Rasulullah Bukan Pedofil

12 May 2014

OLEH: AWY A. QOLAWUN

Berbincang dengan sahabat perihal fenomena JIS, Emon dan hal-hal seputar pedofilia. Serta kekerasan-kekerasan seksual yang tak wajar secara naluriah. Omong punya omong, ternyata ada sebagian yang berusaha memancing di air keruh. Mengarahkan bahasan pedofilia ke pernikahan Rasulullah saw. dan ‘Aisyah ra.

Bagi muslim yang pengetahuan sejarahnya seputar Rasulullah tak begitu mendalam, tentu merasa tersudut jika diajak main-main dengan pertanyaan-pertanyaan tentang itu. Atau muslim yang cara berpikirnya telah terkontaminasi sedemikian rupa, malah bisa jadi berpikir buruk; kok Rasulullah seperti itu?

Sebenarnya syubuhat (hal-hal yang menimbulkan keraguan pada akidah) model ini, dengan menyerang pribadi Rasulullah sudah berlangsung lama. Dan tentu saja semua telah ada jawabannya. Namun mengingat semakin jauhnya umat dengan Rasulullah dan ajarannya, membuat hal-hal seperti ini seolah barang baru. Menjadi isu yang selalu sukses membuat sebagian besar muslim berdiri dalam kebingungan, tak tahu harus menjawab apa jika ditanya. Belum lagi ulah sebagian muslim masa kini yang menikahi gadis di bawah usia dengan alasan bahwa Rasulullah melakukan hal yang sama.

Sebelumnya, ada banyak hal yang semestinya kita pahami dengan baik. Di antaranya adalah menata cara pandang kita dalam menilai sesuatu. Orang sekarang, entah karena saking cerdas atau sudah saking kacau sistem berpikirnya, kerap menilai sesuatu langsung dengan general. Lalu bagaimana menanggapi pertanyaan menyudutkan bahwa Rasulullah menikahi ‘Aisyah yang bahkan usianya masih 6 tahun?

Kita tidak akan berbicara dari sudut prophethood excellent (keutamaan keRasulullahan). Sebab mereka yang menyerang Rasulullah dan syariat tidak akan menerima hal itu. Kita juga tidak akan berbicara bahwa Rasulullah menikahi Aisyah sebagai perintah Allah. Mana percaya musuh-musuh Rasulullah dengan hal itu, maunya akal-akalan saja.

Nah! Pertama, sebenarnya tak perlu kita terjebak ilustrasi "pedofilia" dan "Rasulullah-Aisyah". Itu sudah pecah dengan definisi pedofilia sendiri. Kedua, kita harus bisa membedakan antara "melampiaskan hasrat seksual hanya pada anak kecil", dan "menikahi anak kecil". Term yang berbeda. Ketiga, budaya. Ini sebenarnya alasan yang tanpa dijelentrehkan pun sudah mampu menyingkirkan tuduhan bahwa Rasulullah mengalami kelainan hasrat.

Sebab, budaya saat itu (bahkan berabad-abad berikutnya) hal yang biasa saja menikah dengan gadis di bawah usia. Andai itu kelainan, maka sejak awal para musuh Rasulullah menyerang beliau dari sudut ini. Faktanya, tudingan pedofilia baru muncul abad ini saja.

Lagipula sejarah Rasulullah sendiri cukup jelas, apa di antara hikmah beliau menikahi Aisyah di usia itu. Juga kembali pada pribadi ‘Aisyah, seluruhnya berputar pada proses penyampaian ilmu-ilmu syariat, khususnya rumah tangga. Dan separuh dari dasar-dasar syariat ini, transmisi periwayatannya adalah melalui ‘Aisyah. Lagipula masa 10 tahun pernikahan Rasulullah dengan ‘Aisyah, keduanya baru sering serumah saat 3 tahun terakhir sebelum wafatnya Rasulullah, dan ‘Aisyah kala itu pun telah berada di usia remaja.

Siapapun yang membaca sejarah tahu bahwa sejak hijrah sampai 8 tahun awal di Madinah, Rasulullah sangat jarang sekali berada di dalam kota. Karena banyaknya ekspedisi yang beliau lakukan dan selalu memakan waktu berbulan-bulan.

Begitupun kisah keseharian beliau jika di Madinah. Saat di kediaman-kediaman istri-istrinya (termasuk Aisyah), malah hari-hari beliau lebih banyak digunakan ibadah sampai kaki beliau bengkak. Pun jika dipikir secara naluriah, 3 tahun terakhir sebelum wafatnya, orang usia 60-an hasrat seksualnya telah jauh sekali menurun.

Maka tak perlu bingung jika dibenturkan antara persoalan pedofilia dengan Rasulullah-Aisyah. Itu hanya soal permainan kata-kata murahan saja. Tak perlu juga cepat emosi, atau pakai dalil-dalil kemudian marah-marah. Mereka pakai akal, kita hadapi juga dengan akal. This is just a game. Karena sekeras apapun orang berusaha merendahkan Rasulullah, usahanya itu takkan berefek apapun. Rasulullah tetap dengan keagungannya. Tak berubah.

Justru orang itu, dengan usahanya merendahkan Rasulullah, malah menunjukkan kedangkalan pikirannya sendiri. Rasulullah dijaga langsung oleh Allah, baik dalam hidup dan wafatnya. Kita hanya menenangkan umat yang resah dengan tuduhan-tuduhan miring murahan itu. Semoga menambah ilmu dan mencerahkan.

Tak ada yang menggoyahkan iman dan kecintaan kita pada Rasulullah jika kita tahu pribadi beliau dengan baik. []

*Sumber: Chirpstory
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang