Santri Tebuireng Jawara Lingkungan

27 May 2014

SANTRIJAGAD ~ Menjadi santri itu jangan hanya jadi penonton, tapi juga musti terjun menjadi pelakon, demikian ujar Haji Chaerudin alias Bang Idin. Jawara Lingkungan, Si Jampang dari Pesanggrahan, atau Si Pitung Pelestari Lingkungan adalah sebutan yang disematkan bagi pria Betawi berusia 58 tahun ini.
Bang Idin dan Kali Pesanggrahan
Sebutan-sebutan itu selaras pantas dengan apa yang sudah dilakukannya; menanam 40 ribu pohon di sepanjang bantaran Kali Pesanggrahan, melakukan konservasi alam, meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan bertani dan beternak, membentuk Kelompok Tani Lingkungan Hidup (KTLH) Sangga Buana, dan menghijaukan 40 hektar lahan sebagai area hutan kota yang menjadi lokasi keanekaragaman hayati.

Pria kelahiran 13 April 1956 yang tamatan SMP ini memulai penjelajahannya di Kali Pesanggrahan pada 1989. Saat itu ia bertualang selama lima hari enam malam, menyusuri Kali Pesanggrahan ke hulunya di Kaki Gunung Pangrango sejauh 136 km dengan berjalan kaki atau berakit batang pisang.

Ia mencari tahu apa saja yang masih tersisa di sepanjang aliran kali. Pohon apa saja yang tak lagi tegak, satwa apa saja yang lenyap, ikan apa saja yang minggat, dan mata air mana saja yang alirannya tersumbat. Usahanya dimulai dengan membersihkan sampah. Langkah awal ini ternyata tidak mudah.
Berkat kesabaran dan tekad kuat, lambat laun, kesadaran juragan-juragan tanah yang membangun pagar beton tinggi hingga ke bantaran kali mulai tumbuh. Bang Idin kemudian juga mengajak teman-temannya sesama petani penggarap untuk mengikuti langkahnya.

Kini, mereka berhasil menanam 40 ribuan pohon produktif di sepanjang bantaran kali. Burung-burung yang dulunya pergi akhirnya kembali. Mata air yang dulu tertutup sampah, kembali hidup. Air kali Pesanggrahan kini sudah normal kembali. Ikan-ikan bisa hidup dan berkembang biak.

Hal yang paling utama, si Jampang Penghijau ini tidak hanya sekadar merehabilitasi dan melakukan konservasi alam, tetapi juga berhasil meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar bantaran kali sehingga mereka bisa hidup dari kegiatan bertani dan beternak.

Pohon produktif, seperti melinjo, kelapa, dan durian bisa dipanen. Demikian juga sayur-mayur yang ditanam di bantaran kali. Sementara pembibitan ikan juga bisa dilakukan di air yang jernih. Sebagian lahan bantaran kali juga digunakan untuk berternak kambing etawa. “Penyelamatan alam itu harus punya nilai kehidupan,” usungnya.

Hasilnya sungguh luar biasa. Area seluas 40 hektar, membentang sepanjang tepian Kali Pesanggrahan, menjadi ijo royo-royo. Burung-burung berkicau setiap hari. Bahkan burung cakakak yang bersarang di tanah dan sudah jarang ditemui di wilayah lain di Jakarta, kini juga bisa ditemukan. Pohon-pohon yang mulai langka di Jakarta, seperti buni, jamblang, kirai, salam, tanjung, kecapi, kepel, rengas, mandalka, drowakan, gandaria, dan bisbul dapat dijumpai di sini. Belum lagi tanaman obat yang jumlahnya mencapai 142 jenis.



Berbagai penghargaan telah diperoleh Bang Idin dan kelompoknya. Ada Kalpataru, penghargaan penyelamatan air dan lingkungan dari berbagai negara, seperti Abu Dhabi, Jerman, dan Belanda.

“Saya nggak bangga. Buat apa penghargaan? Mendingan bantuan pemerintah untuk lingkungan,” ujar bapak dua anak ini.

Dukungan dari masyarakat sekitar, terutama dari pemuda-pemuda sudah didapatkan. Kaderisasi juga terus dilakukan.

“Relawan yang saya bina dari berbagai disiplin ilmu jumlahnya sudah ratusan. Mereka kemudian dengan pola yang sama saat ini juga sedang berusaha ‘memerdekakan’ bantaran-bantaran sungai yang lain di Indonesia. Masyarakat yang di kali seperti saya nih seharusnya dirangkul. Duta lingkungan bukan yang cakep-cakep, tapi yang beneran peduli sama lingkungan,” ujarnya.

Pandangan solutifnya tentang pelestarian lingkungan tak lepas dari idealisme sebagai seorang muslim. Baginya, ajaran Islam harus diimplementasikan secara tepat guna, tak sekedar retorika belaka.

“Saat ini Islam masih banyak dipahami secara sempit. Memang, semangat mengerjakan ritual ajaran agama seperti shalat dan zakat tak pernah ditinggalkan. Tetapi prakteknya secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Seolah-olah dari ritual yang dijalani tak memberikan dampak nyata bagi seseorang dalam kehidupannya. Misalnya, etos kerja menjaga dan mengatasi masalah kerusakan alam. Ceramah-ceramah dimana-mana, namun maksiat lingkungan juga dimana-mana. Padahal Islam memberi penghormatan tinggi pada alam, inilah yang acapkali dilalaikan para juru dakwah kita. Mereka hanya menekankan masalah surga dan neraka saja. Apalagi sekarang, yang saya lihat, banyak yang melulu arabisasi,” katanya.

Bang Idin mencontohkan Walisongo, mereka merupakan juru dakwah paling sukses dalam memperkenalkan Islam. Mereka tak sekedar berceramah, tapi juga menggunakan cara elegan seperti kesenian wayang, gamelan, dan pengembangan teknik pertanian. Sunan Kalijaga tidak bisa dilukiskan sekedar dengan yang ada di film-film; ahli mistik. Beliau adalah pelopor agrobisnis dengan menginisiasi penggunaan pacul dan singkal. Demikian menurutnya.

“Tak boleh kita bicara ‘kebersihan sebagian dari iman’ tapi sampah di selokan masjid masih dibiarkan. Taqwa ‘kan tak bisa diartikan dari satu sudut saja. Mengapa sampah-sampah itu tidak kita bereskan, ditampung, diolah, dibikin sesuatu, jadi bermanfaat, tak perlu menunggu presiden, gubernur, camat. Taqwa itu luas. Orang muslim sejati itu bak tawon, tidak merusak justru menebar manfaat, tapi kalau diganggu pantang mundur. Tapi sekarang, berbeda sedikit, main bakar masjid. Alasannya ‘laa ilaaha illallaah’, sadis betul. Kalau saya, berpedoman ‘laa ilaaha illallaah’, apapun mazhabnya itu urusan Tuhan. Kita pengucap syahadat tak boleh berlaku dzalim,” tuturnya.

Baginya, ilmu sesedikit apapun harus benar-benar diresapi dan diamalkan. Ibaratnya, meskipun menulis alif masih bengkok, harus betul-betul memahami apa itu alif dan bagaimana fungsinya.

“Saya di Pesantren Tebuireng dua tahunan, sekitar tahun tujuh puluh dua. Saya datang ke sana dan pulang tanpa disuruh siapapun. Di sana, saya menimba air buat wudhu di masjid. Kalau yang lain baca kitab di malam hari, saya tidur karena kecapekan. Kakek saya teman Kiai Hasyim Asy’ari semasa perang. Kekaguman saya kepada beliau membuat saya mengaji ke Tebuireng. Beliau juga dahulu berjuang dalam pertanian, itulah yang saya ikuti. Saya tidak pandai baca kitab, tapi bisalah mengaktualkan apa yang saya tahu. Setidaknya kita punya nilai, meskipun cuma setitik embun di padang pasir. Saya tidak ada cita-cita nanti bagaimana, apalagi cari beken. Mengalir saja seperti air di sungai, begitu sifat santri,” kenangnya.

Santri harus menjadi pelopor kebaikan bagi kehidupan sesamanya, terang Bang Idin. Jadi petani, peternak, pedagang, atau apapun, harus bisa menjadi contoh yang baik.

“Saya turun di tempat-tempat kemaksiatan. Bagaimana agar orang-orang bermaksiat biasa saya tarik dan didik. Di Ciwalu, Ciawi, Pangrango, dan lain-lain. Daripada jadi jablai, mending saya didik bagaimana beternak kelinci atau mengembangkan bambu,” ungkapnya.

Kini Bang Idin masih berjuang di bantaran Kali Pesanggrahan dan sekitarnya, melakukan pemberdayaan masyarakat melalui gerakan pelestarian lingkungan. Meluas untuk menangani kebersihan pantai Ancol, Sampur, reklamasi Waduk Ria-Rio, Pluit, Pulau Mas, penanaman 60 ribu pohon bekerjasama dengan UGM dan pengelolaan laboratorium bambu bekerjasama dengan Belgia. [Zq]

*Sumber: indonesiaproud.wordpress, Majalah Tebuireng Vol.30/2013
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang