Cat Steven: Hidupku, Musik, dan Islam

18 April 2014

OLEH: YUSUF ISLAM (CAT STEVEN) - INGGRIS*

Pengumuman tentang masuknya namaku di daftar Rock and Roll Hall of Fame pasti menggembirakan para penggemarku, terutama bagi mereka yang selama ini mendukung akan hal itu. Sebagaimana hal tersebut juga kurasakan.

Memang benar bahwa sejak memeluk Islam aku bertekad meninggalkan segala hal tentang musik dan menapaki hidup baru yang jauh dari gemerlap popularitas dan keramaian. Dalam selarik surat, kusampaikan kepada perusahaan rekaman untuk melepaskan sahamku. Mereka setuju, mungkin mereka kira ini hanya perjalanan spiritualku - Cat Steven- yang sementara.

Tapi tidak. Si Cat tak pernah kembali. Namaku sudah berganti menjadi Yusuf, lalu memutuskan untuk menikah, dan membangun keluarga dalam sebuah rumah sederhana di Hampstead Garden, London, bertetangga dengan ibu.

Waktu berlalu, namun sorot kamera tak berhenti mengikuti hidupku. Kemudian kusadari bahwa ada sebagian orang yang tak suka terhadap perjalanan non-duniawiku ini. Memandangku dengan sinis. Jika dahulu mereka tak suka dengan Cat Steven beserta musiknya, tentu juga takkan suka dengan Yusuf Islam beserta agamanya sekarang.

Di kemudian hari, aku mempunyai anak-anak dan membuka sekolah bagi anak-anak muslim pertama di Inggris. Sebagaimana anak-anak Kristen dan yahudi, akhirnya anak-anak Muslim memiliki tempat untuk belajar, dan beribadah.

Menyaksikan berbagai bencana sosial di negara-negara miskin, terutama di Afrika pada 1985, akupun turut tergerak. Bergabung dalam organisasi internasional untuk membantu orang-orang kelaparan, yatim piatu, dan gelandangan. Lucunya, ada sebuah tabloid yang memberitakan bahwa; Cat Steven menyumbangkan seluruh hartanya kepada masjid-masjid, dan menjalani hidupnya dengan kaleng untuk mengemis, menggelandang di antara Teheran dan Qom.

Gila! Bahkan aku tak tahu dimana itu Qom.

Semuanya terasa menjadi sangat aneh, kata-kata dan mimpiku tergambar jelas dalam setiap lirik yang pernah kunyanyikan dahulu. Sayangnya, dahulu lirik-lirikku itu menguap di antara gemerlap acara-acara besar. Aku terperangkap dalam sebuah kotak yang membuatku nampak aneh. Jika kehidupanku dahulu adalah sebagaimana laguku ‘Wild World’ (dunia yang liar), maka makin jelas kulihat keliaran kehidupan itu setelah kupeluk Islam. Aku baru menyadarinya, padahal sudah sering kunyanyikan dahulu;

If you wanna leave, take good care Hope you make a lot of nice friends out there But just remember there’s a lot of bad And beware. (Jika kau ingin pergi, berhati-hatilah. Semoga kau mendapat banyak kawan di luar sana. Tapi ingatlah, ada banyak kejahatan. Berhati-hatilah.) - Wild World

Bodohnya, aku tak memperhatikan peringatan dari kata-kataku sendiri. Orang-orang jahat ada di luar sana, mereka mencoba mengikis pesan universal kedamaian dan kasih sayang Islam yang aku dan kawan-kawan muslim yakini. Sekarang rasanya mustahil untuk menjelaskan bagaimana keindahan transenden keimanan sedangkan senjata tertodong dimana-mana.

Di tengah kegelisahan, aku tersadar bahwa betapapun dunia tenggelam dalam kekacauan, kita masih bisa bernyanyi! Semangat kemanusiaan mungkin bisa kabur, tapi takkan pernah hilang. Dan tidak ada yang bisa membangkitkan semangat itu sebagus lagu-lagu yang bagus. Sebuah film pendek tentang Nelson Mandela yang sempat kutonton menginspirasiku. Ia nampak menari dan tersenyum sambil berujar, “Adalah musik dan tari yang bisa membuatku damai bersama dunia dan damai bersama diriku sendiri.”

Pada 2001, setelah menyanyikan “Peace Train” pada sebuah konser penghargaan di Radio City Music Hall New York, memperingati tragedi 11 September, inspirasi itu makin tumbuh. Pada 2003, saat tinggal di Dubai, putraku membawakanku sebuah gitar. Itulah kali pertama aku menyentuhnya sejak terakhir kali pada 1979, sudah 24 tahun! Memainkan beberapa lagu lawas membuatku haru. Aku semakin sadar; ada tugas yang musti ditunaikan!

Setelah Tsunami pada 2003, kutulis sebuah lagu berjudul “Indian Ocean”. Inilah pertama kalinya aku masuk studio rekaman bersama para musisi sejak terakhir kali pada 1978. Kami merekam dan menyebarkan lagu ini untuk amal. Lirik terakhir dari lagu ini mengisahkan tentang seorang gadis kecil, acak-acakan, yatim piatu, tergeletak di reruntuhan sisa-sisa Tsunami yang telah merenggut kedua orang tua dan rumahnya. Lalu seorang wanita baik hati mendapati gadis ini, menatap dalam-dalam kedua mata si gadis, dan melihat surga di dalamnya.

Kekuatan amal dan kepedulian manusia telah mempengaruhi jalan hidupku, sebagaimana musik yang telah mengantarkanku pada penghargaan ini, Rock and Roll Hall of Fame.

*Cat Steven adalah bintang Rock legendaris dari Inggris yang mendapat hidayah Islam, lalu berganti nama menjadi Yusuf Islam. Sumber: tulisan Yusuf Islam yang dipersembahkannya untuk Rolling Stone Middle East www.rollingstone.com, diterjemahkan oleh Santrijagad.
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang