Deklarasi Pemilu Damai dari Pesantren Krapyak

5 April 2014

Pesantren Krapyak Jogja

SANTRIJAGAD – Belasan ribu pengunjung memadati kompleks Pesantren Krapyak Yogyakarta, dalam gelaran acara ‘Maulid Akbar dan Doa Bersama untuk Bangsa,’ Kamis (13/03) malam. Acara rutin tahunan Jam’iyyah Ta’lim wal Mujahadah Jumat Pon (JTMJP) ‘Padang Jagad’ Ponpes Al-Munawwir Krapyak kali ini terselenggara berkat kerjasama dengan Polda DIY (POLRI), Korem 072/Pamungkas (TNI), dan Badan Nasional Penanggulangan terorisme (BNPT).

Hadir dalam event kali ini Kapolri Jendral Pol Drs. H. Sutarman, Kapolda DIY Brigjen Pol Haka Astana, Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI MS Fadhilah beserta jajarannya masing-masing, Dan Lanud Adisucipto, Dan Lanal Yogyakarta, Bupati Bantul, para ketua ormas, MUI, KPU, Bawaslu, dan perwakilan partai peserta pemilu. Dari kalangan ulama hadir Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf (Solo), Habib Musthofa Alaydrus (Jakarta), KH. Yahya Cholil Staquf (Rembang), KH. Ashari Abta (Jogja), KH. Abdul Muhaimin (Kotagede), dan para kyai lainnya.

Lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ menggema dilantun semua hadirin dengan berdiri hikmat, dipimpin dirigen seorang perwira dari Polda DIY. Acara kemudian dibuka oleh tuan rumah, Pengasuh JTMJP ‘Padang Jagad’, KH. R. Chaidar Muhaimin Afandi (Gus Endar). Dilanjut sambutan atas nama Panitia Bersama oleh Danrem 072/Pamungkas, Brigjen TNI MS Fadhilah. Beliau menyampaikan terimakasih untuk semua fihak atas kerjasamanya.

Sesuai dengan tajuk acara tahun ini  ‘Mewujudkan Pemilu Damai dan Menolak Radikalisme Agama’, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mendapat giliran untuk memberi sambutan berikutnya. Diwakili Ketua KPU DIY, Hamdan Kurniawan SIP., MA., menyampaikan betapa pentingnya berpartisipasi dalam pesta rakyat yang akan digelar 9 April 2014 mendatang. Hamdan menambahkan, hendaknya semua warga negara Indonesia menggunaan hak pilih dengan baik untuk turut menyukseskan pemilu tahun ini.

Mengutip Quran Surat Ahzab ayat 21, Kapolri memulai sambutannya. Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah SAW adalah suri tauladan dalam segala bidang, salah satunya dalam hal kepemimpinan.

“Terlebih, Rasulullah selalu menekankan persatuan dan menghargai perbedaan,” tegasnya.


Kapolri melanjutkan, Allah SWT menciptakan kita berbeda, berbineka, semua adalah anugerah. Disintegrasi sering kali terjadi karena hal-hal yang sepele, seperti perbedaan dalam bacaan shalat, qunut, dan masalah yang bukan pokok lainnya.

Lebih lanjut lagi Kapolri menjelaskan bahwa al-Quran turun berbahasa Arab. Kita warga negara Indonesia memiliki bahasa yang berbeda, untuk memahami isi ajarannya kita menggunakan tafsir yang sangat beragam.

“Jangankan al-Quran, batu saja (kalau kita amati juga) multi tafsir. Jadi tidak ada alasan saling menyalahkan, saling jotos, dengan begitu hidup kita akan damai,” terang laki-laki yang dulu pernah menjadi asisten pribadi Presiden RI ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini.

Dalam momentum pemilu 2014 ini, Kapolri bersama 480 ribu jajarannya siap bersikap netral untuk mengawal semua prosesi sehingga tercipta pemilu yang jujur, adil, rahasia, dan aman. Kapolri melanjutkan, bahwa founding-father kita, para presiden terdahulu, adalah orang-orang hebat nan berintegritas. Tapi kebiasaan buruk masyarakat kita memang senang melihat kekurangan-kekurangan, seharusnya itu kita yang melengkapi sehingga menjadi sempurna dikemudian hari.

Demokrasi kita memperbolehkan berbeda pendapat dan pilihan. Tapi saat sudah ada yang terpilih dan disepakati bersama, maka yang lain harus mendukung. Bangsa ini akan menjadi lebih baik, mampu bersaing dalam segala bidang, tergantung warganya mau saling dukung atau tidak.

“Kita dukung dan kontrol, kita kritisi jika kurang baik. Jika tetap ngeyel, pemilu berikutnya tidak usah dipilih lagi,” terang Kapolri yang disambut riuh para hadirin.

Kapolri mengakhiri sambutannya dengan menyitir hadits innamaa buistu liutammima makaarim al-akhlaq. Prioritas kenabian adalah akhlak yang terpuji. Rasulullah tidak pernah melakukan kekerasan dalam bentuk apapun, tapi mengajarkan kelembutan sikap dan ketertiban sehingga tercipta kedamaian bersama.

Penandatanganan kesepakatan penyelenggaraan pemilu damai, menjadi rangkaian acara yang tak kalah penting berikutnya. Pada sesi kali ini, sebanyak 10 perwakilan partai peserta pemilu 2014 secara bergantian membubuhkan tandatangan pada ‘lembar prasasti’ berlogo masing-masing partai.

“Sebenarnya semua partai kami undang, tapi ternyata yang bisa hadir hanya 10 (partai),” terang KH. Zaky M. Hasbullah, Lc., selaku Ketua Panitia penyelenggara.

Selain dari perwakilan partai, penandatanganan juga melibatkan kalangan Umaro, yang kemudian diwakili oleh Kapolda DIY, Danrem 072/Pamungkas, dan Ketua KPU DIY. Sedangkan dari Ulama diwakili oleh Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, KH. Ashari Abta, dan KH.R.Chaidar Muhaimin Afandi.

“Parpol adalah wadah aspirasi, umaro adalah wasit, sedangkan ulama sebagai payung dingin kedamaian di semua lini, unsur, dan aspek sosial,” pungkas Gus Zaky. []

*Sumber: Majalah ALMUNAWWIR edisi V/2014
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang