Pesantren-pesantren Peduli Lingkungan

8 June 2014

Di masa pra kemerdekaan, pesantren menjadi pelopor perjuangan merebut kemuliaan. Dan di masa kemerdekaan ini, pesantren sebagai komunitas memiliki potensi yang sangat besar dalam pemberdayaan masyarakat.

Santri putri Pesantren Annuqoyah mengolah sampah
SANTRIJAGAD ~ Sejak tahun 1955 hingga 2011, Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia telah mencatat penganugerahan Satya Lencana Pembangunan Bidang Lingkungan Hidup kepada 87 orang penerima penghargaan Kalpataru. Termasuk di antaranya adalah 6 kiai yang mewakili lembaga pesantren yang diasuhnya.

Penghargaan Satya Lencana Pembangunan ini dianugerahkan sekurang-kurangnya lima tahun setelah mereka menerima penghargaan Kalpataru dan masih konsisten mempertahankan kepeloporan atau kegiatannya dalam upaya pelestarian fungsi lingkungan.

Pondok pesantren di Indonesia merupakan ikon pendidikan Islam yang telah terbukti mampu memberikan wajah dan nuansa politik, sosial, ekonomi, dan perubahan bagi masyarakat Indonesia. Pondok pesantren banyak melakuan aksi-aksi lingkungan hidup dan berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Berikut ini pesantren-pesantren penerima Kalpataru yang dapat menjadi teladan dalam berbagai aktivitas pelestarian lingkungan hidup;

Pondok Pesantren Annuqoyah, Madura

Mendapat Kalpataru tahun 1981 dan Satya Lencana 2004. Di bawah kepengasuhan KH Mohammad Tzabit Khazin, Pesantren Annuqoyah berperan aktif dalam upaya penghijauan lahan kritis di Kec. Bluton, Pragaan, Gapura, Ambuten, dan Guluk-guluk. Yakni dengan menanam ribuan pohon dari berbagai jenis. Pesantren Annuqoyah juga mengajak masyarakat membangun dan memelihara sanitasi lingkungan, kamar mandi, toilet bersih, dan sarana penampungan air bersih.

Pondok Pesantren Hidayatullah, Balikpapan

Menerima Kalpataru tahun 1984 dan Satya Lencana 1997. Pesantren ini didirikan oleh KH Abdullah Said. Upaya yang dilakukan adalah dengan menghijaukan lahan dan rehabilitasi kawasan pesantren yang berada di Gunung Tembak, Balikpapan. Hingga sekarang, pesantren ini telah berhasil melakukan kegiatan pencegahan erosi hutan lindung dengan mengelola 100 hektar lahan di sekelilingnya. Kawasan rawa gambut Kalimantan mereka jadikan kolam ikan sebagai upaya penumbuhan ekonomi pesantren sekaligus melakukan penghijauan.

Pondok Pesantren Al-Amin, Lampung Tengah

Mendapat Kalpataru tahun 1994 dan Satya Lencana 2000. Di bawah asuhan KH Anwar Sholeh, pesantren di Desa Toba Kecamatan Perwakilan Sekampung Udik Jabung ini berperan aktif dalam upaya penghijauan sekeliling lingkungan pesantren dengan tanaman jati, sengon kertas, dan pengembangan perikanan air tawar untuk menumbuhkan perekonomian masyarakat sekitar.

Pondok Pesantren Pabelan, Jawa Tengah

Mendapat Kalpataru tahun 1982 dan Satya Lencana 2004. Hingga kini, Pesantren Pabelan berperan aktif dalam melanjutkan dan mengembangkan kegiatan pelestarian lingkungan yang dipimpin pengasuhnya, DRs. KH Ahmad Mustofa. Yakni dengan mengikuti perkembangan teknologi melalui pembuatan bendungan “Kojor Semendi” yang pada tahun 1982 dapat mengairi sawah penduduk seluas 217 hektar, sekarang meningkat menjadi 810 hektar. Upaya ini juga meningkatkan pendapatan warga sekitar melalui usaha perikanan air tawar dan ikan hias.




Santri putra Pesantren Pabelan bekerja bakti membangun masjid

Pondok Pesantren Sabilil Muttaqin, Jawa Timur

Mendapat Kalpataru tahun 1985 dan Satya Lencana 2006. Selain bergiat di bidang pertanian organik, pesantren asuhan Ir. H. Mir’atul Mukminin ini juga mengampanyekan penyuluhan lingkungan melalui dakwah. Adapun materi dakwah yang disampaikan meliputi: pengembangan pertanian organik, perkebunan, dan peternakan.

Pesantren ini berada di daerah yang terdiri dari bentangan rawa yang sulit diolah. Namun pesantren berhasil memanfaatkan rawa untuk membudidayakan tanaman produktif. Kegiatan lain di samping pengajian adalah pengembangan ekonomi masyarakat, pendidikan administrasi, teknik radio, pengetahuan topografi, kerajinan membatik, keterampilan pertanian dan perkebunan, cara beternak ayam dan itik, serta pengolahan minyak kelapa dan kenanga.

Pondok Pesantren Al-Ittifaq, Ciwidey

Menerima Kalpataru tahun 2003 dan menjadi kandidat penerima Satya Lencana. Pesantren asuhan KH Fuad Affandi ini melakukan pemberdayaan pertanian organic, pemanfaatan lahan secara efektif dan peningkatan ekonomi masyarakat. Al-Ittifaq memelopori pendirian kelompok petani sayur mayur dan mengirimkan 3-4 ton sayuran ke berbagai supermarket di Jakarta dan Bandung, dengan frekuensi tiga kali seminggu.

Pesantren ini mengkoordinir 500 kelompok petani sayur yang kemudian menumbuhkan pemberdayaan perekonomian masyarakat komunitas pesantren dalam bentuk sekolah gratis, peningkatan pendapatan, dan kesejahteraan petani. Selain itu, pesantren juga memproduksi pupuk organic di Cijapati, Jawa Barat, dengan kapasitas produksi 2 ton per hari.

Bertabur anjuran di dalam Qur’an maupun Hadits tentang betapa baiknya menjaga kelestarian lingkungan. Baik tersurat maupun tersirat. Warga pesantren pun sudah sangat akrab dengan berbagai dalil tersebut. Namun tentu pengamalan jauh lebih penting ketimbang sekedar teori. Dan pesantren-pesantren di atas telah berhasil menjadi teladan dalam kontekstualisasi dalil-dalil tersebut.

Di masa pra kemerdekaan, pesantren menjadi pelopor perjuangan merebut kemuliaan. Dan di masa kemerdekaan ini, pesantren sebagai komunitas memiliki potensi yang sangat besar dalam pemberdayaan masyarakat. Mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, teknologi, hingga pelestarian lingkungan. Alangkah indahnya jika makin banyak bermunculan kegiatan-kegiatan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di pesantren-pesantren lain se-Nusantara. [Zq]

*Sumber: Ekopesantren, hal. 208 – 211, Fachruddin Mangunjaya, YOI, 2014
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang