Stop Dakwah Kebencian!

15 June 2014

Jadikan kami ummat percaya diri, beriman kepada-Mu dan tak lagi merasa takut dengan konspirasi. Sudah cukup kebencian dan keberingasan yang dilandasi rasa ketakutan. Kini saatnya raih keindahan dengan kembali memantapkan iman.

Ismail Fajrie Alatas
Ismail Fajrie Alatas – University of Michigan

Terkadang saya heran dengan kebanyakan ustadz dan muballigh yang kerap mendengungkan teori konspirasi non-Muslim terhadap ummat Islam. Mereka menganggap adanya persekongkolan antara ‘musuh-musuh ummat’, baik gerakan misionaris Kristen, Zionisme, dan sebagainya. Ceramah-ceramah demikian membuat sebagian ummat merasa cemas, takut dan tegang, sehingga terkadang berimbas pada keharmonisan antaragama.

Sedari dini, anak-anak kita dilatih untuk mengenali musuh di luar sana. Ketimbang memberi kesejukan dan memupuk kasih sayang, banyak ahli agama yang justru menebar kebencian dan ketakutan pada perbedaan iman. Akibatnya, semakin hari, ummat Islam semakin menjadi kelompok insular yang memiliki phobia terhadap yang lain.

Hal ini tentu berbeda dengan mentalitas ummat Islam dahulu yang tak pernah takut berdialog, belajar, dan meminjam dari yang asing. Dengan penuh percaya diri, mereka mampu memandang sesama manusia dengan setara tanpa terlalu memperhatikan backgroundnya. Rasa percaya diri dan keberanian untuk menebar kasih, tentu saja hanya mungkin pada mereka yang memiliki kekuatan iman. Mereka tak gentar pada pelbagai upaya persekongkolan dan konspirasi orang-orang yang tak menyukai mereka, apalagi hanya sebatas phobia.

Dahulu kaum Muslimin memegang teguh firman Tuhan yang menggambarkan mereka yang memiliki kekuatan iman. Surat al-Imran ayat 173 menggambarkan tentang kaum beriman.

“… (yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia (Kafir Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung’.”

Dalam ayat tersebut dijabarkan ada beberapa kelompok manusia mendatangi orang beriman dan mengatakan, “Saudara, sesungguhnya ada persekongkolan, ada konspirasi!” Mereka berkata, “Hati-hati Saudara, sesungguhnya orang-orang itu tidak menyukaimu, mereka akan berbuat jahat kepadamu!"

Mungkin di zaman ini ceritanya menjadi: sekelompok orang mendatangi seorang beriman dan menakut-nakutinya dengan pelbagai konspirasi. Atau mungkin kini ceritanya tak lagi orang-orang yang mendatangi seorang beriman, tapi justru majalah-majalah yang mendengungkan teori konspirasi. Sekelompok orang yang mendatangi si mu'min, berkata, "Kau harus takut, hati-hati dengan mereka! Hati-hati dengan konspirasi salibis-zionis-kapitalis-liberalis-pluralis-komunis-demokratis-sosialis-sipilis!"

Lantas apa jawaban si mu'min tadi? Apa tanggapannya pada saat ia ditakut-takuti dan ditanamkan rasa phobia?

Fazaadahum iimanaa; justru bertambah keimanan mereka, tak gentar, tak takut dengan segala bentuk persekongkolan dan konspirasi. Si mu'min dengan tenang menjawab: "Hasbuna Allah wa ni'mal wakil." Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

Jadi, kawan, mengapa cemas? Mengapa takut? Mengapa gemetar? Cukuplah Tuhan menjadi penolong, karena Allah sebaik-baik pelindung. Walaupun konspirasi sekuat apapun, sedahsyat apapun, sejahat apapun, kami tak gentar, kami tak peduli.

Kami tetap melakukan apa yang selama ini kami lakukan. Kami tetap berakhlaq terpuji, kami tetap berbaik sangka, kami tetap mengasihi. Tak satupun bulu berdiri, tak satupun mata menangis, dan tak jua merasa takut. Iman kami tak memberikan ruang tuk merasa gentar! Iman kami kepada Yang Maha Kuasa menjadikan kami tenang.

Hasbuna Allah wa ni'mal wakil.


A Global Conspiracy
Ya Tuhan, dengan berkat dan kehormatan kekasih kami Muhammad, shalla Allahu ‘alaihi wa sallam, cabutlah kebodohan dan kelemahan iman dari tengah ummat. Dengan kebesaran Sang Kekasih, shalla Allahu ‘alaihi wa sallam, perbaiki iman kami sehingga kami tak selalu merasa phobia dengan perbedaan.

Dengan keagungan Sang Kekasih, shalla Allahu ‘alaihi wa sallam, izinkan kami, Tuhan, tuk merasakan manisnya iman sehingga mampu mengasihi sesame. Dengan keindahan Sang Kekasih, shalla Allahu ‘alaihi wa sallam, jadikan kami ummat percaya diri, beriman kepada-Mu dan tak lagi merasa takut dengan konspirasi.

Sudah cukup kebencian dan keberingasan yang dilandasi rasa ketakutan. Kini saatnya raih keindahan dengan kembali memantapkan iman. Shalawat dan salam tetap tertuju pada Sang Kekasih dan keluarganya, sinaran murni cahaya iman, hingga hilang segala kecemasan dan kebencian. []

*Sumber: chirpstory @ifalatas
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang