Mujahid Gadungan

9 April 2014

Diriwayatkan, bahwa Amirul Mukminin Khalifah Umar bin Abdul 'Aziz pernah mengutus pasukan untuk menundukkan tanah Rum. Saat itu, 20 orang tentara Islam ditawan oleh musuh. Suatu hari, para tawanan itu dikumpulkan di lapangan dan ditonton oleh banyak orang untuk dieksekusi.

Kemudian, Sang Raja dari pihak musuh memanggil satu dari mereka dan berseru, “Kalau kau mau masuk ke dalam agamaku, menyembah para dewa dan meninggalkan keyakinanmu, Agama Islam, kau tidak akan kubunuh, melainkan akan kuberi kau kedudukan yang tinggi dengan kehidupan yang mewah. Tapi jika tidak, sekarang juga akan kupancung kau, disaksikan semua orang yang ada di sini!!”

“Tidak akan kujual agamaku dengan dunia! Lebih baik mati dalam Islam daripada hidup tapi kufur!!” Jawabnya dengan tegas. Mendengar jawaban ini, langsung ditebaslah leher si tawanan. Kepalanya terpisah dari badan dan menggelinding memutari lapangan sambil membaca ayat;

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (surat Al-Fajr; 27 – 30)

Melihat kejadian ini, Sang Raja marah, lantas dia memanggil satu tawanan lagi dan menawarkan hal yang sama. Namun lagi-lagi dengan tegas, Sang Mujahid menolak seraya menjawab,

“Tak akan kujual agamaku yang luhur dengan jabatan duniawi yang hina! Lebih baik mati membela Agama Islam daripada berkedudukan tinggi di dunia tapi kufur!”

Seketika itu, langsung ditebaslah lehernya, kepalanya terlepas dan menggelinding mengelilingi lapangan tiga kali sambil membaca

“Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi,” (Surat Al-Haaqqah; 21-22)

Kemudian kepala yang mulia ini berhenti tepat di sisi kepala tawanan yang pertama. Melihat hal itu, Sang Raja makin marah dan memanggil satu lagi tawanan lainnya.

“Hai! Bagaimana denganmu??!! Pilih mati seperti teman-temanmu atau hidup sejahtera menjadi Panglimaku??!! Jika kau ingin hidup bahagia, tinggalkan Islam! Ikuti agamaku! Jawab!”

Tanpa berpikir panjang, tawanan ketiga ini menjawab, “Baiklah Tuanku, saya akan turuti permintaan Tuan, asalkan Tuan memberikan segala yang Tuan janjikan. Saya ikut berperang ini pun karena saya mengharapkan harta rampasan dan jabatan yang tinggi kelak.”

“Oo bagus, bagus…” Raja pun tersenyum seraya memanggil wazir (perdana menteri)nya, “Wazir! Siapkan perjamuan! Kuangkat orang ini menjadi panglimaku!”

Wazir pun ragu, “Tuanku, bagaimana mungkin kita begitu saja mengangkat orang asing sebelum kita uji kesetiaannya?”

“Ya, kau benar, Wazir.. lantas bagaimana cara menguji kesetiaannya??” Sahut Sang Raja.

Sambil berbisik, Wazir itu menyampaikan usulannya kepada Sang Raja, terlihat Sang Raja mengangguk-angguk tanda setuju…

Singkat cerita, tawanan ini diperintahkan untuk membunuh salah seorang temannya dari 17 tawanan yang tersisa sebagai bukti kesetiaannya. Ternyata tawanan ini menurut, ia bunuh salah seorang tentara muslim yang menjadi tawanan. Raja tambah tersenyum lebar,

“Lihatlah Wazir! Dia begitu setia kepada kita! Tak diragukan lagi! Segera siapkan perjamuan!”

Namun lagi-lagi wazir tak sependapat, “Maaf Tuanku, menurut saya justru sebaliknya. Jika orang ini sudah mau membunuh temannya sendiri, yang sebangsa, senasib dan seagama, apalagi kepada kita! Tidak mustahil nantinya dia akan mengkhianati kita. Maka menurut saya lebih baik orang ini kita singkirkan saja.”

“Oh, ya! Kau benar Wazir! Kau benar!”

Tak menunggu lama, tawanan kufur ini akhirnya juga dipancung bersama kekufurannya. Ditebaslah lehernya, kepalanya menggelinding mengelilingi lapangan tiga kali sambil terdengar ayat;

“Apakah (kamu hendak merobah nasib) orang-orang yang telah pasti ketentuan azab atasnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang yang berada dalam api neraka?” (Surat Az-Zumar; 19)

Kepala tawanan yang terlaknat ini berhenti jauh dari dua kepala teman-temannya yang mulia. []

*Sumber: Syu’abil Iman Syaikh Nawawi al-Bantani
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang