Kampanye dan Dakwah

3 April 2014


Oleh: Zia Ul Haq – Tegal

Upaya memperkenalkan ajaran Tuhan, mempromosikannya, lalu mengajak orang lain untuk melaksanakannya dengan baik adalah pengertian sempit dari kata ‘dakwah’. Berasal dari kata “da’aa – yad’uu – du’aaan/da’watan”.

Kata ‘doa’ sendiri berarti ‘seruan’ kepada Tuhan dan berkonotasi ‘permintaan’. Sementara ini, makna ‘meminta’ lebih popular daripada makna ‘menyeru’, padahal ‘menyeru’ belum tentu ‘meminta’, mungkin bisa sekedar ‘menyapa’. Maka jelas mengapa orang yang tidak mau berdoa disebut orang yang sombong, karena kepada Tuhanpun ia enggan menyapa, minimal lima kali sehari. Padahal Dia memelihara setiap hela napas dan aliran darahnya, bukan sekedar lima kali sehari, tapi tiap ukuran terkecil waktu (milidetik?).

Di kalangan sufi, ada kesadaran tertentu yang justru membuat malu untuk meminta, lha wong Dia lebih tahu kebutuhan hamba-Nya kok, dan apakah yang terlimpah belum cukup sehingga perlu meminta lagi? Mereka enggan meminta, tapi tetap menyapa, bahkan selalu berupaya akrab dengan Tuhan.


“Serulah Aku, akan kujawab untukmu,” ungkap-Nya dalam ayat suci.

Sedangkan bentukan lainnya, ‘dakwah’, berarti ‘seruan’ kepada sesama manusia untuk mengajak menuju kebaikan. Bukan sekedar menunjukkan, apalagi memerintah. Pelakunya disebut ‘da’i’ atau pendakwah. Sosok dai tak boleh bertindak sebagai calo terminal, dia mengajak penumpang kesana kemari, sedangkan dia sendiri tak kemana-mana. Ngedeprok di warkop terminal.

Dalam aktivitas dakwah ini ada rambu-rambu yang perlu ditaati. Arahan primer jelas tertera dalam ayat suci,

“Serulah menuju Jalan Tuhanmu dengan Hikmah (kebijaksanaan) dan Mau’idzah Hasanah (petuah yang baik).”

Dakwah tanpa mengindahkan metode yang bijak dan cara yang santun mungkin bisa meraup massa alias jamaah. Tapi ia akan berefek buruk, tidak hanya terhadap cara pandang jamaah tersebut, tetapi juga bagi lingkungan sekitarnya. Belum lagi dampak negatif yang tak kalah fatal; nilai murni Islam –yang dari akar katanya saja bermakna kedamaian- bisa terkaburkan.

Lalu apa hubungannya dengan kampanye?

Istilah yang semakna dengan kata Arab ‘dakwah’ dalam Bahasa Indonesia –meskipun kata tersebut sudah diserap ke bahasa kita- adalah ‘kampanye’, juga berasal dari bahasa asing; campaign. Ia adalah kegiatan mempromosikan sesuatu untuk meraih simpati massa, kemudian mengajak massa untuk mendukung apa yang dipromosikan. Sebagaimana dipraktekkan partai-partai politik maupun calon-calon legislatif sekarang.

Kampanye parpol memang bukan mengajak menuju Tuhan, hanya kepentingan temporer dalam pemilihan umum. Namun tiada salahnya jika aturan dakwah tuntunan Tuhan dipraktekkan pula dalam kampanye partai politik, kampanye caleg, kampanye ormas, atau kampanye jomblo ke calon mertua.


Apalagi bagi partai-partai politik yang menjadikan Islam sebagai komoditas. Tujuan parpol berlabel Islam adalah menyuarakan gerakan umat Islam untuk menghamba kepada Tuhan dalam kehidupan bernegara, maka setiap langkah politisnya (siyasi) –semestinya- sesuai dengan aturan suci. Termasuk dalam hal kampanye.

Sikap bijaksana hanya bisa muncul seiring pengalaman yang matang dan wawasan yang mapan. Partai-partai tua semestinya paham akan hal itu. Jika mereka bisa berlaku bijak dalam mengalokasikan dana kampanye dan bijak pula dalam pelaksanaan kampanye massal, maka itu akan memikat hati rakyat dengan penuh kesadaran.

Orasi publik juru kampanye di atas panggung, di tengah lapangan, di hadapan masyarakat, adalah metode kampanye lama dan cenderung primitif. Kemudian dipersolek dengan berbagai asesoris semisal konser musik, konvoi jalanan, undian berhadiah, hingga istighatsah alias doa bersama.

Parahnya, fenomena yang terjadi justru asesoris kampanye itulah yang memuakkan, rusuh dan mengganggu ketenteraman. Lalu dimaklumkan sebagai hal yang wajar. Grang-grong knalpot sepeda motor, pamer bokong erotis penyanyi dangdut yang lepas kendali, atau praktek amplopisasi bagi simpatisan menjadi contoh konkrit yang bisa kita lihat dengan bola mata. Cara seperti ini mungkin bisa meraup massa, tapi sangat temporer, menjijikkan, dan ‘kumuh’.

Bagaimana parpol atau caleg berkampanye setidaknya mencerminkan indikasi perilakunya kelak saat menjabat. Ada yang suka menghambur-hamburkan dana kampanye untuk sekedar hingar bingar dangdutan. Adapula yang bisa mengalokasikan dana kampanye untuk menggelar pengobatan gratis, bagi-bagi alat tulis, blusukan penampungan aspirasi, diskusi publik tentang masalah riil warga, penyaluran modal kewirausahaan, serta berbagai pelatihan dan pemberdayaan masyarakat.

President Election by Ketut Sadia

Nah, dari cara-cara kampanye yang digunakan, setidaknya kita bisa mengukur sejauh mana kepedulian, kecerdasan dan kesungguhan Si Calon. []
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang