Sedekah Nyasar

9 April 2014

Suatu ketika ada seorang pria muda -sebutlah ia bernama Amir- mendengar hadits-hadits dan ayat tentang mulianya bersedekah di jalan Allah, betapa mulianya berinfaq dengan shadaqatussir (sedekah secara sembunyi-sembunyi). Sebagaimana hadits Rasulullah saw.,

“Sedekah dengan sembunyi-sembunyi memadamkan kemurkaan Allah.” (HR Thabrani, dengan sanad Hasan).

Maka bangkitlah dalam hati Amir niat luhur untuk melakukannya, ia merasa telah banyak bermaksiat dan ia merasa ibadah-ibadahnya tak cukup untuk memadamkan kemurkaan Allah swt., maka ia pun mulai mengumpulkan hartanya. Setiap ia mendapat untung dari pekerjaannya selalu ia sisihkan untuk bersedekah secara sembunyi-sembunyi, siang malam ia terus berusaha dengan gigih mengumpulkan uang. Setelah genap setahun lamanya, terkumpullah sejumlah uang dinar emas yang cukup banyak jumlahnya.

Malam itu Amir menaruh seluruh uangnya itu dalam kantung besar, lalu ia berpakaian gelap dan penutup wajah hingga tak seorangpun mengenalinya, ia berjalan ditengah malam yang sunyi. Di jalanan, ia melihat seorang wanita yang tertidur di emper jalan, maka ia lemparkan kantong uangnya pada tubuh si wanita, wanita itu pun kaget terbangun, dan hanya menyaksikan pria bercadar itu lari terbirit-birit.

Amir membatin dalam hatinya, “Ah, wanita itu pasti berharap isi kantung itu adalah makanan, padahal sekarung uang dinar.. Wah.. Dia pasti gembira dan mendoakanku.. Puji syukur atas-Mu Robbiy, aku lelah setahun mengumpulkan uang untuk hal ini.., semoga Engkau menjadikannya shadaqah rahasia yang kau terima..”

Keesokan harinya, hebohlah kampung itu dengan kabar bahwa seorang wanita pelacur mendapat sekantung uang dinar emas ketika sedang menunggu pelanggannya. Mendengar berita itu maka Amir terhenyak lemas, “Subhanallah.. pelacur?? Sedekahku yang kukumpulkan setahun ternyata ditelan pelacur! Ah.. sedekahku tak diterima oleh Allah.. Hanya menjadi santapan wanita pezina dan penyebab orang berzina… naudzubillah…”

Amir muram dan sedih.. Namun ia tetap penasaran, ingin agar sedekahnya diterima oleh Allah dan tak salah alamat, maka ia mengumpulkan harta dengan lebih gigih lagi hingga setahun lamanya, setelah harta terkumpul ia membeli sebanyak-banyaknya perhiasan emas dan berlian, terkumpullah sekarung perhiasan beragam corak dan jenis.

Amir puas memandang jerih payahnya.., iapun mengulangi perbuatannya, menggunakan penutup wajah dan membawa karung perhiasan itu ditengah malam.., tiba-tiba ia melihat seorang lelaki setengah baya yang sedang berjalan ditengah malam, wajahnya tampak kusut dan penuh kegundahan, maka Amir pun melemparkan karung itu pada si lelaki dan berkata, “Terimalah sedekahku..!?” lalu ia pun lari terbirit-birit, agar lelaki itu tak mengenalinya.

Keesokan harinya, lagi-lagi kampung itu gempar, “Semalam ada seorang perampok yang ketiban rejeki sekarung perhiasan dari lelaki misterius!” ah..ah.. Amir sangat lesu, “Dua tahun sudah kukumpulkan uang dengan susah payah, tapi selalu salah alamat.” Namun Amir masih juga penasaran.., ia kembali kumpulkan uang.. berlanjut hingga setahun, maka ia berbuat seperti tahun yang lalu lalu, menaruh uang dinar emasnya di kantung kulit, lalu berjalan ditengah malam.

Ia melihat seorang tua renta yang berjalan tertatih sendirian. “Nah.. ini pasti tak salah alamat..” gumam Amir. Lantas ia pun memberikan kantung penuh dinar emasnya pada kakek renta itu dan lari.

Keesokan harinya kampung itu lebih gempar lagi, ada seorang kakek yang menjadi orang terkaya di kampung itu mendapat sedekah sekantung emas dinar! Maka Amir pun roboh, ia kapok. Berarti memang ia adalah pria busuk yang sedekahnya tak akan diterima oleh Allah, tiga tahun ia berjuang namun Allah menghendaki lain.., Amir pun berdoa, “Robbiy, jika Engkau memang menerima sedekahku itu, maka tunjukkanlah…”

Jaman terus berlanjut tanpa terasa, puluhan tahun kemudian Amir sudah tua renta, di usia senjanya ia mendengar ada dua orang ulama kakak beradik, keduanya menjadi ulama besar dan mempunyai ribuan murid. Ternyata, kedua ulama itu adalah anak yatim, ayah mereka wafat saat mereka masih kecil, lalu karena jatuh miskin maka ibunya terpaksa melacur untuk menghidupi anaknya, malam itu ibunya bermunajat pada Allah,

“Robbiy, kuharamkan rizki yang haram untuk anak-anakku, malam ini berilah aku rizki-Mu yang halal..” Lalu Ibu itu tertidur di emper jalan, tak disangkanya ada seorang misterius yang melemparkan sekantung uang dinar emas padanya, lelaki itu menutup wajahnya dengan cadar, maka sang Ibu gembira, bertobat, dan menyekolahkan anaknya dengan uang itu hingga kedua anaknya menjadi Ulama besar dan ribuan muridnya.

Air mata menetes membasahi kedua pipi Amir yang sudah tua renta,

“Oh.. Sedekahku itu ternyata diterima Allah.. dan pahalanya dijaga Allah hingga terus mengalir lantaran anak-anak permpuan itu menjadi ulama dengan uang sedekahku, dan memiliki murid ribuan pula, Maha Suci Allah.. Dia tidak menyia-nyiakan jerih payahku.. namun apa nasibnya dengan sedekahku yang tahun kedua?”

Belum lama Amir membatin, datang pula kabar bahwa seorang Wali Allah baru saja wafat. Dikisahkan bahwa dulu dia adalah perampok, suatu malam ia dilempari sekarung perhiasan oleh pria misterius, lalu ia bersyukur kepada Allah, sadar akan kesalahannya, beribadah dan terus beribadah, meninggalkan kehidupan duniawi, berpuasa dan bertahajjud, hingga menjadi orang yang Shalih dan Mulia, sehingga wafat sebagai dengan mencapai derajat Waliyullah (kekasih Allah) dan banyak pula orang yang bertobat di tangannya.

Amir semakin cerah wajahnya dan semakin malu kepada Allah. Tak lama waktu berselang, sampai pula kabar padanya bahwa telah dibangun sebuah rumah amal, yang tak pernah sepi dikunjungi para pengemis, rumah amal itu selalu membagi-bagikan hartanya kepada para fuqara, rumah amal itu didirikan oleh seorang tua renta yang kaya raya di kampung itu. Awalnya, ia adalah orang tua kaya yang amat kikir, namun suatu malam ia dihadiahi sekantung uang dinar emas oleh pria misterius, lantas ia pun malu, “Orang seperti aku, yang kikir ini, masih saja disedekahi orang lain? Betapa busuknya aku ini.” Lalu ia infakkan seluruh hartanya untuk rumah amal.

Amir tak tahan menyungkur sujud kehadirat Allah swt., betapa luhurnya Dia Yang Maha Menjaga amalnya yang tak berarti hingga berlipat-lipat dan berkesinambungan, ah.. Amir benar-benar telah mencapai cita-citanya, yaitu sabda Rasulullah saw., “Sedekah secara sembunyi-sembunyi memadamkan kemurkaan Allah.”

Ia pun mendapatkan pahala yang terus mengalir tanpa henti, bagai menaruh saham dengan keuntungan berjuta kali lipat setiap kejapnya. Betapa tidak?! Apalah artinya sekantung uang dinar emas dibanding pahala sujud orang-orang yang bertobat?, dari harta dan keikhlasannya, terlahirlah ribuan penuntut ilmu dari Ulama bersaudara, terlahirlah ribuan pendosa yang bertobat di tangan seorang waliyullah, terlahirlah hamba yang bersyukur dan bersujud sebab dermaan harta seorang hartawan tua. Sedangkan kita mendengar hadits Rasulullah saw., “Dua raka’at Qabliyah Subuh lebih mulia dari dunia dan segala isinya.”

Lalu bagaimana dengan pahala yang bertumpuk dari sebab amal sedekahnya yang tak berarti itu?, betapa beruntungnya si pria ini, dan betapa mulia derajatnya, dan merugilah mereka yang kikir dengan hartanya, yang merasa bahwa makan dan minumnya lebih berhak didahulukan daripada menjadikannya perantara yang mendekatkannya pada Keluhuran yang Abadi, ah.. semoga aku dan kalian dikelompokkan sebagai penanam saham untuk meneruskan tegaknya Dakwah Nabi Muhammad saw, amiin. []

*Sumber: penjelasan kitab Al-Hikam oleh Al-Habib Umar bin Hafidh, pada pesantren kilat 40 hari pada Jumaditsani 1425 H di Darul Mustafa Tarim, Yemen. www.majelisrasulullah.org
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang