Habib Lutfi >>> Isra Mi’raj Sebagai Napak Tilas Sejarah

12 May 2014

Habib Luthfi bin Yahya – Kanzus Shalawat Pekalongan
Peristiwa Isra-Mi'raj terjadi tahun ke 12 setelah Nabi menjadi Rasul, di usia Nabi 52 tahun. Paling tidak ada dua latar belakang; (a) Perselisihan antara langit dan bumi tentang siapakah yang utama, dan (b) Penghibur bagi Nabi saat mengalami tahun kesedihan.

Kedua latar belakang (sebab) di atas keduanya bisa terjadi. Hakikatnya, peristiwa sudah menjadi suratan takdir sebelum langit dan bumi ada.

Sebelum berangkat Isra, Nabi dibasuh hatinya untuk menambah kesuciannya, laksana air jernih yang ditambah kejernihannya. Perjalanan malam (Isra) yang bermula dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha adalah perjalanan spiritual sekaligus 'napak tilas sejarah'. Nabi dari Masjid al-Haram ke al-Aqsha singgah dan diperlihatkan situs bersejarah peninggalan para nabi terdahulu.

Hikmahnya; agar sejarah tidak hilang. Di sini kewajiban kita sebagai umat dan bangsa menjaga dan melestarikan situs-situs bersejarah. Bangsa paling celaka adalah bangsa yang tidak mengetahui sejarahnya sendiri. Terlebih lagi, umat yang tidak mengetahui sejarah agamanya.

Dalam Quran, Allah membuka terlebih dahulu dengan pelaku sejarah. Yakni dengan menyebutkan surat Yunus, Hud, Yusuf, Ibrahim baru kemudian al-Isra dan Maryam. Surat al-Isra ini menjadi bukti pentingnya melestarikan situs sejarah, khususnya dari Masjid al-Haram hingga Majid al-Aqsha. Bahkan setelah beberapa tahun, Nabi menerima perintah shalat dengan menghadap ke al-Aqsha. Tempat yang menyatukan sejarah banyak Nabi. Hingga perpindahan arah kiblat dari Masjid al-Aqsha ke Masjid al-Haram diabadikan dalam masjid Qiblatain (masjid dengan dua qiblat).

Pada waktu Isra, diperlihatkan kepada Nabi situs-situs bersejarah. Pada waktu Mi'raj, Nabi dipertemukan dengan para Nabi; para pelaku sejarah.

Bagaimana cara para musuh Islam menghancurkan Islam? Yaitu dengan mengikis dahulu sejarah-sejarah Islam, dengan alasan bid'ah dan musyrik. Kita harus waspada! Syirik-bid'ah dimanapun bisa ada. Tapi jangan jadikan "bid'ah-syirik" alat untuk menghapus peningalan-peninggalan sejarah Islam.

Dalam pengurangan berkali-kali jumlah rakaat shalat, hingga Nabi berulang kali nadzrah ila wajhi al-Karim. Semata-mata sebagai bentuk keistimewaan Nabi, karena para nabi terdahulu tidak diberi anugerah itu. Nabi Musa memohon di gunung Tursina, hanya diberi kesempatan berbicara. Inilah "Perjumpaan-Penglihatan" yang tak dapat kita bayangkan, Allah maha suci dari segala kekurangan, Dia tidak seperti yang ada dalam akal manusia.

Fisik Rasulullah sudah dipersiapkan oleh Allah untuk mampu menembus gravitasi, dimensi, galaksi-galaksi, tanpa pakaian seperti astronot yang kita tahu. Apakah Rasulullah Isra’ dan Mi’raj dengan ruh dan jasadnya? Kita meyakini Rasulullah Isra’ dan Mi’raj dengan ruh dan jasadnya. Apakah ada sesuatu yang mustahil bagi Allah?

Keberatan? Untung Rasulullah tidak di-Isra’-Mi’raj-kan sekaligus dengan rumah beliau. Kekuasan Allah tak bisa kita ukur, demikian ditinjau dari kacamata tauhid. Lafal 'Abdihi yang bermakna ‘hamba' dalam surat al-Isra menunjukan ruh dan jasad. Jasad tanpa ruh adalah mayat, ruh tanpa jasad tak bisa disebut hamba.

Dalam tasawuf, peristiwa Isra’ Mi’raj juga mengandung banyak simbol. Perjalanan menuju Allah itu harus ada pemandu (guide), sebagaimana Nabi dipandu Jibril. Mi'raj menunjukan maqam nubuwah Nabi Muhammad sangat tinggi, dari bumi ke Mustawa dikawal Jibril, dari Mustawa ke Sidrat al-Muntaha sendirian. Perjalanan dari Mustawa ke Sidrat al-Mustawa yang hanya ditempuh seorang diri menunjukan keistimewaan Nabi. Tak satupun makhluk menyamainya.

Allah menyanjung: 'salam rahmat dan berkah untuk Engkau wahai Nabi’. Nabi tak melupakan umatnya; "salam untk kami dan hamba Allah yang shalih".

Kisah Mi'raj ini dijelaskan oleh para ulama. Diantaranya dalam Fath al-Bari syarah Sahih Bukhari, tafsir Ibn Katsir dan sumber-sumber lainnya. Wallahu A’lam. []

*Sumber: Chirpstory
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang