Mengemban Misi Suci dengan Sikap Moderat [1 – Misi Suci]

1 May 2014

"Kita berada di jalan tengah atau bersikap moderat ketika kita bisa menerima berbagai ragam sudut pandang, sebagaimana kata ‘wasath’ mampu menerima beragam pemaknaan."


Habib Ali Zainal Abidin al-Jufri – Tabah Foundation Abu Dhabi

Pertama-tama, sangatlah penting bagi kita untuk memahami bahwa Islam adalah agama yang ‘direstui’ Allah untuk menghubungkan seluruh makhluk menuju-Nya. Bukan suatu agama dengan hal-hal yang patut dicurigai atau dipersalahkan.

Namun, apa yang terjadi saat ini? Banyak tudingan miring terhadap Islam yang dihembuskan media massa. Berita yang dibuat-buat dan direkayasa. Kita tak perlu khawatir dengan tuduhan-tuduhan palsu semacam itu. Justru, tuduhan yang seharusnya kita cemaskan adalah; kita tidak menyampaikan risalah Allah melalui Islam dengan cara yang benar.

Siapapun dari kita, setiap muslim, harus menyadari bahwa kita diembani misi suci. Yakni risalah Islam yang diwariskan Rasulullah. Semakin rusak kondisi sosial di lingkungan sekitar, semakin besar tekanan yang kita dapatkan, maka makin jelas bahwa kita mengemban misi suci.

Ketika ada pihak luar –siapapun itu- yang menyerang agama kita dengan berbagai caranya, jangan buru-buru terpancing. Tingkah mereka itu sejatinya sedang ‘menantang’;

“Aku sedang menuntut balas! Karena kalian –hai Umat Islam- tidak melaksanakan kewajiban kalian. Kalian mengemban ‘permata yang sangat indah’ (cahaya Ilahi) namun kalian tak membaginya kepada kami!”

Maka pada masa ini, adalah masa bagi kita untuk bangkit! Di barat pun timur, kita semua adalah umat pengemban misi suci! Sebuah misi yang berasaskan penghambaan kepada Allah, untuk menghidupi kehidupan dengan beribadah kepada-Nya. Sebagai suatu umat kepercayaan Tuhan untuk mengemban misi, maka kita semestinya memantaskan diri dengan karakteristik umat yang tertoreh dalam kitab suci,

“Dan kami telah menjadikanmu umat wasath untuk menjadi saksi atas umat manusia dan Rasul menjadi saksi atasmu,”

Umat ‘wasath’, pertengahan, seimbang, moderat. Jika kita tak bisa menjadi umat yang moderat, maka sama sekali kita takkan bisa mengemban misi suci ini seumur hidup. Maka kita harus pahami betul apa itu sikap moderat (wasathiyyah).

Beberapa orang bertanya, mengapa banyak sekali pergunjingan tentang Islam setelah tragedi 11 September? Kita mulai bertanya-tanya adakah konsep moderat, toleransi, akhlaq, kebaikan dan keindahan dalam Islam?
Padahal sudah jelas tertera di dalam Al-Qur’an bahwa kita semestinya menjadi umat yang moderat. Lalu sudahkah kita bersikap demikian? Mari kita pahami dulu apa itu moderat.

Dalam bahasa Arab, kata ‘wasath’ menunjukkan jarak yang sama antara dua sisi, sebagaimana diterangkan dalam al-Misbah. Untuk itulah, kata ‘tawsith’ yang berakar dari kata ‘wasath’ digunakan untuk menunjukkan aktivitas membagi sesuatu menjadi dua bagian dengan ukuran yang sama.

‘Wasath’ bisa juga berarti suatu posisi dengan sisi-sisi yang mengelilinginya. Imam al-Nasafi (w. 642/1245) menyatakan bahwa kejahatan selalu dimulai dengan menggerogoti sisi-sisi itu terlebih dahulu. Jika kita berada di tengah, maka proses kejahatan takkan bermula dari kita, meskipun pada akhirnya kitalah yang bakal terakhir terkena dampaknya.

Imam al-Qurthubi (w. 671/1272) mengatakan dalam tafsirnya,
“..dengan alasan inilah, bahwa karakter umat ‘wasath’ diletakkan di antara ayat-ayat yang menyatakan perpindahan kiblat dari Yerusalem ke Ka’bah. Sebab Ka’bah terletak tepat di tengah-tengah bola bumi (umbilicus mundus).”

Kiblat sebagai arah menghadap di saat kita Shalat berada di tengah-tengah bumi, maka kitapun semestinya bersikap ‘pertengahan’, moderat dalam kehidupan umat manusia di muka bumi. Adapula istilah ‘Tawassuth’ yang berarti upaya untuk memadukan dua pandangan yang berbeda.

Imam al-Thabari (w. 310/923), dalam tafsirnya, mengatakan bahwa ‘wasath’ berarti penengah antara Rasulullah dengan umat. Maksudnya, posisimu sebagai penyampai (dai) risalah Rasulullah kepada orang-orang yang belum mendapatkannya. Jadi posisi umat ini berada di antara Rasulullah dengan umat manusia. 

Nah, sekarang terserah kita, apakah menjadi penghubung antara Rasulullah dengan umat manusia, ataukah justru menjadi penghalang antara beliau dengan mereka.

‘Tawassuth’ juga bermakna menggenggam kebenaran dan keadilan. Maka sudah seharusnya umat moderat dalam segala hal mendasarkan sikapnya kepada kebenaran, bukan berdasarkan ego maupun hawa nafsu. Juga bermakna adil, jika kita tak bisa berlaku adil di tengah keluarga, tetangga, kawan, organisasi, rekan kerja, dan musuh maka kita sama sekali tak bisa bersikap moderat.

Kata ‘wasath’ juga menunjukkan pada bagian terbaik dalam segala hal, berada di antara dua kutub ekstrim yang bertentangan. Ia menjadi puncak yang terletak di antara jurang boros dan jurang kikir.

Terakhir, kata ‘wustha’ juga biasa bermakna jari tengah. Suatu hikmah Ilahiyyah, umumnya jari tengah berukuran paling panjang di antara semua jari. Maka, orang yang mampu bersikap moderat, penengah, ia akan berdiri di posisi tertinggi dan termudah memperbaiki keadaan.

Nah, kalau kita memperhatikan beragam makna yang muncul dari kata ‘wasath’, maka esensi utama dari sikap moderat (wasathiyyah) adalah keberagaman itu sendiri. Maksudnya, kita berada di jalan tengah atau bersikap moderat ketika kita bisa menerima berbagai ragam sudut pandang, sebagaimana kata ‘wasath’ mampu menerima beragam pemaknaan. Dan sekali lagi, kata ‘wasath’ inilah yang menggambarkan karakter umat Islam sebagai pengemban misi suci. [Zq]

~ Lalu bagaimana landasan sikap moderat serta bagaimana mempraktekkannya di zaman ini? Bersambung ke bagian [2 – Landasan]

*Sumber: Transkrip ceramah beliau di The Radical Middle Way, Inggris. www.with-the-truthful.blogspot.com
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang