Habib Lutfi >>> Segala Puji Milik Allah, Bukan ‘Bagi’ Allah

21 April 2014

Habib Luthfi Bin Yahya - Kanzus Shalawat Pekalongan

Ketika kita memperoleh kenikmatan-kenikmatan dari Allah, sudah seharusnya kita mengucapkan puji sebagai bentuk syukur; Alhamdulillaah. Entah itu kenikmatan sekecil apapun sampai kenikmatan besar yang Allah berikan. Kenikmatan yang paling besar apa? Nikmat iman dan islam, itulah ni’mat yang paling agung.

Kenikmatan sekecil apapun tak lepas dari Allah. Di samping kenikmatan yang tampak bagi kita, ada pula kenikmatan yang tersembunyi atau bersifat sir, seperti orang bersin, orang wahing, orang kena pilek. Orang yang kena pilek yang bersin, mengapa disuruh mengucapakan alhamdulilllah? Karena didalam penyakit itu ada nikmat tersendiri, apa nikmatnya?

Setiap bersin, orang mengeluarkan ingus. Ingus itu bersumber dari otak kecil sampai ke ginjal. Mengapa orang bersin disuruh mengucapkan alhamdulillah? Orang yang bersin menggerakkan jantung kurang normal, itu satu, yang kedua menyetabilkan ginjal. Mengeluarkan segala unsur jenis penyakit yang membahayakan, seperti lepra, kusta dan lain sebagainya, walhasil penyakit-penyakit yang berat itu dikeluarkan pada saat kita bersin, makanya diperintahkan mengucapkan Alhamdulillah.

Nah oleh karena itu kita semua disuruh mengucapakan Alhamdulillah. Orang keluar ingus siapa yang tidak sumpek, tapi kenyataannya justru didalam kesumpekan kita itu ada kandungan penyakit yang luar biasa, dengan bersin penyakit itu keluar.

Maka kita disuruh untuk mengucapkan Alhamdulillah. Tapi perlu diingat, jangan kita berpendapat bahwa dengan pujian kita itu menguntungkan bagi Allah, sama sekali tidak. Maka disini kita mengatakan Alhamdulillah “segala puji milik Allah” bukan “bagi Allah”, apa perbedaannya milik dengan bagi.

Kalimat “puji bagi Allah” mengandung pengertian sudah ada yang memuji, yaitu makhluk yang diciptakan oleh-Nya. Kalau Allah Ta’ala tidak menciptakan makhluk-Nya, apakah tetap puji itu bagi Allah? Makanya yang tepat adalah segala puji milik Allah, sehingga kalau Allah Ta’ala tidak menciptakan makhlukpun, tetap segala puji milki Allah. Allah Ta’ala maha, tanpa dipujipun tetap maha dalam segala kesempurnaannya.


Seumpama Allah Ta’ala tidak ada yang memuji, ya tetap terpuji. Lalu dimana letak terpujinya kalaupun tidak menciptakan apa-apa? Yakni pada kekuasaan-Nya. Allah tidak menghendaki menciptakan dan tidak ada lainnya, itulah terpujinya Allah Ta’ala, sebab itu menunjukan hak-Nya Allah Swt; antara menghendaki menciptakan dan tidak menciptakan.

Kalau menciptakan, Ia terpuji karena itu ciptaan-Nya. Jika tidak menciptakan, Ia tetap maha sempurna. Kalau selain Allah, tidak menciptakan adalah kekurangan, dan justru setelah menciptakan, malah lebih kelihatan kekurangannya. Contohnya gampang, seseorang diberikan ilmu oleh Allah bisa membuat sepeda atau sepeda motor. Setelah jadi, si motor melaju, si pembuat tidak bisa mengejar laju motornya.

Mestinya dia harus menguasai kendaraan itu secara total. Itu bukti kekurangan dirinya. Yang kedua, tidak sekali-sekali dia membuat sepeda motor kecuali menunjukkan keterbatasan kemampuannya berjalan. Menunjukkan bahwa dia tidak bisa berjalan cepat, perlu alat bantu. Itu jelas tanda kelemahan.

Maka terbukti, tadinya sebelum menciptakan itu sudah kurang, tapi justru setelah menciptakan malah lebih menunjukkan kurangnya. Dan itu semua hal yang mustahil bagi Allah.

Banyak lagi contoh-contoh yang cukup unik. Ketika makan, kita diberi kekuatan oleh Allah. Tangan mengangkat, mengambil makanan dari piring, kita ambil nasi sesuap, kita masukkan ke dalam mulut, tapi ketika dalam mulut kita kunyah makanan itu, begitu ditelan, mampu apa kita kemudian? Bisa mengatur jadi daging? Bisa mengatur jadi darah merah atau darah putih semuanya? Bisa mengatur supaya jadi keringat berapa, yang jadi kotoran sedikit saja? Tidak.

Nah kita ditunjukkan hal-hal seperti itu oleh Allah. Setiap hari kita ditantang oleh Allah Ta’ala; ‘Ayo sampai dimana kemampuanmu, tunjukan pada-Ku mana rasa kuasamu!’ Akhirnya kita mengucapkan apa? Setelah kita menyadari tidak ada kemampuan, setiap selasai makan kita mengucapkan “Alhamdulillah”. Setelah kita sadar tidak mempunyai kemampuan apa-apa, kita kembali berbisik; “Alhamdulillah”. []
*Sumber: www.habiblutfiyahya.net
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang