadian tragis yang dialami beberapa remaja akhir-akhir ini sangat memilukan. Sebagai pemudi yang tak jauh usianya dari mereka, saya turut bersedih akan perilaku teman-teman remaja yang semakin tak terlihat sopan santun dan akhlaknya.

Pemuda Indonesia
Belum lama Ade Sara jadi korban pembunuhan mantan kekasih yang bersekongkol dengan kekasih barunya. Beberapa hari yang lalu, lagi-lagi ditemukan jasad pemudi bernama Mia Nuraini, tergeletak bersimbah darah di depan rumah warga. Diduga (dan memang kenyataannya) Mia tewas karena dikeroyok 8 orang pemuda, diantara mereka ada 2 pemudi, dan Mia dipukul 8 orang itu menggunakan gir motor di kepalanya. Na’uudzubillah.

Saya pun bertanya-tanya, sebenarnya ini salah siapa?

Sejak kasus-kasus itu dipublikasikan, terutama di dunia maya, banyak orang yang berkomentar, berargumen, berbondong-bondong mencaci maki si pelaku pembunuhan. Namun, adakah orang yang menganalisis akar penyebab perilaku anak-anak tersebut?

Mengapa Ade Sara ataupun Mia bisa terbunuh?

Pergaulan. Ya, mungkin pergaulanlah yang menyebabkan mereka meregang nyawa. Mungkinkan itu terjadi jika mereka mampu menjaga diri? Wallahu 'alam. Ketika saya mendengar berita tentang Mia itu, yang langsung terbesit dalam pikiran saya; sedang apa Mia di luar malam hari? Dengan siapa?

Kita tidak bisa meremehkan budaya leluhur kita yang mengatakan bahwa seorang perempuan itu, dalam Sunda  "Pamali", atau Jawa "Saru", kalau mereka keluar malam. Bagi saya, itu bukan hanya kepercayaan semu, pesan leluhur kita itu tak luput dari sifat rahiim mereka akan keturunannya. Wanita itu ibarat mutiara dalam kerang, begitu berharga dan harus selalu ‘dijaga’.  Ini bukan diskriminasi terhadap kebebasan wanita. Sama sekali bukan! Ini hanya saran agar wanita tetap bisa terjaga.

Mia keluar dengan kekasihnya. Begitu yang diberitakan dalam media. Sebagai wanita, hati saya begitu tersayat saat tahu Mia berduaan dengan pacarnya. Murah sekali jasadnya, hingga ia memperbolehkan seorang lelaki bukan mahram menyentuhnya. Pernah saya katakan saat pengajian ibu-ibu di rumah, jika seorang wanita memperbolehkan lelaki bukan mahram menyentuh tangannya, maka itu akan membuka peluang bagi laki-laki tersebut untuk menyentuh lebih daripada itu. Menurut saya.

Kemudian saya kembali bertanya, mengapa Mia seperti itu? Bisa jadi karena pengaruh lingkungan, atau karena kurangnya pengawasan dari orangtua. Lingkungan menjadi salah satu faktor pendukung dalam pembentukan kepribadian seseorang, namun keluarga lebih utama dari lingkungan sekitar. Maka, untuk dapat membentuk kepribadian yang bermoral, berakhlak mulia hendaknya dimulai dari keluarga.

Keluarga yang terhormat akan melahirkan keturunan yang terhormat pula. Apakah kehormatan diukur dari seberapa harta yang dipunya? Dari keturunan siapa dan bangsa apa? I don’t think so. Kehormatan adalah dengan bersungguh-sungguh menjadi hamba Allah Yang Mahamulia. Dan ia yang terhormat adalah ia yang mulia di hadapan-Nya.

Saya bukan ahli analisa. Yang ingin saya tegaskan sekali lagi, dalam rangka berbagi dengan  sesama, kejadian naas yang ditemukan akhir-akhir ini hendaklah kita jadikan pelajaran untuk masa yang akan datang. Siapa yang seharusnya berperan dalam pembentukan pribadi anak-anak? Tentunya kita semua. Bukan hanya orangtua atau pemerintah yang sering didemo saja. Tapi kita semua.


Kepada orangtua yang sudah banyak pengalaman, sepatutnya untuk memikirkan bagaimana keturunannya, tidak hanya berkutat pada masalah pribadi saja. Ya memang, jika seseorang ingin memperbaiki orang lain, maka ia harus memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Tapi kalau terus-terusan memikirikan diri sendiri juga tidak baik. Khairu al-umuuri ausathuhaa, sebaik-baiknya perkara adalah tengah-tengahnya. Intinya biasa-biasa saja. Kalaupun ditinggalkan, tetap jangan sampai menelantarkan anak-anaknya, hingga merasa kurang perhatian dan kasih sayang di tengah keluarga.

Kepada remaja, masa muda adalah masa keemasan. Sayang sekali jika hanya digunakan untuk hura-hura atau dengan lamunan tanpa makna. Bergeraklah! Kreatifitas tidak hanya ditemukan dalam sekolah formal. Kreatifitas dapat kita temukan di setiap detik kehidupan. Jangan memforsir pikiran hanya untuk perkara asmara. []
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang