Satu Guru Beda Amalan

31 October 2014

Haji Agus Salim meminta Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari mendidik santri agar tidak mendewakan guru. Lebih suka berdiskusi ketimbang menggurui. Mereka bertiga adalah murid-murid Syaikh Akhmad Khatib al-Minangkabawi.


Kapal laut yang seharusnya mengangkut Haji Agus Salim pulang dari Mekah ke Jakarta pada musim haji 1927 itu rusak. Nahas ini membuat kepulangan Salim dari menghadiri Muktamar Alam Islami mundur sepekan. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) yang sedang belajar di Mekah memanfaatkan kesempatan ini untuk berguru kepada Haji Agus Salim.

Kala itu Hamka berusia 23 tahun, ini pertemuan keduanya dengan Salim setelah sebelumnya pernah bertemu di Pekalongan. Dalam buku 100 Tahun Haji Agus Salim, Hamka menuliskan perjalanannya menjadi pemandu Salim di Tanah Suci pada saat itu. Mereka mengunjungi beberapa ulama asal Indonesia yang bermukim belasan tahun di sana, semisal Janan Thaib (Minangkabau) dan Ahmad Baqir (Yogyakarta).

Dalam kunjungan ini, Hamka menyatakan keinginannya untuk meniru para ulama Nusantara yang bermukin di Mekah tersebut. Namun bukan dukungan yang ia dapat, Salim malah meminta Hamka membatalkan rencananya,

“Datang ke Mekah itu untuk menunaikan ibadah haji,” katanya, “Jika seseorang bermukim lama di Mekah, pulangnya nanti paling-paling hanya diminta jadi pembaca doa di acara kenduri.”

Agus Salim menilai berumah di Mekah membuat seorang ulama tak akrab dengan problem yang dihadapi umat di Indonesia. Ia merujuk pada ayah Hamka, Haji Abdul Karim Amrullah, yang belajar di Mekah sebentar lalu pulang ke Tanah Air dan mendirikan Sumatera Thawalib, sekolah Islam modern pertama di Nusantara.

“Masalah agama yang timbul di Indonesia, yang memecahkan masalahnya adalah orang Indonesia sendiri. Karena itu ayahmu adalah ulama Indonesia,” tandasnya.

Mekah pada saat itu masih menjadi tujuan para calon ulama Indonesia. Di sana sebelumnya ada Syaikh Akhmad Khatib al-Minangkabawi (1852-1915), paman Agus Salim yang menjadi imam mazhab Syafi’i di Masjidil Haram. Agus Salim sendiri, Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah), maupun Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama) adalah murid-muridnya. Kendati satu guru, mereka memiliki gaya perjuangan berislam yan g berbeda.

Ahmad Dahlan dan Agus Salim memiliki kesamaan dalam menampilkan Islam. Keduanya sama-sama bergabung dalam Muhammadiyah dan Sarekat Islam Ahmad Dahlan resmi menjadi anggota Sarekat Islam sejak erdiri pada 1910 dan Agus Salim lima tahun kemudian. Belakangan, Agus Salim menjadi orang dua setelah Haji Omar Said Tjokroaminoto di organisasi tersebut.

Ketika Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 1912, tidak lama kemudian Agus Salim bergabung. Keduanya terpisah ketika Agus Salim memimpin disiplin organisasi dalam Sarekat Islam: setiap orang hanya boleh bergabung dalam satu organisasi. Agus Salim bertahan di Sarekat Islam dan Ahmad Dahlan memilih Muhammadiyah.

Meski memiliki guru yang sama, selama di Nusantara ketiga tokoh ini jarang bertemu karena lebih banyak menghabiskan waktu di daerah masing-masing. Namun Agus Salim pernah berpesan ketika kedua teman seperguruannya itu membangun pesantren;

“Ajari santrimu agar jangan mendewakan guru hingga melupakan Nabi Muhammad.” [Zq]

*Sumber: Majalah Tempo, Agustus 2013, hal. 74-75
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang