Bisa Kaya Tapi Tak Mau

9 April 2014

Thales of Miletus

Dalam dominasi paradigma Kapitalisme Materalistis, semua potensi yang kau miliki, entah itu pikiran, badan, bakat, serta semesta raya diposisikan sebagai modal (kapital) untuk mengeruk sebanyak-banyaknya keuntungan materi, khususnya; uang. Sehingga imbasnya adalah; kesuksesan bahkan kebahagiaan diukur dengan banyaknya uang yang kau punya.


Dulu, Thales dari Miletos yang hidup enam abad sebelum masehi, sosok yang dianggap sebagai gentho-nya filsafat alam, sering diledek masyarakat karena kerjanya hanya mikar-mikir, tetapi melarat menurut pandangan mereka, kere.

Kesal dengan ledekan-ledekan ini, Thales bongkar celengan, dan membeli banyak alat giling. Dan pada masa panen gandum, orang-orang datang kepadanya untuk menyewa alat giling yang tidak semua orang punya. Mbah Thales menyewakan alat-alat gilingnya dengan tarif yang 'wow'. Sehingga saat orang-orang panen gandum, ia pun panen duit.

Dengan nada mencibir, dia berpidato; "Lihatlah, sebenarnya bisa saja kami mengumpulkan banyak uang dan menjadi kaya di mata kalian semua, tetapi kami punya minat lain untuk diselami."


Nah, mungkin sudut pandang seperti ini musti kita instal dalam pola pikir kita saat melihat para pemikir, ilmuwan, aktivis kemanusiaan, seniman, dan para sufi yang kebetulan tidak kaya dalam pandangan sosial. Setiap orang punya kecenderungan minatnya sendiri-sendiri. []
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang