Hindari Debat Kusir Pluralisme!

4 April 2014

Oleh: Awy A. Qolawun, Masyru' Maliki - Arab Saudi


Awy A. Qolawun


Selama ini orang-orang meributkan “pluralisme” antara pro dan kontra, ternyata ranahnya hanya debat istilah. Gemar betul bangsa kita ini mendebatkan istilah, terjebak pada kalimat, sehingga mendorong pada pertengkaran-pertengkaran yang tidak perlu. Jika boleh menggunakan kaidah, sebenarnya “laa musyahata fil istilah”, tak perlu meributkan istilah, tapi lihat bagaimana substansinya.


Lagi pula “khilaf lafdzi” (perbedaan pemahaman definisi), kerap kali “fadhi” (kurang gawean) dan itu terlihat betul pada soal pluralisme. Dalam persoalan pluralisme ini, mari kita renungi dan baca kembali bagaimana sejarah perikehidupan Nabi Muhammad dan juga para nabi sebelumnya dalam menghadapi masyarakat yang majemuk. Tak ada satupun nabi yang hidup dalam satu komunitas dengan satu agama saja. Rasulullah sendiri selama sepuluh tahun berada di Madinah sampai akhir hayatnya, dalam satu kota hidup beberapa keyakinan. Tentu saja mereka semua kala itu di Madinah hidup damai, berdampingan dan tetap menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing.


Walau tentu saja mayoritas masyarakat Madinah adalah kaum muslimin. Namun tetap ada minoritas Kristen, Yahudi, dan pagan. Bahkan saat Rasulullah wafat pun zirah perang besi kepunyaan beliau tergadaikan pada seorang Yahudi yang juga tinggal di Madinah. 


Pengusiran yang terjadi pada tiga klan besar Yahudi di Madinah pada masa Nabi pun bukan pengusiran karena beda keyakinan. Tetapi lebih kepada pelanggaran terhadap kesepakatan bersama, juga konspirasi-konspirasi berbahaya yang mengancam hidup nabi dan kestabilan Madinah. Selebihnya, orang-orang Yahudi yang bukan dari tiga klan itu atau yang tak terlibat konspirasi tetap hidup damai sentosa di Madinah. Sikap keseharian nabi beserta para sahabat pun tetap ramah, saling berinteraksi sosial. Bahkan nabi punya sahaya setia beragama Yahudi.


Pernah juga ada kisah saat jenazah Yahudi lewat, nabi langsung berdiri, dan para sahabat bertanya; Duhai Rasul, itu mayat Yahudi. Maksud para sahabat adalah nabi tidak perlu berdiri lagipula yang mati itu beda keyakinan. Tapi apa jawab beliau?


“Bukankah (yang mati itu) manusia?”


Para sahabat pun akhirnya ikut berdiri. Tahu cara bersikap dari nabi terhadap sesama manusia meskipun beda keyakinan. Lagipula dalam sejarah penyebaran Islam di masa nabi seluruhnya lewat tawaran, bukan paksaan. Jika menolak masuk Islam, maka diberi opsi jizyah sebagai kompensasi keamanan perlindungan oleh Islam atas keyakinannya. Dan jika menolak seluruhnya serta menampakkan permusuhan nyata pada Islam, nah baru ambil sikap dengan angkat senjata, itu pun dengan tatakrama.


Maka jika kita arif menilai dan tidak buru-buru marah dengan kata “pluralisme”, maka tidak akan terjadi perdebatan yang kerap kita lihat selama ini. Semisal kata panas; “semua agama sama”, “semua agama benar”, ini kalimat masih sangat nisbi sekali, tidak semestinya langsung terpancing. Harus kita perjelas dulu apa maksud seseorang mengatakan dua kalimat tadi.


Jika dia mutlak mengatakan semua agama benar, artinya kita tidak perlu meneruskan percakapan dengan si pengucap. Sebab dia secara langsung mengingkari hukum alam, bahwa dalam hidup ini mau tidak mau pasti ada yg benar dan ada yg salah. Itu keniscayaan. Namun jika dia dengan “semua agama benar” itu menurut pemeluk masing-masing, maka percakapan juga selesai. Sebab setiap orang merasa keyakinannya yang paling benar, itu cukup alamiah.


Adapun soal “semua agama sama” juga begitu. Jika orang itu bermaksud mutlak semua agama sama, tidak beda, percakapan juga selesai. Sebab kita sedang berbicara dengan orang buta terhadap kenyataan bahwa tak satupun agama yang sama, baik dalam ritualnya dan sesembahannya. Lalu apa faedah bicara atau –apalagi- debat kusir dengan orang tidak mengerti? Capek sendiri dan membuang-buang waktu.


Kalau semisal dia bermaksud bahwa “semua agama itu sama” dalam mengajarkan moral dan kebaikan, percakapan juga selesai. Sebab pada kenyataannya seluruh agama memang mengajarkan perbaikan moral, mana ada agama mengajarkan kejahatan?


Alhasil jangan langsung marah-marah atau alergi ketika mendengar kata plural, pluralisme, pluralitas. Biasa saja, jangan lebay. Sikapi dengan bijak, sebab jika ditelisik lebih dalam, istilah-istilah ini dilontarkan lebih untuk memicu fitnah dan kekacauan di antara umat. Dan jika kita termakan ikut bertikai soal ini, artinya kita sukses terperangkap jebakan raksasa yang memang sengaja dipasang.



Memang kita perlu menjelaskan dengan dingin kepada mayoritas umat yang sudah panas dan kacau. Atau lebih baik diam saja. Karena begitu seseorang langsung marah-marah saat ketemu makhluk bernama pluralisme ini, tanpa diamati dulu, artinya dia juga lupa pesan nabi. Yakni pesan yang sebenarnya cukup sederhana tapi banyak di antara kita lupa dan sulit menerapkannya;


“Laa taghdhob; Jangan marah.”


Ini pendapat saya soal istilah pluralisme dan bagaimana fakta yang ada dalam kehidupan kita dan bagaimana perikehidupan di jaman nabi. Jika setelah ini masih ada yang tanya, bagaimana sikap saya terhadap pluralisme? Artinya ijazah si penanya perlu diterawang, jangan-jangan palsu. Semoga mencerahkan. Hindarkan diri sebisa mungkin dari perdebatan istilah, bebaskan leher dari belenggu istilah.

Juga perlu diketahui dengan baik serta dicamkan dalam-dalam bahwa Nabi Muhammad diutus dan Al-Qur’an diturunkan bukan khusus untuk Umat Islam. Nabi Muhammad diutus dan Al-Qur’an diturunkan untuk seluruh manusia dan kemanusiaan.


Jika ada yg keukeuh bahwa Rasulullah dan Al-Qur’an khusus buat umat Islam, non Islam tak mendapat jatah, artinya orang ini perlu dipertanyakan pembacaannya terhadap Al-Qur’an. Ketahuan hanya membaca al-Qur’an dari lafadznya saja, sekedar tilawah, tanpa tahu arti apalagi mentadabburi makna ayat-ayat suci yang dibacanya.


Sumber: Chirpstory
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang