Iman Paling Menakjubkan

24 June 2014

Matahari belum terbit. Pagi masih berselimut kabut. Subuh itu, menjelang shalat jama’ah, Rasulullah bermaksud wudhu. Akan tetapi, sesampainya di jamban ternyata air tak ia dapati.


 Ia bertanya kepada para sahabat,

“Apakah ada kantong kulit yang bisa dipakai untuk menyimpan air?”

Dengan sedikit bingung, salah seorang sahabat membawa kantong kulit lalu menyerahkannya kepada Nabi. Kantong kulit itu kosong, benar-benar taka da air subuh itu. Lalu Nabi meletakkan tangannya di atas kantong kulit kosong itu dan membuka jari-jarinya. Tak berselang lama, air pun memancar dari sela-sela jarinya. Ia berkata,

“Wahai Bilal, panggil mereka untuk berwudhu!”

Para sahabat pun datang berwudhu dengan air yang memancar dari sela-sela jari Rasulullah. Seorang sahabat, Ibnu Mas’ud, bahkan meminumnya.

Setelah para sahabat berwudhu, Rasulullah memimpin shalat shubuh. Usai shalat, seperti biasa, ia duduk menghadap para sahabat. Ia bertanya,

“Wahai manusia, siapakah makhluk Tuhan yang imannya paling menakjubkan?”

“Malaikat, wahai Rasul,” jawab para sahabat.

“Bagaimana malaikat tidak beriman, sedangkan mereka pelaksana perintah Tuhan?”

“Kalau begitu, para nabi wahai Rasul,”

“Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu dari langit turun kepada mereka?”

“Kalau begitu, sahabat-sahabatmu wahai Rasulullah,”

“Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman, sedangkan mereka bertemu langsung denganku, melihatku, mendengar kata-kataku, dan juga menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tanda-tanda kerasulanku.”

Nabi terdiam sebentar, lalu bersabda,

“Yang paling menakjubkan imannya adalah kaum yang datang setelah kalian semua. Mereka beriman kepadaku tanpa pernah melihatku. Mereka membenarkan aku tanpa pernah menyaksikanku. Mereka menemukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka mengamalkan apa-apa yang ada di dalam tulisan itu. Mereka membela aku seperti kalian membelaku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku (ikhwani) itu!”

Kemudian Nabi membaca Surat Al-Baqarah ayat 3;


"...(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka."

Lalu bersabda,

“Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku.” Nabi mengucapkan kalimat itu satu kali. “Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku.”Nabi mengucapkan kalimat berikutnya ini sampai tujuh kali.

Apakah yang dimaksud itu adalah Anda yang saat ini membaca artikel ini? Semoga.

*Tafsir Ad-Durr al-Mantsur (I/67-68), al-Imam Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi, Dar al-Fikr Beirut [Zq]
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang