Menjaga Keutuhan NKRI

26 April 2014

Oleh: Isma’il Fajrie Alatas – University of Michigan

Terkadang sedih melihat perkembangan di NKRI, khususnya semakin semaraknya kelompok Islam yang kurang bisa menyikapi perbedaan. Setelah berada di Jawa selama 2 tahun, saya melihat di akar rumput kelompok-kelompok Islam berhaluan Wahhabi-Salafi semakin menguat. Mayoritas penganut Ahlussunnah Waljama’ah (Aswaja) banyak yang terbuai dengan demografi. Seakan-akan kita akan terus mayoritas dan di atas angin. Kaum intelektual lebih suka terbuai di forum akademi, masjid-masjid dimasuki oleh kelompok salafi-wahhabi.


Di Jogja saya menyaksikan baliho besar: menyediakan penceramah dari kelompok itu untuk masjid-masjid selama bulan puasa gratis. Di kampus, masjid-masjid dikuasai mereka, hingga saya merasa seperti orang asing saat memasukinya. Ratusan buku terjemahan dan ribuan website yang menyuguhkan dalil ini dan itu membanjiri kehidupan kita.

Di jalanan saya menyaksikan kaum lelaki bercelana cingkrang, berjanggut panjang tapi jarang. Matanya pecicilan, jidatnya hitam kelam. Tersenyum pun sepertinya susah sekali. Di Pekalongan saya mendengar pengajian yang dikeraskan speaker mengusik kedamaiaan pagi berisikan hinaan kepada kepercayaan Aswaja. Di kota yang sama digelar pameran buku. Ketika saya datang, isinya buku-buku bernafaskan salafi-wahabi semua.

Apa sebenarnya yang terjadi di NKRI? Apakah ada skenario besar untuk mengubah bentuk keislaman yang selama ini kita anut? Apakah tradisi yang telah diturunkan oleh para ulama, kyai, dan haba'ib kita sedang diberangus secara sistematik? Dlm kegusaran itu saya teringat apa yang terjadi di Mali, Syria, Mesir, dan Libiya. Di negara-negara yang dahulu diperintah oleh rezim otoriter dan telah digulingkan, justru salafi berkuasa. Dulu, pd saat pemimpin otoriter masih ada, justru keislaman aswaja terjaga. saat demokrasi, kok justru salafi yang berkuasa.

Di Mali ada kota Timbuktu. Semenjak abad ke-15 sudah menjadi pusat ilmu pengetahuan keislaman. Timbuktu dipenuhi pesantren, perpustakaan manuskrip, dan 300 kuburan wali. Di Timbuktu masyarakat non-Muslim dijamin kebebasannya. Dihormati keberadaannya. Mereka bebas mau apa saja. Namun ketika negara mulai lemah dan digerogoti pemberontak salafi, Timbuktu diduduki oleh para pemberontak. Kuburan para wali dihancurkan. Banyak manuskrip kuno dibakar. Alhamdulillah banyak juga yang berhasil dilarikan. Pesantren-pesantren ditutup, ulama-ulamanya harus melarikan diri. Umat Nasrani dipaksa berhijab dan ditekan kebebasannya. Ajaran yang dahulu diturunkan oleh para ulama utk hidup rukum antar sesama ummat, diberangus. Digantikan rezim agama bencana.

Sebuah peradaban besar yang dibangun diatas pengorbanan para ulama dari berabad-abad silam dihancurkan begitu saja.

Sepertinya ada tren yang dapat dibaca dari semua kasus kuatnya salafi: di saat negara lemah, salafi menguat.

Disetiap tempat yang struktur kekuasaan negaranya lemah, salafi muncul, ambil peranan: Mali, Nigeria, Somalia, Syria, Libia, Iraq. Saya khawatir upaya yang sama juga akan dilancarkan utk melemahkan NKRI. Saya takut keberadaan NKRI digoyahkan. Saya khawatir jika kerukunan bangsa ini dipecah belah dan akhirya justru melemahkan negara ini.

Saya sedih melihat kaum Muslimin Aswaja dan NU diadu domba dengan saudaranya yang Syiah. Saya takut kita semua termakan oleh isu-isu yang sengaja terus didengungkan di sekitar kita. Saya khawatir jika kepercayaan kita kepada pemerintah (siapapun yang mendudukinya) hilang, wibawa institusi negara ikut goyah. Jalan satu-satunya utk mencegah menjalarnya salafi-wahhabi bagi saya bukan justru memusuhi mereka.

Jalan menyelamatkan bangsa bukan justru kembali bersikap intoleran kepada kaum yang tidak memiliki toleransi. Mungkin jalannya justru bagaimana kita membangun kembali semangat nasionalisme kita. Semangat kebangsaan yang terbebas dari politik. Politik adalah urusan pribadi dan hak setiap warga negara. Namun nasionalisme dan kebangsaan adalah tanggung jawab kita bersama.

Saya takut jika perbedaan politik kita justru melemahkan nasionalisme dan solidaritas kebangsaan. Presiden, gubernur, bupati, lurah, semuanya harus tetap dijaga martabatnya. Bukan karena orangnya, tetapi karena kedudukannya. Mereka boleh org partai, tp sebagai pemangku jabatan kenegaraan, mereka harus mengedepankan bangsa.

Begitu juga kita, kita boleh tidak cocok dengan sebuah calon bupati, gubernur dan selainnya. Tapi setelah dia menang pemilu, tetap harus didukung. Jangan sampai ketidaksukaan kepada pemangku jabatan berdampak pada melemahkan jabatannya. Di sini kita harus dewasa. Tidak ada lagi pilihan bagi mayoritas umat Islam, khususnya yang Aswaja, selain memperkuat nasionalisme kita.

Umat Islam yang cinta pada tradisi dan guru-gurunya sudah seharusnya angkat bicara tentang nasionalisme dan kebangsaan. Sudah cukup para kyai, ulama dan haba'ib mengajarkan umat tentang surga dan neraka. Sekarang saatnya mengajarkan kebangsaan.

Dan jangan sampai kita termakan oleh isu-isu yang memecah antara golongan santri dan golongan nasionalis. Itu omong kosong.

Golongan santri dan umat Islam pada umumnya adalah kelompok nasionalis juga. Kecintaan kita pada Islam justru memperkuat cinta kepada NKRI. Kini saatnya kita kembali berdiri di panduan ibu pertiwi. Kini saatnya menyelamatkan NKRI. Jangan sampai kita terlelap tidur dan terbangun di Indonesia yang sudah mirip dengan Afghanistan jaman kekuasaan Taliban.

Usahakan, di setiap majelis, pengajian, mawlid, tahlilan, selametan, sempatkan berbicara tentang wawasan kebangsaan. Menjaga bentuk keberagamaan kita justru dengan menjaga keutuhan negara kita. Di saat negara kuat, berdaulat, dan berwibawa, insyaallah gerakan-gerakan salafi-wahhabi dan semacamnya akan melemah.

Mari berdoa, mudah-mudahan Indonesia tetap menjadi Indonesia. Tidak menjadi Iraq, Iran, Libya, Mali, Afghanistan dan semacamnya. Kita juga berdoa semoga Indonesia tidak menjadi Amerika Serikat, Eropa, atau Australia. Indonesia ya Indonesia. Kita bangsa besar. Di NKRI agama menjadi pendorong semangat kebangsaan, bukan justru melemahkan.

Mari hindari benturan dengan kelompok yang tidak sepaham. Biarkan saja mereka. Yang penting kita perkuat semangat kebangsaan kita. Di masa-masa seperti ini, di saat masa depan bangsa ini sedang dibentuk ulang, kita harus tetap optimis bahwa bangsa ini pasti bisa! Jangan putus asa dengan rahmat Tuhan. Tuhan menyayangi bangsa yang selama ini dimanjakan-Nya.

Mari sebarkan kasih sayang kebangsaan. Sebagai penganut ahlus sunnah wal jamaah, kita wajib mempertahankan NKRI dan kebhinekaan yang dinaunginya. Menjaga NKRI berarti juga menjaga tradisi Islam yang telah diturunkan oleh para kiai dan haba'ib kita dari jaman wali-wali terdahulu. Sebagai murid dan sebagai penerus guru-guru, wajib bagi kita untuk mempertahankan kelanggengan tradisi keIslaman yang ada.

Maka, menjaga NKRI dan keragaman bangsa berarti juga berkhidmat kepada guru-guru kita dan para wali terdahulu. Mudah-mudahan tidak ada lagi dikotomi antara Islam versus Nasionalis. Dikotomi yang salah kaprah. Islam ya extra-nasionalis.

Mudah-mudahan Tuhan memberkati bangsa ini, menjaga NKRI dan menjauhkannya dari unsur-unsur yang bertujuan merusaknya. Kata guru saya, Habib Luthfi bin Yahya,

“Merah putih melekat di dada, disinari pancaran imannya, dimanapun kita berada, tetap cinta Indonesia!” []

*Sumber: Chirpstory
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang