Lakrimasi Bulan Suci, Cerpen Ramadhan

27 June 2014

Oleh: M. Budi Mulyawan

Di sebelah Timur alun-alun kota kini berdiri megah bangunan 3 lantai berwarna biru pucat. Bangunan itu menyatu dengan rimbun dan gelapnya pohon akasia yang telah berumur melebihi umur orang tua manapun di kota terpencil ini. Refleksi dari pohon raksasa ini tetap saja memantulkan bayangan angker dan berarura kematian meskipun di siang bolong. Bagaikan nisan, sebuah papan besi ditancapkan dalam-dalam ke tanah di depan bangunan, dicat seadanya lalu ditulis dengan warna hitam: “Bank Air Mata”. Semenjak Bank ini didirikan banyak warga kurang mampu tereduksi sedihnya terhadap derita-derita yang menimpa mereka.

Mereka dapat menitipkan air mata mereka ketika ada musibah, kecelakaan, adzab Tuhan maupun semua alasan duka cita umat manusia. Bank ini bisa menjadi tempat menabung semua air mata dari segala bentuk kesedihan: kenek angkot yang kehilangan mata pencaharian karena BBM naik, tukang becak yang pensiun karena kakinya remuk dilindas truk di lintas pantura hingga ibu yang menyesal membunuh anaknya sendiri karena malu menanggung anak jadah. Bank ini menghimpun segala tingkat dan level air mata kesedihan yang diciptakan oleh Tuhan.

Tidak hanya air mata kesedihan manusia tetapi juga tangis lolongan anjing yang diusir dari tempat penampungan karena penuh. Mendaftar pula kucing yang disiram sehingga bulunya rontok dan kulit mungilnya melepuh karena mencuri lauk majikannya. Mereka menerima setoran air mata dari segala jenis nasabah manusia maupun hewan. Sayangnya dari pertama mereka didirikan mereka tidak menerima air mata bahagia. Air mata ini cuma dimiliki pesohor dan orang kaya di kompleks-kompleks elit. Orang-orang kaya menyimpan air mata bahagianya sendiri, di brangkas rumah mereka. Digembok kencang dan dirantai lalu dijaga satpam-satpam.

Bank Air Mata menampung tangis-tangis nasabah dalam gelas-gelas kaca besar yang ditaruh memenuhi ruangan. Para nasabah menyetorkan air matanya dengan gelas kaca kecil yang mereka bawa sendiri dari rumah. Kadang-kadang gelas-gelas mereka terlihat retak karena terlalu sering dipakai. Dari hari ke hari antriannya makin panjang dan tidak jarang para nasabah saling menyerobot untuk cepat-cepat dilayani. Tak ada yang mau duduk manis di banque, bangku-bangku dari mahoni tua yang disediakan untuk mengantri. Air mata pilu harus segera dienyahkan dari hidup mereka secepat mungkin.

Dua, tiga tahun berlalu. Nasabah bank ini semakin banyak dan berjibun. Lakrimasi-lakrimasi kolosal seakan memuncak secara kolektif. Agaknya bank ini telah menjadi candu sedatif bagi siapa saja yang tak kuasa menanggung emosi, kemarahan, penderitaan dan luka lara. Pesakitan-pesakitan tajam sudah lama mengiris pelan ruh-ruh mereka dari waktu ke waktu. Teller-teller yang melayani nasabah berseragam kain kafan yang dijahit, bermata cekung dengan garis biru di kelopaknya. Seolah dehidrasi dan hendak segera menyedot habis air mata-air mata mereka.

Pada bulan Ramadhan ini Bank Air Mata bertransformasi menjadi bank syariah. Tentu saja perubahan yang signifikan ini sangat disambut baik oleh masyarakat. Kini segmennya tak hanya menghimpun air mata derita namun juga meminjamkannya dengan bunga rendah. Tak ada yang berminat meminjam air mata di bulan-bulan biasa. Meliriknya pun orang-orang enggan meskipun air mata cadangan bank ini telah melimpah ruah hingga dipindah ke halaman. Diwadahi dengan potongan drum bekas yang berkarat.

Orang mapan dan kaya di kota ini sudah terlalu sukar untuk menangis. Untuk menyambut bulan Ramadhan bagaimanapun sulitnya harus menangis. Ada jaminan pengampunan Tuhan untuk orang yang menangis dan bertaubat di bulan nan suci ini. Mereka pun mengantri dengan gelas kaca Kristal mahal yang dibeli di pertokoan-pertokoan berpagar besi yang bertuliskan “ngamen gratis”. Dengan cara apapun mereka terus meminjam dan meminjam meskipun sudah over kuota. Tak puas dengan gelas kaca yang diperkenankan, mereka menenteng jerigen-jerigen besar. Antriannya kini mirip antrian BBM. Sekedar untuk memastikan bahwa air mata yang mereka pinjam cukup untuk persediaan sepanjang bulan suci ini.

Wajah mereka tersenyum lebar dan tertawa-tawa setelah keluar dari pintu bank. Mereka puas karena selama bulan suci ini mereka akan dekat dengan Tuhan. Mereka akan bisa bicara dengan Tuhan lewat doa-doa mereka yang mengalir deras lewat air mata. Memohon pertaubatan tapi sesekali pula memohon langgengnya kemewahan-kemewahan, jual beli dari transaksi yang besar dan tersingkirnya musuh-musuh politik. Sesekali pula mereka berdoa sambil mengutuk Tuhan mereka sendiri, mengapa begitu sulit menjadi kaya tanpa hutang.

Puncak dari ramainya kredit ini ada pada akhir bulan Ramadhan dimana orang-orang takut masuk neraka. Mereka menangis sesengukan, ingin diterima Tuhannya betapapaun besar dosa mereka pada manusia lain: menggelapkan pajak, penyuapan kelas kakap, makan aspal, menipu pasien dengan surat harus operasi, dan berbagai modus kejahatan yang mendarah daging. Antrian peminjaman semakin panjang dan ramai, antrian menabung semakin sepi. Bukan hanya jerigen, kini peminjam bahkan ada yang berani mengantri dengan mobil tanki.



Sementara di koridor-koridor kumuh kota ini tak ada orang yang puasa apalagi merayakannya dengan tarawih-tarawih. Tubuh-tubuh mereka sudah terlalu letih di terik siang oleh pekerjaan tak layak yang menyiksa otot hingga mereka minum di siang hari pun harus dengan perasaaan berdosa. Beras menipis tentu pula anak mereka harus beli pakaian baru di saat lebaran. Mereka mulai realistis untuk tidak menangis tapi mencari uang dan uang. Ada beberapa dari mereka yang puasa dan tahajjud tapi bersahur dengan luh, dengan belek-belek tangis mereka ketika hening malam. Pada saat tadarus diputar di masjid-masjid dengan kaset karena orang-orang telah lelap tertidur.

Sehari, dua hari… Hingga dua puluh lima hari setelah awal bulan Ramadhan lalu bank ini dinyatakan pailit. Semua asetnya bukan diantri pinjam dengan jerigen, tanki lagi tapi sudah termasuk kategori di jarah. Bahkan persediaan air mata terakhir bulan Ramadhan yang sudah disiapkan untuk para pelacur sebagai bentuk tobat mereka pada Tuhan telah mereka rampok pula. Para peminjam itu semakin beringas dan agresif. Di akhir bulan Ramadhan bank ini terpaksa tutup. Direkturnya gantung diri di dahan akasia penyambut kematian di depan Bank.

Air mata yang banyak dari nasabah-nasabah penyetor sudah tak ada lagi institusi yang mau menampungnya. Hingga kemarau datang, semua mata air dan air mata mereka kini mengering. Mereka sudah tak bisa menangis lagi karena kerontang. Garing mata mereka kini telah berubah wajah menjadi raut-raut dendam.

“Pak aku maunya cerita kancil, Pak, yang nyolong timun,” rengek seorang bocah.

“Sssst… Diam dulu! Dengarkan dongengan bapak. Ini sudah bapak karang buat ceramah menyambut Ramadhan nanti di pengajian mushola kita,” kata seorang bapak berpeci yang memangku anaknya di atas lincak dekat tumpukan rongsok.

*Nulisbuku.com - Ramadhan 2013



Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang