Agama dan Pasar Hiburan

12 October 2014

Ketika agama masuk dalam dunia hiburan, maka agama pun akan mengalami hal yang sama; serba instan dan popular. Tidak perlu kualitas, bobot, dan dampak terhadap kehidupan relijius masyarakat. Karena yang penting adalah rating naik sehingga iklan akan mudah berdatangan menawarkan diri untuk di pasang.


agama dan pasar hiburan


Oleh: Khamami Zada*

Ramadhan ternyata tidak hanya menjadi bulan berkah bagi para ustad dan da’i, tetapi juga menjadi berkah bagi para artis. Lihat saja hampir di setiap malam menjelang sahur yang menjadi acara prime time di televisi banyak diisi oleh artis dengan gaya jenaka dan leluconnya; seakan ingin mempersembahkan hiburan kepada pemirsa. Belum lagi acara prime time yang disuguhkan melalui program sinetron, terutama di tiga stasiun besar; RCTI, Indosiar, dan SCTV, yang dari tahun ke tahun selalu saja menampilkan artis-artis yang sama (Tamara Blenzynski, Teuku Riyan, Anjasmara, Sahrul Gunawan, Gunawan, dll.).

Fenomena ini menunjukkan bahwa industri hiburan menjadi komoditas yang paling mampu menarik perhatian masyarakat, meskipun di bulan Ramadlan yang secara normatif umat Islam diperintahkan untuk memperbanyak ibadah. Seakan-akan industri hiburan sedang berlomba-lomba dengan umat Islam yang sedang memperbanyak ibadah di malam hari. Siapa yang menang? Tentu saja, industri hiburan dengan suguhan acaranya yang memikat, menghipnotis, dan menjebak pemirsa.

Industrialisasi Agama

Ramadhan, meskipun menjadi bulan suci di mana umat Islam menunaikan puasa, memperbanyak ibadah, dan sedekah, tetap tidak bisa dilepaskan dari hisapan industrialisasi. Dalam bahasa lain, di bulan Ramadlan ini “agama” masuk dalam perangkap pasar hiburan, yang tentunya logika pasar juga mensyaratkan beberapa hal untuk kelangsungannya. Karena itulah, terjadi adaptasi, akomodasi, dan penyesuaian “agama” terhadap pasar hiburan secara signifikan. Hal ini dapat kita lihat ketika para ustadz hanya ditampilkan dalam fragmen yang paling sedikit ketimbang para pelawak yang mendominasi program sahur televisi. Lihat saja berapa lama para ustadz tampil di program sahur televisi; Ramadhan di Istana (Indosiar) dan Sana Sini Saur (SCTV) dibandingkan dengan gaya para pelawak yang mencoba menghibur pemirsa.

Inilah industri hiburan di media televisi yang tidak bisa dikalahkan dengan panorama agama yang menampilkan dakwah. Ketika agama hendak masuk ke dalam pasar hiburan, maka yang terjadi adalah agama lah yang menyesuaikan pasar hiburan. Dengan alasan tidak laku, tidak layak jual, ratingnya rendah, dan sebagaimanya, agama harus menjadi subordinat dalam pasar hiburan. Sayangnya, fenomena ini tidak ditangkap secara sadar oleh pemirsa (umat dan agamawan), sehingga yang terjadi adalah industrialisasi agama. Karena pada dasarnya, perkawinan yang tidak seimbang antara agama dan industri hiburan telah memarjinalkan agama dalam kutub komersialisasi.



Sekadar sebagai catatan, dampak terbesar dari industrialisasi adalah semakin maraknya budaya konsumtif (consumer culture) dalam kehidupan masyarakat. Dan secara terminologis, budaya konsumtif diartikan sebagai: 1) suatu kekuasaan kultural dalam masyarakat kapitalis modern yang berorientasi kepada pemasaran dan pemakaian barang-barang dan jasa-jasa pelayanan. 2) Suatu kultur yang membedakan status dan membagi pangsa pasar dari masyarakat modern, ketika cita rasa individu tidak hanya merefleksikan lokasi-lokasi sosial (umur, gender, pekerjaan, etnik, dan sebagainya), tetapi juga merefleksikan nilai-nilai sosial dan gaya hidup individu, para konsumen (Collin's Dictionary of Sociology, 1991).

Tentu saja, logika yang dibangun pasar hiburan adalah mengindustrialisaiskan agama. Maka, agama harus menjadi produk atau komoditas yang cepat dan banyak dibeli masyarakat. Tak heran jika Ustadz Jefry Bukhori  harus tampil atraktif di depan kamera televisi, sinetron relijius dibungkus dengan logika pasar dengan mistik dan kisah mengerikan, dan pengajian akbar para da’i kondang dituntut tidak menurunkan rating. Semuanya ini sesungguhnya menunjukkan fenomena betapa agama sedang mengikuti dunia hiburan yang serba instant, serba cepat, popular, dan gaya hidup selebritas. Ketika agama masuk dalam dunia hiburan, maka agama pun akan mengalami hal yang sama; serba instan dan popular. Tidak perlu kualitas, bobot, dan dampak terhadap kehidupan relijius masyarakat. Karena yang penting adalah rating naik sehingga iklan akan mudah berdatangan menawarkan diri untuk di pasang.

Dengan logika ini, maka agama kemudian diindustrialisasikan menjadi komoditas yang laku dijual ke publik. Jika agama tidak bisa dijadikan sebagai komoditas pasar, maka agama harus menyingkir dalam pasar hiburan; kembali ke habitatnya yang jauh dari hingar-bingar,  selebritas, dan iklan.

Agama, Media, dan Keberpihakan

Menurut Alex Sobur, media (pers) sering disebut banyak orang sebagai the fourth estate (kekuatan keempat) dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Hal ini terutama disebabkan oleh suatu persepsi tentang peran yang dapat dimainkan oleh media dalam kaitannya dengan pengembangan kehidupan sosial-ekonomi dan politik masyarakat. Bahkan, media, terlebih dalam posisinya sebagai suatu institusi informasi, dapat pula dipandang sebagai faktor yang paling menentukan dalam proses-proses perubahan sosial-budaya dan politik.

Tak heran, jika agamawan sangat membutuhkan media sebagai alat penyebaran dakwah. Tetapi menjadi ironis ketika agamawan bersanding dengan pasar hiburan (khususnya dalam media) yang biasanya berada dalam kerangka berfikirnya sendiri. Meskipun menjadi buah bibir, populer di masyarakat, dan dielu-elukan oleh umat, tetapi karakter yang sesungguhnya adalah lemahnya misi keberpihakan para agamawan terhadap masyarakat bawah (grassroot). Ketika para agamawan berselingkuh dengan industri hiburan yang berada dalam bayang-bayang kapitalisme, maka sensisitivitas mereka terhadap penyelesaian problem-problem masyarakat menjadi rendah. Bahkan, mereka telah kehilangan daya kritisnya terhadap kapitalisme yang menindas masyarakat kelas  bawah.

Begitu pula media yang jelas-jelas sangat tergantung dengan kapitalisme. Mau tidak mau, media harus tunduk pada ideologi pengerukan keuntungan bagi para pemodalnya. Ideologi keberpihakan para krunya harus disisihkan dulu demi pragmatisnya untuk survival  hidup. Tak bisa tidak, media menjadi alat kapitalisme untuk menarik keuntungan melalui program siarannya yang ditunjukkan dengan rating yang tinggi.

Karena itulah, keberpihakan agamawan terhadap masyarakat yang menjadi konsumen media mesti dibangkitkan kembali agar kehidupan agama bukan sekadar lipstik, instan, popular, dan gaya hidup (life style) selebritas, melainkan menjadi hakikat keberagamaan yang mendasari pada cita-cita perubahan sosial di dalam masyarakat. Akankah terjadi perubahan? [Bm]

*Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Manajer Program Kajian Agama dan Kebudayaan PP. Lakpesdam NU
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang