Mengemban Misi Suci dengan Sikap Moderat [2 – Landasan]

1 May 2014

Habib Ali Zainal Abidin al-Jufri – Tabah Foundation Abu Dhabi

Habib Ali Zainal Abidin al-Jufri

Untuk lebih memahami konsep ‘wasathiyyah’, maka kita harus menelusur akar karakter ini kepada dua landasan asal, yakni; doktrin akidah dan keyakinan hati.
Landasan Pertama; Akidah.

Adanya penyelewengan doktrin sudah bermula di zaman Rasulullah. Yakni tentang sekelompok orang yang berpuasa, shalat sepanjang malam, serta ikut berperang, namun memiliki pandangan bahwa hanya merekalah yang benar. Puncaknya, Dzul Khuwaysira mendatangi Rasulullah saat beliau membagi ghanimah. Ia berucap kepada Rasulullah,
“Ini pembagian yang tidak adil, tidak sesuai perkenan Allah. Bertakwalah dan berlaku adillah!”
Hal ini terjadi pula pada masa kepemimpinan Sayyiduna ‘Ali bin Abi Thalib. Orang-orang Khawarij duduk bersama beliau dan mendengarkan ceramahnya. Lalu ketika mereka pergi, mereka saling berbisik, “Betapa pandainya Si Kafir itu.”
Inti sikap moderat terletak pada akidah. Kita meyakini bahwa segala gambaran tentang Allah adalah perumpamaan, bukan sebagai penggambaran bentuk fisik bagi-Nya (tajsim, anthropomorphism). Kita berada pada posisi mengikuti satu nabi sekaligus mengimani para nabi yang lain. Kita berdiri di antara kaum yang membunuh para nabi dan kaum yang menjadikan nabi sebagai tuhan.
Kita berada di posisi mengupayakan kehidupan duniawi sekaligus ukhrawi. Keimanan kita terhadap akhirat tidak mencegah kita untuk bekerja di alam dunia. Tidak pula aktivitas duniawi menghalangi ibadah kita untuk kehidupan di akhirat. Nah, doktrin yang kita imani sungguh mencerminkan keseimbangan, moderat.

Landasan Kedua; Hati.
Keseimbangan, sikap moderat, harus berpondasi pada keyakinan di dalam lubuk hati kita masing-masing. Bukan berpondasi pada emosi ataupun identitas suatu kelompok, karena itu akan mudah goyah. Sedangkan sikap moderat yang berasal dari lubu keyakinan hati takkan tergoyahkan.
Sikap moderat yang kita lakoni berdasarkan pada hal yang tak terbantahkan. Orang yang membantahnya berarti bukan muslim. Dasar itu adalah al-Qur’an, bukan suatu gagasan yang muncul dan hilang seiring silih bergantinya generasi. Siapapun yang membantah keseimbangan (wasathiyyah) maka ia membantah prinsip dasar di dalam al-Qur’an. Hal ini harus kita pahami sepenuhnya sebagai bagian dari akidah.

Sikap Moderat dalam Perlawanan

Mempertahankan diri melawan penjajah adalah kewajiban dalam hukum kita. Adalah penting bagi setiap muslim, dimanapun, agar tidak malu-malu menyatakan bahwa agama kita memberikan hak dan kewajiban bagi kita untuk melawan siapapun yang bertindak dzalim. Dengan syarat, kita tidak melakukan kedzaliman serupa terhadap orang-orang yang tak bersalah.
Namun harus kita tegaskan. Perlawanan tidak boleh didasarkan pada kemarahan untuk membalas dendam, melainkan untuk mengabdi dan mendekatkan diri kepada Allah. Serta dalam melawan, harus memperhatikan aturan-aturan yang berlaku.
Ada sahabat bertanya, “Seorang lelaki membunuh atas nama keberanian, seorang lainnya karena marah, dan seorang lagi demi ketenaran. Mana di antara mereka yang membunuh di jalan Allah?”
Rasulullah menjawab, “Ialah dia yang bertempur untuk meninggikan kalimat Allah.”
Jadi, di antara tiga orang yang ditanyakan sahabat itu tak satupun yang termasuk dalam kategori ‘fi sabilillah’. Melainkan ia yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, itupun harus sesuai aturan Allah. Bagaimana bisa seseorang bertempur demi Allah namun dengan cara melanggar aturan-aturan-Nya?
Dalam hadits sahih, seorang sahabat bertanya, “Apakah dibenarkan bagiku untuk membunuh seseorang yang telah memotong tanganku saat berperang, lalu bersembunyi di balik pohon, kemudian bersyahadat dan masuk Islam?”
Memahami dendam yang diutarakan sahabat ini, Rasulullah menjawab, “Tidak. Jika kau membunuhnya, kau berada di posisinya seperti saat dia menyerangmu. Sedangkan dia berada di posisimu seperti saat belum membunuhnya.”

Inilah agama kita. Sangat menekankan niat di dalam hati terhadap segala sikap dan perbuatan. Sikap moderat dan seimbang adalah buah dari kokohnya iman. Dan sikap semacam ini akan menyelamatkan kita dalam berbagai situasi.
Kita telah melihat berbagai perang di Eropa, Arab, Timur dan Barat, menghalalkan segala cara sebagai bentuk pengorbanan. Mereka saling bunuh, ribuan nyawa melayang. Berapa banyak korban pada Perang Dunia II? Mengapa masing-masing pihak tak mampu menahan diri? Mengapa begitu sulit bagi banyak orang untuk menjaga sikap dan perilakunya? Tentu karena mereka adalah manusia.

Dan manusia, jika marah, tak bisa mengendalikan diri mereka. Oleh sebab itulah kita butuh keseimbangan, sikap moderat. Sikap ini bukan sekedar tema untuk didiskusikan, tetapi sudah menjadi konsep keimanan yang diajarkan di dalam agama kita. Jadi, ketika kemarahan muncul dari ego manusiawi kita, maka keyakinan di dalam hati mengendalikan diri kita untuk menuju titik keseimbangan dalam bereaksi, yakni bersikap moderat.

*Bersambung ke bagian [3 – Masa Kini]
*Sumber: Transkrip ceramah beliau di The Radical Middle Way, Inggris.
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang