Fisika, Cahaya, dan Isra Mi’raj

1 June 2014

Oleh: Akwal Sadida – Tegal

“Bukan seperti itu, Kang..”

Sembari aku merubah posisi duduk agar lebih serius, selama ini sains memang cenderung mencetak pembelajar agar yakin pada  produk kebenaran tanpa menelusuri  perjalanan menujunya, tidak mengerti latar belakang sejarahnya, jadi kayak taklid buta. Kemudian kang Enya meneruskan,

“Terus bagaimana? Kan, memang prinsip cahaya berlandaskan pada postulat Einsten dalam relativitas khusus. Bahwa sebelumnya ada eksperimen untuk mengukur kecepatan cahaya, itu baru hanya menemukan kecepatannya tok, belum penerapannya pada prinsip relativitas.”

Tidak banyak yang sadar bahwa Prinsip Relativitas pertama kali diusulkan oleh Galileo Galilei (1564-1642), relativitas Einstein adalah pengembangan dari banyak teori. Prinsip relativitas Einstein sama dengan prinsip relativitas Galileo tapi dengan sisipan: tidak ada kerangka acuan yang diam absolute.

“Emang gitu Kang, saya tadi pengin ngomong bahwa cahaya pertama kali ada ketika Big Bang menjalar. Kecepatannya bukan 300.000 kilometer per detik dan tidak menyalahi Einstein karena ini struktur ruang-waktunya, kalau ada ya Kang, bukan struktur ruang-waktu dalam ‘bola’ Big Bang.”

Struktur ruang-waktu di sini adalah empat-dimensi Universe Minkowski yang merupakan pengembangan teori dari Einstein (1905).  Oleh  Minkowski (1907), secara garis besar menerangkan konsekuensi relativitas khusus melalui konstruksi keterjalinan ruang-waktu secara geometri.

“Dasarnya apa?”

“Inget planck time, Kang?”

“Nggak tahu..”

“Kalo nggak ya gini aja wis: fakta empiris bahwa waktu yang dibutuhkan oleh titik Big Bang dengan densitas invinite  dari titik menjadi seukuran planet bumi itu dibutuhkan waktu sepuluh pangkat minus-puluhan detik, cari saja di google Kang.”

Kang Enya mengambil rokok dari asbak yang abunya sudah hampir dua ruas jari, aku mbatin setengah tersindir dia mampu mendengarkan tanpa tergoda samsu,  ketimbang aku yang isap-isep gak urus kanan-kiri.

“Terus bagaimana,” kata Kang Enya sembari mengepulkan asap rokoknya, “Berarti memang harus membatalkan universalitas cahaya untuk sampai pada paham seperti itu?”

“Iya Kang, tapi jangan lupa juga bahwa semua hukum fisika yang kita rumuskan sekarang belum ada sebelum Big Bang. Atau -paling tidak- berbeda. Karena saya yakin Big Bang -kalau benar nyata- juga terjadi dengan hukum kasat mata.”

Kang Enya rebah di atas lincaknya, itu tanda dia sudah mumet dengan ide-ide  tadi. Teman -teman yang lain mulai ada yang bertanya, “Jadi bagaimana kesimpulannya Mas?”

“Pendekatan Isro Mi’roj melalui relativitas Einstein itu sangat sempit, kita harus membuka kemungkinan peluang lain untuk dapat mencoba memahami kejadian fisikanya, bisa dengan menggunakan pintu mekanika quantum atau gabungan keduanya; metafisika kalau bisa.

Dan  matematika yang digunakan dalam menerangkan fenomena fisis  bukan kebenaran. Matematika itu logis tapi belum nyata. Kebenaran dalam fisika adalah kenyataan alam. Matematika boleh diusulkan dengan pemodelan dari hasil kesimpulan empiris dan pengamatan eksperimen, namun ketika sudah masuk dalam operasi matematis dia akan lepas dari kenyataan. Artinya, kesimpulan dari operasi matematis tadi akan hanya menjadi usulan kebenaran dan harus dieksperimenkan untuk dapat dikatakan keabsahannya.”

"Sshhhpp… huuuhh…..," kuhisap rokok produksi  UKM Tarumartani Jogja yang barusan kulinthing. Gak salah, kualitas ekspor.
“Tentang partikel, cahaya kan bukan hal baru,” ucap Kang Enya, kulihat lagi belajar ngelinthing rokok, nggak jadi-jadi.

“Saya juga dengar katanya ada eksperimen yang belum lama ini dilakukan, yang kesimpulannya cahaya memiliki kesadaran untuk memilih menjadi gelombang atau partikel,” tambah Kang Enya.
“Kalo menurut saya, Kang, itu belum saya masukkan sebagai data.”

“Oh.. Gimana menurutmu?”

“Ah.. Kang Enya dulu, lanjutin,”

“Kalo berangkatnya dari eksperimen de Broglie, itu sudah lama banget ketahuan. Ide dasar de Broglie tentang sifat gelombang dari partikel mengikuti pengenalan partikel cahaya (photon ) oleh Einstein(1909) lewat efek photoelectric. Segara garis besar de Broglie memandang bahwa semua materi  yang bergerak memiliki sifat gelombang,” Kang Enya berhenti ngelhinting lalu meneruskan kalimatnya.

“Begini, ‘kan pertama gelombang dideteksi memiliki sifat partikel oleh Einsten, yang dari eksperimen itu dia dapet hadiah nobel, terus de Broglie ngelanjutin dengan penemuan efek gelombang terhadap momentum partikel, lha terus Si Bohr muncul mbikin komplotan di Copenhagen Denmark bareng Heisenberg, Schrödinger, Max Planck dan lain-lain kong-kalikong ngusulin Quantum Physics yang Einsten bilang masih ada hidden variable,  jadi dia gak setuju.”
“Hidden ariable itu apa Kang?”  Bang Aya nimpali, ngomong sambil ngupil.
“Wis tho, mengko sek..”

“Wasyuu.. tanya kok.” Bang Aya nggrundhel.
“Bukan egitu.. aku juga gak paham apa itu hidden variable, ndheess!”

Enstein mendapatkan hadiah nobel pada tahun 1921 atas usahanya menjelaskan efek photoelektrik sementara teori relativitasnya masih menjadi kontroversi. Di Copenhagen berkumpul ilmuan yang setuju dengan Fisika Quantum yang nantinya lahir interpretasi Copenhagen (dikembangkan 1924-1927), interpretasi lain Fisika Quantum salah satunya adalah de Broglie-Bohm. Di lain sisi, ada Einsten yang menolak fisika Quantum. Secara filosofis, perbedaanya adalah cara pandang realist, orthodox dan agnostik.

“Tuh ‘kan, aku lupa mau ngomong apa tadi.”

“Copenhagen kang,”  sahutku.

Beberapa fakta yang dipelajari dari dualisme partikel cahaya sebenarnya simpel. Tapi kali ini ada yang menyebutkan bahwa cahaya dapat memilih, ya, cahaya sadar memilih antara paling tidak dua jenis bentuk, gelombang atau partikel tergantung kebutuhan. Dasarnya adalah eksperimen celah ganda (double split) yang dimodifikasi.

“Kita kembali dulu deh ke pertanyaan awal, tadi ‘kan apakah Kanjeng Nabi bertransformasi dari bentuk material ke bentuk gelombang agar mampu manempuh perjalanan Isro’ Mi’roj, jawabanya: sangat mungkin!”

“Terus bagaimana hubunganya dengan kenaikan dimensi yang tadi disebutkan? Nabi mi’roj itu perjalanannya bukan ruang-waktu tok, tapi dimensi juga?” tanya Bang Aya, sementara Kang Enya masih bersikeras latihan ngelinthing.

“Menurutku gini Bang, di situ ‘kan kenaikan dimensinya dari empat-dimensi, yaitu panjang, lebar, tinggi dan waktu. Kemudian bertambah jadi lima-dimensi, enam-dimensi dan seterusnya, sampai genap tujuh ‘langit’ yang dikabarkan dalam hadist. Sementara yang selama ini saya dapat, itu belum ada secara matematis penambahan dimensi dalam konteks kenaikan dimensi alam. Yang ada di matematika fisika, dimensi lebih dari 4 itu hanya merupakan simbol bagi –contohnya- posisi, momentum, kecepatan, energi, sampai berapapun.”

“Nanti dulu!” Kang Enya menyela, “Kasus dalam Quark  pada Fisika Quantum , ada yang menyebutkan dimensi yang dicakup lebih dari empat-dimensi yang kita kenal, aku pernah lihat di Youtube.”
Linthingan tembakaunya bubrah, “Minta samsunya ya Dul! Jingak, angel tenan nglinthing manual!”

“Hahaha..” semua tertawa.

Obrolan terhenti karena lantunan adzan Subuh dari langgar sebelah kos-kosan. Semuanya segera berwudhu untuk ikut jama’ah di sana. Untuk kemudian ambol posisi nyaman buat tidur sampai nanti siang.

Jadi, memahami fenomena perjalanan malam Rasulullah dari Mekah ke Palestina, kemudian lanjut menuju Sidrat al-Muntaha adalah sebuah tantangan yang mengasyikkan bagi para fisikawan. Berangkat dari iman yang penasaran, menggelitik penelusuran akal untuk membaca fenomena tersebut secara ilmiah.

Dalam memahami peristiwa ini, fisika dan matematika menagih eksperimen yang kemudian bisa dimanfaatkan menjadi pengembangan teknologi. Tidak hanya meyakini secara total, dalam memahami peristiwa Isra’ Mi’roj semestinya juga melibatkan pendekatan metafisika, sehingga terbaca dengan gamblang segala proses dan mekanisme kejadiannya. Yakni suatu peristiwa misterius yang hanya dialami oleh sosok istimewa. []
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang