Berilmu dan Cerdas Saja Apakah Cukup?

27 August 2014

Yang tidak terdapat dalam Imam Google adalah Qudwah, atau bagaimana ia menjadi contoh berkelakuan baik untuk orang orang bodoh. Artinya Imam Google gagal atau tidak bisa membentuk para muridnya menjadi orang yang berahlaq karimah.


cerdas dan berilmu


Oleh: Zainal Wong Wongan

Apa yang tidak bisa kita ketahui di zaman Google yang telah menjadi Imam besar ilmu pengetahuan? Bahkan kita bisa mendapatkan ilmu bagaimana cara mengatasi burung si adek yang digigit tengu itu cukup dengan merendam tembakau dan menyiramkan pada burungnya. Tetapi apakah Ilmu pengetahuan dapat mengantarkan kita pada keselamatan Akhirat? Lihat saja Fir'aun yang memusuhi Musa AS.

Ilmu adalah musuh dari kebodohan, maka dari itu, fakta yang sering terjadi, seorang yang berilmu suka memusuhi orang bodoh, ada kalanya karena memang benci dan ada kalanya karena ingin memanfaatkannya. Dan betapa banyak orang orang berpendidikan itu tidak kembali mendidik orang orang bodoh, justru membodohi orang orang bodoh dengan kepintarannya.

Yang tidak terdapat dalam Imam Google adalah Qudwah, atau bagaimana ia menjadi contoh berkelakuan baik untuk orang orang bodoh. Artinya Imam Google gagal atau tidak bisa membentuk para muridnya menjadi orang yang berahlaq karimah.

Padahal betapa berperannya sebuah akhlaq, baik bagi diri sendiri atau orang lain.

ﺇﻥاﻟﺮﺟﻞ ﻟﻴﺒﻠﻎ ﺑﺤﺴﻦ ﺧﻠﻘﻪ ﺩﺭﺟﺔ اﻟﺼﺎﺋﻢ اﻟﻘﺎﺋﻢ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ

"Sesungguhnya seorang kaki laki akan sampai ke derajat ahli puasa dan bangkit dalam sabilillah sebab bagusnya akhlaq"

Orang yang berahlak mampu menempati maqom puasa, artinya seorang yang berahlaq karimah mampu mengemplementasikan nilai dan karakter puasa bagi dirinya, mulai dari menahan nafsu, bersabar, istiqomah dan sebagainya. Juga mencapai derajat pejuang fi sabilillah, yang artinya nilai keberanian, kedisiplinan dan lainnya.

ألقدوة  قبل الدعوة

"Ketauladanan itu sebelum dakwah"

Itulah kenapa kita butuh berguru kepada orang orang yang bukan pinter ndobos saja, kita butuh ketularan dari komitmennya dan amal perbuatannya sehari hari. Orang orang semacam itu biasanya seorang psikolog yang nantinya akan mampu mengantarkan kita kepada akhlaq mulia, dialah yang dikenal dengan sebutan Mursyid itu. [Bm]

*Sumber: timeline facebook Zainal Wong Wongan
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang