Mesra dalam Perbedaan

12 May 2014

Oleh: Mochammad Maola – Yogyakarta
Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani rahimahullah, beliau officially bermadzhab Maliki. Meski demikian, ma'had beliau di Makkah sana kebanyakan santrinya bermadzhab Syafi'i.

Dan beliau juga mengajarkan madzhab Syafi'i pada santri-santrinya tersebut. Bahkan para pengajar yang lain yang berasal dari Yaman, Mesir, dan sbeagainya juga bermadzhab Syafi'i.

Suatu hari ada santri-santri bermadzhab Syafi'i memasang semacam spanduk di ma'had bertuliskan:
من أراد المذهب النفيس # فعليه بابن إدريس
Barang siapa menghendaki madzhab yang bagus # Maka baginya madzhab Ibn Idris (Imam Syafi'i)

Melihat hal demikian, para santri yang bermadhzab Maliki membalasnya dengan spanduk lain yang bertuliskan:
كيف لا يكون ذلك # وشيخه الإمام مالك
Bagaimana tidak demikian # Kalau gurunya (Imam Syafi'i) adalah Imam Malik

Konon, setiap ada permasalah fiqh khilafiyah, Abuya As-Sayyid Muhammad Al-Maliki sering menceritakan hal itu sambil tersenyum.

Perbendaan khilafiyah memang tidak sepatutnya menjadikan seseorang bermusuhan, sebaliknya, hal tersebut adalah kerenyahan-kerenyahan yang menyegarkan, bahkan lucu. Jangan sampai seperti wanita di kampus saya, konon beliau pernah mau dilamar oleh seorang laki-laki tapi buru-buru ditolaknya hanya karena laki-laki itu menurut beliau "NU banget". Ya ampun, masak hanya karena berbeda NU-Muhammadiyah lantas menghalangi niat baik untuk menikah.

Setiap malam haul al-Maghfurlah Simbah KH Muhammad Munawwir Krapyak, di komplek Madrasah Diniyah & TPQ Plus Ali Maksum Krapyak Yogyakarta mengadakan acara kumpul-kumpul silaturahim alumni Krapyak yang disebut acara "terongan". Di dalam majlis "terongan" tersebut banyak berkumpul Kyai-kyai yang dulu penah nyantri kepada Simbah KH Ali Maksum dan sebagainya. Haul kemarin saya menjadi panita terongan, dan menyimak obrolan-obrolan jenaka dari para alumni Krapyak. Salah satunya bercerita:

"Santrinya Mbah Ali itu mayoritas NU semua. Dulu itu Pak xxx (sensor) juga NU. Tapi setelah menikah dengan orang kauman (Muhammadiyah), Pak xxx jadi masuk Muhammadiyah 13 senti." Saya dan hadirin lain pun ngakak bersama.

Masak segitunya sih hanya karena berbeda tarawih 8 dan 20 raka'at, qunut dan tidak qunut, membaca niat sholat dan tidak membaca, membuat orang tidak bisa bermesraan. Hal itu kan hanya perbedaan di kalangan penganut Imam Syafi'i dan Imam Ahmad ibn Hanbal.

Padahal Imam Syafi;i dan Imam Ahmad terkenal mesra meski dalam banyak permasalahan agama mereka berdua berbeda bahkan kontras. Lihatlah ketika Imam Syafi'i bersya'ir.
أحب الصالحين و لست منهم # لعل أن أنال بهم شفاعة
و أكره من تجارتهم معاصى # و إن كنا سويا في البضاعة
Aku cinta orang-orang sholeh meski aku bukan mereka # Karena kuharapkan syafa'at dari mereka.
Kubenci para pelaku maksiat yang durhaka # Meskipun aku sama saja dengan mereka.

Mendengar sya'ir tersebut, Imam Ahmad membalas.
تحب الصالحين و أنت منهم # و منكم سوف يلقون الشفاعة
و تكره من تجارتهم معاصى#* وقاك الله من شر البضاعة
Kau cintai orang-orang sholeh dan kau memang bagian mereka # Dengan kalianlah akan diperolah syafa'at.
Kau benci orang-orang pelaku maksiat yang durhaka # Semoga Allah menjagamu dari kedurhakaan mereka.

Tidak hanya itu, suatu hari Imam Syafi'i bersya'ir tentang Imam Ahmad.
قالوا يزورك أحمد وتزوره # قلت الفضائل لا تفارق منزله
إن زارني فبفضله أو زرته # فلفضله والفضل في الحالين له
Mereka berkata, "Ahmad mengunjungimu (Imam Syafi'i) dan engkaupun mengunjunginya" # Kukatakan, kebaikan tak tak pernah lenyap dari rumahnya (Imam Ahmad).
Apabila dia (Imam Ahmad) mengunjungiku, itu semata-mata karena kebaikannya. Atau aku mengunjunginya, # Maka itu juga karena keutamaannya. Pada dua kondisi itu kebaikan kebaikan kembali padanya.

Mendengar sya'ir pujian dari gurunya itu, Imam Ahmad membalas.
إن زرتنا فبـفضـلٍ منـك تمنحنا # ‍ أو نحن زرنا فللفضــل الـذي فيكا
فــلا عـدِمنا كلا الحــالين منك ولا # نال الـذي قـد تمنى فيـك شانيكا
Jika engkau (Imam Syafi'i) mengunjungiku, maka itu karena kebaikanmu padaku # Atau jika aku yang mengunjungi, maka itu karena kebaikanmu pula.
Tidaklah hilang dua hal itu darimu padaku # Dan tidaklah mendapatkan yang diharapkanmu dua hal tadi dariku untukmu.

Memang indah betul kalau dua orang yang beda madzhab (bahkan pimpinannya) bisa bermesraan.
Malam Senin, dua pekan yang lalu, guru ngaji saya membedah sebuah buku berjudul "Muhammadiyah Jawa" yang merupakan terjemahan tesis aktivis Muhammadiyah. Guru ngaji saya bertanya pada para santri,

"Di sini ada yang ikut Muhammadiyah?", santri diam tidak ada yang menjawab.

"Kalau saya setiap hari keluar-masuk Muhammadiyah, karena istri saya orang Muhammadiyah".

Saya pun ngakak bersama, dengan humor yang sama ketika haul kemarin. []
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang