Kesalahan Rasulullah

7 August 2014

Kita harus dengan baik belajar bertatakrama kepada para Nabi jika ingin benar dan tepat dalam menjalankan syariat. Sebab, ketidakadaan tatakrama kepada Nabi efeknya sangat tidak baik tak hanya pada seorang muslim, namun manusia secara umum.

Rasulullah

Awy A. Qolawun – Masyru’ Al-Maliki Makkah
Apakah Rasulullah pernah melakukan kesalahan? Jika dijawab "tidak", maka ada yang memberi negasi bahwa Nabi pernah melakukan "kesalahan" dengan argumen QS. 80. Lalu mana yang benar? Nabi Muhammad (juga para Nabi yang lain) pernah melakukan kesalahan atau tidak? Lalu bagaimana taujih atas QS. 80 itu? Apa maksud dalam Surat ‘Abasa yang mengisahkan teguran Allah atas Rasulullah yang mengabaikan dan bermuka masam terhadap seorang lelaki buta?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, sebelumnya kita harus memosisikan Rasulullah sebagai panutan (qudwah), bukan sebagai ukuran persamaan (qiyas). Sebab, menjadikan Rasulullah sebagai ukuran persamaan, analogi, qiyas adalah kesalahan pemikiran cukup fatal yang menyeret banyak hal negatif. Semisal ada yang berkomentar soal menikahi anak di bawah umur, atau perihal poligami, lalu untuk melegalkan perbuatannya itu dan membawa-bawa nama Nabi.

Atau semisal ada soal dalam amaliah (ini biasanya dipakai tukang penuduh bid'ah dalam menyalahkan) dengan mengatakan kepada yang dianggap berbid'ah; "Apa kamu merasa lebih baik dari Nabi sehingga membuat amalan baru?" Kalimat ini hanya muncul dari orang yang salah memposisikan Nabi, sebagai miqyas. Karena seawam-awamnya orang Islam, tidak akan terlintas di benaknya bahwa dia merasa lebih baik dari Nabi. Orang yang menembak muslim lain dengan statemen tadi, acapkali dalam cara berpikirnya (tanpa ia sadari) menjadikan Nabi sebagai analogi. Padahal memposisikan Nabi sebagai ukuran persamaan dengan dirinya dan perilakunya adalah puncak kekurangajaran, muntaha su-ul adab.

Contoh sederhana sekali, semisal dia menikah umur 25 lalu mengatakan bahwa Nabi juga menikah umur 25. Ia menyamakan, bukan mengikuti. Ketika mengatakan itu, apa dia tidak sadar umurnya yang 25 ini sudah dapat apa, sementara Nabi saat usia 25 itu sudah seperti apa.

Atau semisal (ini yang sering dipropagandakan) perihal pendirian sistem pemerintahan Islam, tanpa melihat apa yang dilakukan Nabi sebelumnya. Karena kita, setakwa apapun, sepandai apapun, tak akan pernah bisa menyetarakan diri dengan para Nabi, mereka adalah qudwah, panutan kita. Di Qur'an dikatakan "laqod kana lakum fi Rosulillahi uswah" (panutan) bukan "laqod kana lakum fi Rosulillah miqyas" (ukuran persamaan).

Termasuk contoh efek negatif dari menyetarakan diri dengan Nabi adalah malah membawa umat ini mundur ke belakang. Segala hal harus sama dengan zaman Nabi. Akhirnya malah yang terlintas di benak kita adalah zaman yang gersang dan kuno sekali. Itupun praktek perilaku yang dipakai bukan perilaku yang dicontohkan Nabi, tapi perilaku sebagian Arab yang masih jahiliah saat itu, kaku. Dan tentu saja (membawa ummat ke belakang) adalah malah contoh nyata dari bid'ah. Sebab Nabi tidak mengajarkan hal itu.

Nah, jika kita bisa dengan baik menjadikan Nabi sebagai qudwah, maka justru kita akan semakin maju sekaligus bertakwa dengan benar. Dan itu dipraktekkan dengan baik oleh para salaf shaleh sehingga Islam mencapai puncak keemasan dalam segala hal. Sebab seluruh ajaran para Nabi adalah mendorong umatnya untuk maju dan tidak berpikiran kaku. Satu-satunya jalan untuk itu adalah dengan menjadikan Nabi sebagai qudwah (panutan), bukan sebagai miqyas (ukuran persamaan).

Kembali ke persoalan apakah Rasulullah berbuat kesalahan atau tidak. Kita memang tidak bisa begitu saja menyalahkan orang awam yang berpikir bahwa Rasulullah (juga Nabi yang lain) pernah berbuat salah. Tapi kita bisa mengarahkan mereka agar tidak terus berpikiran bahwa para Nabi-pun jg melakukan kesalahan. Dan ini adalah ranah Ihsan atau dzauq (kepekaan bertatakrama), khususnya kepada para Nabi, kelompok manusia terbaik pengajar dan penuntun kehidupan semesta.

Jika kita pernah belajar Aqidatul Awwam di masa kecil kita, ada 3 bait yang menjelaskan ekselensi-ekselensi khusus para Nabi. Dan bait ketiga adalah ekselensi ‘ishmah, yakni terjaganya para Nabi dari dosa dan kesalahan sejak mereka belum resmi diangkat sebgai Nabi. Ishmah-nya para Nabi ini adalah ideologi paling dasar dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Berpikiran Nabi tidak ma'shum bisa bahaya pada keimanan.

Lantas bagaimana arahan perihal peristiwa-peristiwa yang secara lahiriah seolah para Nabi itu berbuat "kesalahan"? Semisal kisah melanggarnya Nabi Adam dengan makan buah larangan, kaburnya Nabi Yunus dari kepentingan dakwah, komplainnya Nabi Nuh soal anaknya yang terbawa banjir raksasa, sikap Nabi Musa sampai disuruh berguru kehidupan lagi pada seseorang, atau kisah di QS. 80 soal Nabi kita yang sempat merasa terganggu dengan kehadiran seorang tuna netra saat beliau sedang mengajak tokoh Quraisy memeluk Islam, atau Nabi Daud yang berpikiran ingin menikahi wanita yang ternyata telah jadi istri orang, atau Nabi Ibrahim yang mengaku sakit padahal tidak?

Tentu saja para Nabi itu mendapat "teguran" langsung dari Allah. Nah apa arahan bagi kita melihat semua fakta dalam al-Qur'an itu? Sebelumnya, ada dua hal yang harus kita pahami dengan baik terlebih dahulu menyikapi "kesalahan" para Nabi ini.

Pertama; jangan pernah sekalipun menyamakan "kesalahan" mereka seperti kesalahan-kesalahan naif yang kerap kita perbuat. Kedua, kita harus tahu bahwa para Nabi ini pendidikan, tarbiyah dan penjagaannya langsung di Tangan Allah. Dan kita juga harus tahu tugas utama para Nabi, yaitu mengajarkan umat manusia bagaimana menempuh kehidupan ini. Dan tentu saja, salah satunya adalah bagaimana cara bersikap jika melakukan kesalahan. Dari sini kita harus melihat bahwa "kesalahan-kesalahan" yang dilakukan para Nabi itu adalah sejenis adegan, maka tentu ketidaktepatan saat seseorang melihat pada titik "kesalahan"-nya.

Sebab, fokus dan pesan yang disampaikan Allah melalui para Rosulnya itu adalah bagaimana yang harus dilakukan jika mengalami kesalahan. Artinya, pada hakikatnya para Nabi itu tidak melakukan kesalahan, namun diadegankan melakukan kesalahan untuk memberikan pelajaran.

Bukti lain dari itu adalah pada suatu waktu Rasulullah shalat Ashar hanya dua rakaat saja. Tentu saja para Sahabat bertanya-tanya. Apa Rasul lupa? Atau salah? Atau syariat baru? Dan saat ada yang tanya, Rasul langsung menjawab; tidak salah juga tidak lupa, “Wa innama unassa li usyarri', bahwa aku dibuat lupa/dibuat salah untuk mensyariatkan ajaran baru lagi.” Itu yang dikatakan Nabi dalam hadits sebab musabab disyariatkan sujud sahwi dalam sholat kala lalai/melakukan kesalahan dalam rukun.

Pada akhirnya, kita harus dengan baik belajar bertatakrama kepada para Nabi jika ingin benar dan tepat dalam menjalankan syariat. Sebab, ketidakadaan tatakrama kepada Nabi efeknya sangat tidak baik tak hanya pada seorang muslim, namun manusia secara umum. Karena para Nabi dan Rasul (yang jumlahnya 124.000 itu) adalah kelompok manusia terbaik pilihan Allah yang terjaga dari salah dan dosa.

Semoga mencerahkan, menambah ilmu dan tahu bagaimana bertatakrama pada para Nabi, khususnya Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam. [Zq]

*Sumber: Chirpstory @awyyyyy
Share on :

2 comments:

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang