Tadzkiraat Al Auliya’, Memorial of Saints (Syeh Fariduddin Attar)

12 May 2014

Diceritakan oleh Daulat Syah dalam bukunya: “kisah para penyair”, Attar adalah seorang pengusaha toko parfum yang berhasil. Waktu ia sedang bekerja di tokonya, di antara barang dagangannya. Ketika itu muncul sufi pengembara di pintu dengan air matanya yang basah. Attar menyuruh orang itu pergi. Kemudian pengembara itu berkata: “Kalau saya tidak sulit untuk pergi. Saya tidak memiliki apa-apa untuk diangkut kecuali jubah ini. Bagaimana dengan engkau? Kau harus berpikir bagaimana harus pergi dengan semua ini”

Ucapan sang sufi ini masuk ke dalam hatinya, berulang-ulang dan kemudian membawa Attar kepada titik balik sufisme. Ia meninggalkan dan menjual tokonya dan memilih hidup zuhud, seadanya. Ia bergabung dalam kelompok tasawwuf bimbingan dari Syaikh Ruknuddin.  Setelah bertahun-tahun menjalani disiplin sufisme dan kemudian Attar berangkat ke Makkahdan kemudian muncullah prosa yang dicatat dalam perjalanannya ke Makkah: Tadzkiraat Al Auliya’ yaitu prosa-prosa untuk mengenang wali-wali.

Bagi kita yang dididik dengan pendidikan gaya barat, kisah-kisah para wali tidak akan masuk akal. Kisah wali-wali sufi mengandung yang diluar nalar (khawariqul adat) tetapi bukan kisah yang Anti-logis seperti koan dalam tradisi Zen. Kisah sufi masih dalam koridor logika meskipun isinya kadang-kadang bertentangan dengan hukum fisika. Karena terkadang yang dipenuhi bukan hukum fisika tapi hukum psikologika. Dimana terjadi perubahan besar pada semesta ketika proses transformasi psikologis dalam perjalanan jiwanya.

Seorang sufi adalah seorang yang menjalani pendekatan diri dengan penciptanya. Perjalanan ini akan penuh dengan peristiwa luar biasa yang berkenaan dengan runtuhnya kepribadian lama dan utuhnya kepribadian yang baru. Tidak cukup memahami ini dengan Carl Gustaf Jung dengan teorinya tentang psikologi analitis, akhetipe diri, dan fakta-fakta psikologis. Juga tidak cukup dengan teori psikologi analisa Sigmund Freud. Kita punya banyak teori psikologi islam yang tersembunyi dibalik tarekat-tarekat tradisional Islam. Tugas peneliti adalah mengangkatnya dan mengembangkannya menjadi teori psikologi Islam modern yang bisa diterima banyak kalangan.

Pada perjalanan salik (orang merintis jalan sufisme pada Illahi), diperlukan seorang Mursyid. Bagai seorang psiko-terapis dalam psikologi analitis. Berbeda dengan psiko-terapis sekular yang membawa jiwa ke kondisi yang normal, seorang mursyid punya tugas membimbing pengalaman supra-normal murid dapat diintegrasikan ke keadaan normal dan mengarahkan murid kea rah keutuhan. Dekonstruksi menuju konstruksi sehingga membentuk moral spiritual yang kemudian bermanfaat untuk akhlak, tindakan sehari-hari sang murid. Hakikat yang kemudian menjadi efek dalam syari’at,

Lewat Tadzkiraat Al Auliya’, Syeh Fariduddin Attar mencoba membawa anda mengembara bersama kekasih-kekasih Allah. Attar adalah seorang guru sejati sebab pada saat meninggalnya ia adalah seorang guru yang baik. Diceritakan saat itu ketika tentara Jengis Khan memporak porandakan Persia pada 1220, Attar berusia 110 tahun. Attar pun ikut tertangkap dan akan dieksekusi. Salah seorang serdadu Mongol menginginkannya dan berkata pada penangkapnya: “Jangan bunuh dia, saya akan membayar 1000 keping uang perak sebagai penggantinya”.

Attar pun berkata: “tidak, harga saya pasti lebih mahal dari itu”. Kemudian salah seorang serdadu lainnya menawarkan jerami.

“Ya, tukarkan nyawaku dengan jerami itu. Aku memang seharga itu”
Serdadu pertama pun marah karena merasa dihina. Ia pun memenggal Attar dan Attar menjemput maut dengan Syahadat.
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang