Mengasah Kepekaan Rasa dengan Syair

14 June 2014

Suatu hari Rasulullah menjahit terompahnya sedangkan istrinya, ‘Aisyah, berada di dekatnya untuk memintal benang. Ketika itulah sang istri memandanginya. Dari kening beliau bercucur keringat yang ketika terkena sinar mentari tampak begitu indah, bagai mutiara yang menetes. Hal ini membuat ‘Aisyah terpesona dan tersipu malu.


Melihat gelagat aneh istrinya, Rasulullah menegur,

“Wahai ‘Aisyah, mengapa kau tampak bingung begitu?” demikian tanya beliau membuat ‘Aisyah semakin bingung.

“Wahai Rasulullah,” sahut ‘Aisyah, “Sejak tadi aku mencuri pandang terhadapmu. Dari keningmu menetes keringat bagai mutiara yang begitu indah. Kalau saja Abu Kabir al-Hudzaili (seorang penyair ulung) melihat sendiri keindahan ini, tentu ia akan menggubah syair untukmu,”

“Bagaimana jika Abu Kabir melihatku? Dapatkah engkau memperkirakan syair yang akan digubahnya?” pancing Rasulullah.

“Abu Kabir pasti akan mengatakan begini; Jika kau pandang raut wajahnya, bagaikan mega bermandi cahaya.”

Mendengar gubahan syair istrinya itu, Rasulullah segera meletakkan jarum dan benang yang masih dipegangnya. Beliau bangkit menghampiri istrinya, mendekap dan mengecup keningnya seraya berucap,

“Semoga Allah membalas dengan kebaikan terhadapmu, duhai ‘Aisyah. Perasaanku tidak sebahagia hari ini tersebab gubahan syairmu.”

Begitulah salah satu peran syair dalam keharmonisan rumah tangga Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah. Memang susunan bahasa dalam syair bisa menyampaikan pesan yang tak terekspresikan. Bukan hanya perasaan kasih sayang, pembelaan dan ajaran teologi juga bisa diutarakan melalui syair.

Ketika orang-orang musyrik menunjukkan kepiawaiannya dalam bersyair untuk memojokkan Islam, semisal Hubairah bin Abi Wahb dan Musafi bin Abdu Manaf, maka Rasulullah mengajukan Labid, seorang pujangga kenamaan yang membalas ucapan mereka dengan lantang.

“Ingatlah! Selain Allah terang kebatilannya! Selain Dia, mau tak mau ‘kan segera sirna!”

Pada kesempatan lain, Rasulullah pernah menghimbau Hassan bin Tsabit untuk menggubah syair sebagai apologi akidah Islam yang ketika itu selalu dilecehkan orang kafir. Beliau menitahkan,

“Gubahlah sya’ir, semoga Allah meneguhkanmu dengan Ruh al-Quds (Jibril).”

Dan ketika Rasulullah berhasil menaklukkan kota Mekah, Abdullah bin Rawahah menggubah syair yang menunjukkan kekuatan Islam. Segera saja Umar bin Khattab menghardik,

“Wahai Ibnu Rawahah! Patutkah kau bersyair di hadapan Rasulullah?!”

Lantas Rasulullah menyahut,

“Biarkanlah dia wahai Umar. Sebab syairnya lebih tajam daripada ujung tombak.”

Selain pengungkapan ekspresi sesama makhluk, lebih dari itu, bahkan syair bisa menjadi media peningkatan kualitas spiritual seorang hamba menuju Tuhannya.

Menurut al-Imam al-Ghazali, hati para kekasih Allah itu seringkali dalam menggapai kedekatan kepada-Nya dengan media semacam lagu dan syair-syair ketuhanan. Kendati hati mereka telah dipenuhi cinta kepada Allah, belum tentu pemicunya  harus dengan mendengarkan bacaan Al-Qur’an atau pidato-pidato keagamaan. Bahkan sering lebih manjur  dipicu dengan melantunkan syair atau dendang lagu.

Hal ini dikarenakan  syair ketuhanan sengaja digubah dengan rima dan susunan bahasa sastrawi yang menyentuh nurani. Sedangkan kalimat-kalimat al-Qur’an, meski mengandung mukjizat dan tak bisa ditandingi manusia manapun, kebanyakan susunannya keluar dari uslub  kalimat yang dibiasakan publik, dan diperuntukkan bagi khalayak.

Jangan salah paham. Hal ini justru menunjukkan betapa dalamnya samudera Al-Qur’an yang bisa diselami kaum ‘arifin, dan dalam saat yang sama, bisa dijangkau oleh mereka yang awam. Adapun syair, kadangkala hanya bisa dipahami mereka yang tajam mata hatinya.

Suatu hari seorang ulama dari Ray (sekarang Iran Utara), Syaikh Yusuf, suntuk membaca al-Qur’an dari pagi hingga siang. Namun belum juga hatinya tersentuh oleh nuansa teduh yang akan memancing air mata, agar hatinya terpuaskan dengan Kalam Allah. Anehnya, setelah mendengar sebuah puisi yang nota bene tidak akan dicatat sebagai ibadah dengan membacanya, hatinya begitu cepat tanggap dan tersentuh perasaannya. Sehingga air matanya pun meleleh membasahi pipi.

Syaikh Israfil, guru dari Dzun Nun al-Mishri, suatu kali menggali tanah sambil bersendandung. Tangannya asyik menggali dan lisannya mendendangkan syair. Menyadari ada seorang lelaki mendekat, ia mendongakkan kepala dan bertanya,

“Apakah engkau bisa mendengarkan sebuah syair yang bisa mendekatkan diri kepada Tuhan?” tanyanya.

“Tidak, wahai Guru,” jawab lelaki itu.

“Berarti dadamu kosong. Kau tak punya dzauq, rasa keindahan,” sahutnya.

Hal ini jelas mengisyaratkan bahwa syair bisa menggerakkan hati  mendekat kepada Allah. Dan musti diingat bahwa dekat dan jauh dalam konsep spiritualitas tidak diukur dengan jarak ruang ataupun waktu.

Namun sayangnya, kebanyakan orang jika mendendangkan syair  cinta dan sejenisnya hanya bertaut dengan sesama makhluk yang fana. Atau lebih sempit lagi; dengan lawan jenis yang ditaksir. Jika saja kecintaan yang meluap-luap dalam hati diarahkan kepada Allah yang baka, tentu banyak pribadi yang sampai (wushul) kepada-Nya. Karena modal utama menjadi kekasih-Nya adalah cinta.

Di dalam Al-Qur’an terdapat surat yang bernama as-Syu’ara (para penyair). Di ayat 224-227, Allah menjelaskan bahwa kebanyakan para ahli syair hanya memperturutkan hawa nafsu, kecuali penyair yang beriman. Hal ini membuktikan bahwa ada respek dari agama terhadap eksistensi syair dan para penyair. Sehingga syair bisa menjadi senjata bermata dua, tergantung si empunya.

Menurut kebanyakan ulama, bila syair tidak mengarah kepada sisi positif atau negatif, pada asalnya bersyair itu jelek. Sebagaimana kata-kata sia-sia yang tak bermanfaat. Indikasi ini tertandas di dalam hadits riwayat Muslim,

“Sungguh jika saja rongga seseorang itu dipenuhi nanah, lebih baik baginya daripada ia memenuhinya dengan syair.”

Mungkin hal ini yang melandasi al-Imam as-Syafi’i berujar dalam syairnya;

ولولا الشعر بالعلماء يزري # لكنت اليوم أشعر من لبيد

“Jika ulama tak terhina bersyair, sungguh aku dari Labid lebih mahir.”

Lihatlah betapa cerdas al-Imam as-Syafi’i mengingatkan ‘kehinaan’ penyair justru dengan syair. Namun bila syair tersebut mengandung nilai positif, membangun kesadaran sosial apalagi mengasah kepekaan spiritual, maka tentu ia adalah syair terpuji. Sebagai pemanasan, mari kita hayati selirik syair populer ini dulu.

“aku rindu padamu”

kemanapun ada bayanganmu
dimanapun ada bayanganmu
di semua waktuku ada bayangmu
kekasihku
kumenangis
menangisku karena rindu
kebersedih
sedihku karena rindu
kuberduka
dukaku karena rindu
kumerana
meranaku karena rindu
mau tidur teringat padamu
mau makan teringat padamu
mau apapun teringat padamu
kekasihku

*Diolah dari Syu’arouna, 127-129, Imil Badi’ Ya’qub, Darul Kutub Ilmiyyah, 2000 [Zq]
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang