Membaca Wong Edan

24 April 2014

M. Budi Mulyawan – Tegal

Dulu di sudut desaku ada bermacam-macam wong edan yang lewat, tinggal, bahkan bersemayam riwa-riwi dari ujung ke ujung. Ada wong edan perempuan bernama Kinem yang kerjanya membawa tongkat sangat panjang dan jalannya menunduk. Tidak pernah menengadahkan kepalanya apalagi memasang-masang gambar di jalan-jalan untuk kampanye seperti ramai tahun 2014 ini. Dalam proses edannya, Kinem seperti menemukan kesejatian tawadhu.
Bukan menyamakan dengan apapun, saya menjadi teringat kekasih-kekasih Tuhan yang bahkan tidak berani menatap ke langit apalagi berdoa dengan lantang “allahumma” sebagai inisiatif untuk meminta Tuhan apalagi memprogram Tuhan. Tuhan kita arahkan sekehendak hati kita untuk mematuhi segala harapan dan cita-cita kita. Bukan, di hati mereka “apa yang diberikan oleh Tuhan, itulah yang aku sukai”
Ada wong edan Wahweh yang tak bisa bicara kecuali hanya dengan “wah” dan “weh”. Dia tidak bicara apa-apa kecuali menyapa setiap yang lewat. Ramah melebihi siapapun bahkan lebih aspiratif sapaannya dari wakil-wakil rakyat kita yang belum tentu masuk pedesaan, minum teh bareng masyarakatnya atau sesekali ronda dan udud bareng di siskamling bersama bocah-bocah putus sekolah. Dulu Wahweh menemani anak-anak SD, menghibur mereka. Membuat gembira siapapun yang menyapanya. Bahkan sesekali rela dilempari kerikil.
Ada Tolib di pasar Pesayangan yang selalu tersenyum lepas. Kerjaannya hanya tersenyum dan tersenyum. Kabarnya dia merokok sampai habis hingga spons-spons filternya. Tidak membuang percuma udud yang dia dapatkan. Satu yang selalu saya ingat mengenai Tolib adalah dia selalu membawa arang kemanapun dan menggambar sepeda onta, pit onthel. Ini kejadian sekitar tahun 1996 sebelum meletus reformasi dan lain sebagainya. Mungkin saja isyarat Go Green sudah dicetuskan oleh Tolib tapi kita kurang awas. Arang adalah symbol yang digemborkan sebagai Karbon entah REDD, entah Carbon Stock, Carbon Trade, dengan berbagai bahasa penelitiannya. Tolib telah menginstruksikan penggunaan sepeda bahkan sebelum bike to work, atau car free day populer.
Wong edan kadang menjadi strata tinggi dalam penegakan agama yang terlalu mapan dalam fisik dan ritual saja. Apalagi setelah orang-orang beramai-ramai memegang kausalitas (hukum sebab akibat) sebagai pegangan bahkan setelah memeluk agama. Padahal lebih banyak hal diluar nalar yang terjadi. Sebab Tuhan yang diluar akal ikut terlibat. Beberapa kisah gila ini terjadi di Persia sebagai peringatan kepada orang-orang yang telah mapan:
Terdapat orang gila yang tidak ikut ambil bagian dalam jamaah shalat. Di hari Jum’at, dengan penuh kesulitan, orang-orang membujuknya untuk hadir. Tetapi ketika sang Imam memulai, orang gila tersebut justru melenguh seperti lembu jantan. Orang-orang menyangka bahwa ia hanya sedang kambuh lagi gilanya, tetapi pada saat yang sama ingin membantunya. Sesudah shalat mereka menegurnya:
“Apakah engkau tidak berpikir tentang Allah, engkau bersuara seperti seekor binatang di tengah-tengah shalat jamaah?”
Si orang gila menjawab:
“Aku hanya melakukan apa yang dikerjakan Imam. Ketika ia mengimami, ia membeli seekor lembu, maka aku pun bersuara seperti seekor lembu!”
Ketika jawaban aneh ini disampaikan kepada sang Imam, ia mengakui:
“Ketika aku menyebut Allahu Akbar, aku sedang memikirkan pertanianku. Dan ketika sampai pada Alhamdulillah, aku berpikir bahwa aku akan membeli seekor lembu. Pada saat itulah aku mendengar suara lenguhan.”
Pernah di Persia juga terjadi seseorang menghampiri orang gila yang sedang menangis dalam kesedihan yang memilukan.
Ia bertanya: “Mengapa engkau menangis?”
Orang gila menjawab: “Aku menangis untuk menarik belas kasihan hati-Nya.”
Yang lain berkata kepadanya: “Ucapanmu bohong, karena Dia tidak memiliki hati lahiriah.”
Orang gila menjawab: “Engkaulah yang salah, karena Dialah pemilik segala hati.”
Di tanah Jawa sendiri tidak kurang cerita tentang membaca wong edan ini. Ratusan cerita tentang perihal di balik orang-orang gila beredar dengan luas. Mbah Yai Hamid, seorang ulama masyhur dari Pasuruan pernah menitipkan salam pada tamunya dari Kendal untuk disampaikan pada wong edan pasar Kendal. Kemudian dengan terheran-heran orang itu menyampaikan salamnya. Dan wong edan itu ngamuk pada tamu Mbah Hamid itu sambil memaki-maki dan misuh-misuh: “aku konangan”. Setelah itu orang gila tersebut bersyahadat dan kemudian wafat. Diketahui kemudian, dialah yang menjaga Kendal dari musibah-musibah dan bencana. Tapi siapa yang percaya?
Bagaimana dengan Layla Majnun, kisah yang benar-benar terjadi? Imam Junaid dan dialog bersama seorang gila dari pasar? Rumi dan Tabriz? Bagaimana dengan wong edan-wong edan lain? Kinem, Wahweh, Tolib, yang mereka tak punya apa-apa kecuali ketulusan. 

Bagaimana dengan Gus Abubakar di Pasuruan di Pondok Metal yang dengan nuraninya mengumpulkan wongedan-wongedan yang dibuang dari jalan? Mengumpulkan mereka-mereka yang tersisih dari dunia waras kausalitas.
Saat ini dan nanti saya dan satu teman saya yang radan edan sedang mengumpulkan potret-potret mereka dimanapun kami jalan-jalan dan menemuinya. Ide ini dimulai ketika tahun 2012 dalam kunjungan kami ke RSJ Bogor untuk sekedar mampir membaca wong edan. Kami ditolak karena secara administrasi tidak ada surat resmi, sudah terlalu sore, dan tidak ada tujuan apa-apa kecuali silaturrahim dan diam-diam mohon doa pada mereka. Sebab sebelum cinta menjadi terlalu gila, kepada siapa lagi kita harus belajar? []
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang