10 Khasiat Lapar

27 June 2014

Syaikh Muhammad Khair Ramadhan, dalam mukaddimahnya di kitab Al-Juu' karya Al-Hafidz Ibnu Abi Dunya memaparkan setidaknya ada sepuluh faedah rasa lapar. Hal ini tentu bagus untuk diketahui kaum muslimin yang sebentar lagi akan melaksanakan ibadah puasa yang identik dengan rasa lapar. Sepuluh faedah itu yakni;

khasiat lapar

 1. Jernihnya hati, tenangnya rasa. Sebaliknya, kenyang menimbulkan malas, keruhnya hati, dan sulit menghapal, terutama bagi anak kecil atau pemuda.

2. Sensitif terhadap kenikmatan ibadah. Menyebabkan dzikir membekas di jiwa. Munculnya kebijaksanaan. Betapa banyak orang berdzikir dengan lisan dan memahami maknanya tetapi sama sekali tak membekas di hati, kecuali setelah dihilangkan hijab berupa rasa kenyang. As-Sari bin Yan’am Al-Jublani menghibur orang yang lapar; 
"Tidaklah rasa lapar itu menyisakan kekosongan, melainkan Allah isi kekosongan itu dengan Hikmah (kebijaksanaan) dan Wara’ (rasa nrimo dan sumarah).”

3. Memunculkan kesadaran tentang kerendahan dan kehinaan diri (tadzallul), serta berkurangnya keriangan yang bisa melalaikan hati dari Yang Mahakuasa.

4. Mengingatkan tentang kekurangan dan kesusahan. Sehingga selalu ingat terhadap keadaan orang susah serta kesengsaraan yang dideritanya. Seorang yang cerdas, tentu akan berpikir bahwa kesusahan di akhirat pasti lebih berat daripada kesusahan di dunia, hal itu akan dirasakannya bila dia terus menerus menjerumuskan diri ke dalam kehancuran yang bermula dari rasa kenyang.

5. Menekan keinginan untuk maksiat. Karena awal mula maksiat adalah adanya keinginan dan kekuatan, adanya keinginan dan kekuatan tentu berasal dari asupan makanan dan rasa kenyang.

6. Menjadikan susah tidur dan terus terjaga, tidak ngantukan. Semakin kenyang seseorang, banyak makan, maka makin banyak minum pula, lalu makin keraslah kerja metabolisme pencernaan sehingga membutuhkan kadar oksigen ekstra, maka timbullah rasa kantuk dan makin banyak tidurlah ia, makin banyak tidur maka makin banyak pula waktu terbuang, padahal waktu adalah modal utama seseorang untuk beribadah.

7. Memudahkan jalan untuk ibadah. Yusuf bin Asbath As-Syaibani, seorang zahid yang konon tidak makan kecuali dari harta halal hasil kerja kerasnya sendiri, bilapun tak ada yang bisa didapatkannya untuk dibawa ke rumah maka dia akan membungkus tanah agar tidak ada yang merasa kasihan, pernah berujar;
 “Lapar adalah bibit seluruh kebaikan di muka bumi.”

8. Menjaga kesehatan. Dengan semakin sedikitnya makan, makin sedikit pula resiko masuknya sumber penyakit ke dalam perut. Rasulullah saw. memperingatkan kita tentang potensi negatif perut bagi kesehatan jiwa dan raga;
“Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya sendiri.”

9. Menjadikan lebih irit pengeluaran. Logis, karena semakin sedikit makan, tentu makin sedikit pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan makan. Ketika makan pun tidak akan berlebih-lebihan, karena bagi orang lapar, makanan yang sederhana pun sudah cukup memuaskan.

Dalam hal keiritan dan kecukupan ini, bisa kita pahami dari ujaran Nabiyullah 'Isa berikut. Suatu hari, para hawari bertanya kepada Nabi ‘Isa as.;
“Apa yang kita makan Wahai Nabi?”
“Roti gandum.”
“Lalu kita minum apa?”
“Air putih.”
“Kita tidur dimana?”
“Di tanah saja.”
"Wahai Tuanku, sepertinya engkau memerintahkan kami hal-hal yang berat melulu.."
"Loh, kita tidak butuh apa-apa lagi, karena itu semua sudah cukup memuaskan kalian.”
“Bagaimana bisa?”
“Ya.. Tidakkah kalian lihat.. Bagi orang yang lapar karena puasa, maka sepotong roti gandum pun akan terasa nikmat. Bagi orang yang haus, setetes air putih amatlah menyegarkan. Bagi orang yang lelah bangun untuk salat, hamparan bumi ini sangatlah nyaman untuk rebah.”

10. Membuka jalan untuk menyedekahkan kelebihan harta atau makanan. Daripada makanan mubadzir karena tidak dimakan, mending disedekahkan kepada orang lain yang membutuhkan. Dan hal ini justru menjadi tradisi, bahkan sebaliknya, kebanyakan kaum muslimin berlomba-lomba untuk menyediakan santap berbuka ala kadarnya bagi orang yang berpuasa.

Sebaiknya Anda jangan langsung percaya dengan informasi di atas. lebih baik Anda meragukannya, lalu mulai membuktikannya sendiri. [Zq]

*Sumber; Kitab Al-Juu’, al-Hafidh Ibnu Abi Dunya
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang