Kenyang itu Bid’ah

27 June 2014

Satu hal yang sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan tak terpisahkan yaitu rasa lapar. Dalam kepercayaan agama-agama dunia, puasa yang identik dengan lapar ini dijadikan sebagai suatu metode rialat, exercise atau tapa dalam rangka melatih raga demi kesempurnaan jiwa agar semakin sensitif terhadap Kehendak Sang Mahakuasa.

Kitab Al-Juu' (Lapar) karya Abu Bakr Abdullah bin Muhammad ibn Abi Dunya (w. 281 H)
Kitab Al-Juu' (Lapar) karya Abu Bakr Abdullah bin Muhammad ibn Abi Dunya (w. 281 H)



Konon, suku Pheonix di Mesir berpuasa dalam rangka memuja dewa mereka, Isis, selama beberapa hari, lalu memungkasi tapa mereka itu dengan perayaan persembahan kurban. Orang Yunani kuno melakukan puasa selama sepuluh hari dalam rangka menajamkan mata batin agar dapat memahami hakikat ketuhanan, sedangkan kaum wanitanya berpuasa sehari penuh lalu merayakan pemujaan Aluzis.

Begitu pula orang Romawi kuno, sejak tahun 193 SM setiap lima tahun sekali mereka melaksanakan puasa selama satu tahun penuh sebagai penghormatan terhadap dewa Siris. Agama dan kepercayaan manapun, terutama yang terdahulu, menjadikan puasa sebagai suatu metode pendekatan diri kepada Tuhan selama beberapa masa lalu ditutup dengan hari raya.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqoroh 183)

Bahkan, konon, ritual tua berupa puasa ini sudah dicontohkan oleh abul basyar, Nabi Adam as. semenjak di surga, yakni dengan menahan diri dari memakan Khuldi, meskipun kemudian gagal terlepas dari apapun sebabnya.

Di sisi lain, Rasulullah Muhammad saw. agaknya telah mewanti-wanti umatnya untuk benar-benar memaknai rasa lapar ketika berpuasa, agar tidak terjerumus ke dalam tipe pelaku puasa yang beliau sampaikan;

“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lapar dan haus. Betapa banyak orang yang bangun (Shalat) malam tidak mendapatkan apa-apa selain begadang.” (HR. Al-Bayhaqi)

Kesia-siaan rasa lapar dan kantuk tersebut bisa disebabkan adanya perilaku negatif dari orang yang berpuasa atau shalat, sehingga me-nol-kan kembali kegiatan positif yang sudah dilakukannya. Puasa tapi malah mengumbar syahwat, shalat tapi menggunjing aib orang, dan semisalnya. Alangkah sayang bila rasa lapar yang ditahan seharian menjadi sia-sia, entah karena apapun.

Kalau bicara lapar, maka tentu hubungannya dengan perut. Konon, perut adalah sarangnya syahwat dan lahan subur bagi berbagai penyakit serta bahaya. Ketika si perut tuntas syahwatnya, maka tumbuhlah syahwat kemaluan, jika syahwat makan dan konak terpenuhi, maka tumbuh akan muncul keinginan terhadap harta dan perhiasan, maka seseorang akan berupaya mengumpulkan harta yang pada akhirnya juga merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan perut dan bawah perut.

Dalam teori kebutuhan, saat kebutuhan primer terpenuhi, bahkan berlebih, maka akan muncul nafsu kepada hal-hal sekunder, lalu komplementer. Bahkan kadang-kadang, hal yang komplementer pun dianggap primer, tahsiniyyah dianggap hajiyyah.

Begitu terus siklusnya, kepuasan syahwat menumbuhkan keinginan untuk mengumpulkan harta, ketika sudah terkumpul maka digunakan untuk memuaskan syahwat lagi. Lalu bangkitlah dorongan-dorongan untuk berlebih-lebihan, perasaan sombong dan pamer, kebanggan diri dan berbagai macam tindakan jiwa maupun raga yang berdampak negatif terhadap kesehatan keduanya. Semua itu disebabkan karena satu hal; pemenuhan kemauan perut yang berlebihan.

Maka tepatlah apa yang disampaikan Sayyiduna ‘Ali bin Abi Thalib;

“Hancurnya anak Adam disebabkan oleh dua lubang; lubang masuk perut dan lubang kemaluan.”

Nah, oleh karena itu, keinginan perut haruslah dikendalikan dengan puasa yang menyebabkan rasa lapar. Ibarat bayi yang sudah kunjung besar tapi masih menyusu, maka dia harus disapih. Meskipun terus menangis, harus dipaksa agar bisa lepas dari kebiasaan netek itu. Begitu pun perut, harus diuji dengan rasa lapar alias lapar.

Indah nian pernyataan Al-Muhaddits Makhul bin Syahrab As-Syami;

“Ibadah paling utama setelah ibadah fardu adalah Lapar dan Dahaga.”

Selain itu, lapar adalah sunnah Rasulillah saw., betapa banyak hadits yang menerangkan tentang laku beliau dengan rasa lapar. Sebaliknya, kenyang merupakan suatu hal yang tidak pernah dirasakan oleh beliau ‘alaihissholaatu was salaam.

Bahkan, Ummul Mukminin Sayyidah ‘Aisyah ra. berujar;

“Mula-mula bid’ah yang muncul setelah Rasulullah saw. wafat adalah rasa kenyang, ketika perut suatu kaum kenyang maka bergairahlah nafsunya terhadap dunia.”

Mengomentari ucapan Sayyidah ‘Aisyah tersebut, Imam Ghazali menyimpulkan;

“Jika demikian, maka lapar tidak hanya mengandung satu faedah, tetapi malah gudangnya berbagai macam faedah (karena meredupkan api gairah terhadap dunia).”

Begitu berbahayanya rayuan perut sampai-sampai al-Imam Hasan al-Bashri menyatakan;

“Hal yang ‘memelesetkan’ bapakmu dahulu, Adam as., adalah makanan (Khuldi). Dan itulah yang akan memelesetkanmu hingga hari Kiamat kelak.”

Namun bukan berarti kenyang itu mutlak haram, lapar juga bukan hal yang wajib secara syar’i. Hanya saja, rasa lapar merupakan teladan salafusshalih, bahkan para nabi terdahulu. Sedangkan rasa kenyang sudah sangat tenar bahayanya serta bertabur anjuran-anjuran untuk menjauhinya.

Sebagian ulama Hanafiah bahkan ada yang mengharamkan kenyang dan bermewah-mewahan dalam hidangan. Namun, Imam Muhammad Khatib As-Syarbini, seorang imam dari kalangan Syafi’iyyah menyatakan bahwa tidak bermewah-mewahan dalam hidangan adalah hal yang mubah dan mustahab. Tapi boleh saja jika ingin menghidangkan berbagai macam makanan, asalkan karena suatu kebutuhan, misalnya untuk menjamu tamu atau memeriahkan hari raya bersama keluarga. Dan harus diingat, bahwa berlebih-lebihan terhadap makanan halal adalah makruh.

Begitu hebatnya kedudukan Lapar, bukan lantas menjadikan seseorang meninggalkan makan saa sekali. Lapar yang dimaksud adalah untuk mengontrol nafsu, bukan untuk bunuh diri dengan kelaparan. Sebaik-baik hal dan lelaku adalah yang moderat, tengah-tengah. Ya makan, ya lapar.

Artinya, silakan makan asalkan tidak sampai memenuhi perut dan agar tidak merasa tersiksa karena kelaparan. Karena penuhnya perut bisa menyebabkan kelalaian hati dan keengganan untuk ibadah, sedangkan perihnya kelaparan pun sama saja bahayanya. Semua itu berlandaskan kesadaran bahwa tujuan dari aktivitas makan adalah demi kelangsungan hidup dan mengisi energi dzahir untuk beribadah.

Sehingga, bila aktivitas makan tersebut berlebihan justru akan melenceng dari tujuan sejatinya. Dengan logika agraria, Al-Husain bin Abdurrahman menyampaikan;

“Kebanyakan makan bisa mematikan hati sebagaimana kebanyakan air bisa mematikan tanaman.”


Lalu bagaimana caranya agar kita bisa terhindar dari kekenyangan dan dapat merasakan lapar terus menerus? Coba simak dialog dua sufi ini;

“Apa wirid yang kau dawamkan wahai Abdullah?” tanya Abu Abdirrahman Al-‘Umri.

“Yang kudawamkan adalah tidak kenyang alias lapar seumur hidup.” Jawab Abdullah bin Marzuq.

“Wah, bagaimana mungkin orang hidup di dunia kok bisa kuat begitu?”

“Ah gampang saja, Kawan...”

“Caranya?”

“Jangan makan jika belum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang, sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sisanya untuk napas. Seperti anjuran Nabi kita Muhammad. Nah, itulah yang namanya Lapar seumur hidup!”

Kesimpulannya, kondisi lapar lebih dekat kepada penjernihan batin daripada kenyang. Namun mesti diingat bahwa yang dimaksud adalah lapar, bukan kelaparan. Selamat menikmati lapar. [Zq]

*Sumber: Kitab Al-Juu' karya al-Hafidh Ibnu Abi Dunya
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang