Terorisme dan Gerakan Islam Malaysia

13 October 2014


Eksodus para teroris Malaysia ke Indonesia membentuk pola jaringan yang tertata rapi dalam struktur gerakan bawah tanah, dengan tetap berpusat di Malaysia. Inilah yang kemudian membentuk jaringan Asia Tenggara meliputi kawasan Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Singapura.
SANTRIJAGAD ~ Dua gembong teroris: Dr. Azahari dan Noordin M. Top adalah warga negara Malaysia. Keduanya menjadi target utama aparat kepolisian Indonesia semenjak maraknya aksi terorisme di tanah air (Bom Bali I, J. W. Marriot, Kuningan, dan Bom Bali II).  Dr. Azahari sudah tewas ditembak polisi di Malang, sedangkan Noordin M. Toop masih dalam buronan kepolisian.

Dalam benak kita, orang Malaysia kok tega-teganya memporak-porandakan bangsa Indonesia dengan aksi terorisme yang mereka tebarkan di beberapa daerah. Padahal, Indonesia bukanlah sasaran yang ideal, jika tujuannya adalah untuk melawan musuh-musuh Islam. Bukankah bangsa Indonesia mayoritas beragama Islam melebihi Malaysia dan sama-sama bangsa Melayu. Apa yang membuat mereka terjun ke dalam kegiatan terorisme di Indonesia, bukan di negara Asia Tenggra lainnya, seperti Singapura, Thailand atau Filiphina. Atau yang lebih jauh lagi, Israel yang telah mencaplok tanah Muslim, Palestina atau Amerika Serikat yang sesalu bersikap tidak adil kepada negara-negara Muslim di Timur Tengah. Tentu saja untuk menjawabnya sangat sulit.

Namun berkembang tudingan bahwa Malaysia menjadi produsen terorisme. Opini ini berkembang di masyarakat setelah secara meyakinkan diungkap oleh aparat kepolisian bahwa Dr. Azahari lah yang bertindak sebagai pembuat bom dan Noordin M. Top yang bekerja untuk merekrut orang untuk melakukan bom bunuh diri. Kedua kombinasi ideal ini dengan bukti nyata berbagai aksi pengeboman di tanah air tentu saja melahirkan kesimpulan oleh sementara orang bahwa Malaysia sebagai negara produsen terorisme dan Indonesia sebagai target terorisme.

Opini yang berkembang di masyarakat bahwa Malaysia sebagai produsen terorisme sulit dibantah, meskipun Islam di Malaysia sejatinya memiliki diversitas yang cukup tinggi seiring dengan keragaman cara pandang masyarakat Muslimnya dalam menginterpretasikan doktrin Islam. Berbagai kelompok ada di Malaysia dari yang moderat hingga yang radikal sekalipun.

Ada kelompok Islam Hadari, yakni Islam versi pemerintah karena menjadi bagian dari upaya  pemerintah untuk menciptakan satu penafsiran Islam yang sesuai dengan program pemerintah (Mohd Nakhaie Ahmad, 2004). Ada Islam Politik yang diwakili Partai Islam se-Malaysia, PAS sebagai satu-satunya partai Islam yang hingga kini eksis di perhelatan pemilu melawan partai pemerintah UMNO yang kini dipimpin oleh Abdullah Badawi, setelah Mahthir Muhammad mundur dari percaturan politik. Ada Islam Progesif, yang mengusung gagasan-gagasan progesif tentang demokrasi, HAM, gender, dan kebebasan berpikir. Tokoh penting yang bergulat pada isu gender di Malaysia tentu saja Zainah Anwar (Sister in Islam), Chandra Muzaffar (JUST), dan Farish Noer, intelektual muda Islam Malaysia yang lebih suka hidup di luar negeri untuk memperjuangkan isu Islam dan kebebasan berpikir.



Sementara itu, kelompok Islam Radikal di Malaysia tidak mampu bangkit akibat sikap represif pemerintah. Mereka kemudian menjadi kelompok minoritas yang keberadaannya tidak jelas. Dalam hal ini, ada beberapa kelompok Islam yang dikategorikan kelompok Islam  radikal (meskipun istilah ini tidak mewakili semua kelompok). Ada Kelompok Mujahidin Malaysia (KMM), Maunah dan organisasi silat lainnya, dan Jamaah Islamiyyah, yang masih tidak begitu jelas organisasinya.

Perkembangan Islam radikal di Malaysia sesungguhnya dapat dilihat secara lebih jelas setelah Kerusuhan Rasial 1969, dengan munculnya organisasi-organisasi silat yang berorientasi Islam dan cenderung milenarian. Kelompok-kelompok ini dapat dilacak ke belakang kepada gerakan bersenjata Sabililah yang menyerang perkampungan Cina pedesaan dan mempertahankan diri selama bentrokan Sino-Melayu akhir 1945 setelah Jepang menyerah kepada Inggris. Kebanyakan kelompok-kelompok “reborn” ini bermarkas di perkampungan Melayu di pinggiran ibukota nasional, Kualalumpur. Banyak dari mahasiswa ketika itu menjadi anggota atau pendukung kelompok-kelompok organisasi silat.

KMM merupakan organisasi underground, yang tidak nampak secara jelas. Banyak alumni jihad dari Afganistan yang bergabung bersama KMM, dan pernah membantu jihad dalam konflik Ambon dan Filiphina. Anggota-anggota KMM yang mendapatkan tindakan represif pemerintah banyak yang ditampung oleh PAS. Bahkan PAS juga yang membantu mereka secara hukum ketika ditangkap oleh polisi. Dalam konteks inilah, jaringan KMM, Jamaah Islamiyyah, dan PAS seungguhnya bagian dari gerakan kultural dan politik yang tidak suka dengan gaya pemerintah rezim Mahathir dan Badawi yang represif terhadap para pembangkang (oposisi).

Pergerakan Terorisme

Dengan diversitas gerakan Islam yang berkembang di Malaysia dan didukung oleh sikap represif pemerintah, maka pergerakan terorisme tidak berjalan secara efektif sehingga kaum teroris melakukan penyebaran ke negara lain, seperti Indonesia. Dr. Azahari dan Noordin M. Top adalah tokoh teroris yang melancarkan aksinya di luar negeri akibat sulitnya mereka melakukan aktivitasnya di dalam negeri. Karena itulah, Indonesia yang memiliki potensi yang strategis dalam membantu gerakan terorisme dengan iklim politik yang terbuka memungkinkan mereka leluasa membuat bom dan merekrut para sukarelawan jihad.

Eksodus para teroris Malaysia ke Indonesia membentuk pola jaringan yang tertata rapi dalam struktur gerakan bawah tanah, dengan tetap berpusat di Malaysia. Inilah yang kemudian membentuk jaringan Asia Tenggara meliputi kawasan Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Singapura. Kelima negara ini menjadi basis gerakan para teroris dalam merekrut anggota dan menyusun strategi gerakan perjuangan. Kecuali Singapura yang tidak mendapatkan daya dukung kuat,  di empat negara lainnya, mereka memiliki daya dukung sejarah dan fakta sosial adanya gerakan Islam radikal.

Di Indonesia selain sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim, juga tersebar beberapa gerakan Islam, seperti FPI, Hizbut Tahrir Indonesia, Majelis Mujahidin Indonesia, Ikhwanul Muslimin, dan Lasykar Jihad. Malaysia memiliki partai Islam PAS, KMM, dan kelompok Maunah. Di Filipina terdapat Gerakan Pembebasan Moro Abu Sayyaf yang terus-menerus melakukan perjuangan untuk melepaskan diri dari  Filipina. Sedangkan di Thailand, gerakan Islam berpusat di Pattani yang melakukan perlawanan senjata kepada pemerintah pusat. Jaringan Asia Tenggara inilah yang telah menjadi basis gerakan yang sekarang ini menjadi sorotan internasional sebagai organisasi teroris.

Fenomena ini sejatinya merupakan bagian dari ekstensifikasi gerakan Islam yang oleh Olivier Roy (1992) pada awalnya didominasi oleh tiga kecenderungan geografis dan kultural: (1) Timur Tengah-Arab, Irak-Sunni, (2) Iran-Syiah, dan (3) Afganistan, Pakistan, India-Sunni. Kini, tiga pola itu mendapatkan padanannya di tempat lain dari pola jaringan yang dibentuk oleh kecenderungan geografis dan kultural baru, yakni: Asia Tenggara-Melayu-Sunni, yang meliputi kawasan Malaysia sebagai pusat, Indonesia sebagai target/sasaran utama, dan Filiphina, Thailand, dan Singapura sebagai calon target berikutnya.

Dengan ekstensifikasi gerakan terorisme ke kawasan Asia Tenggara, tampaknya telah terjadi gelombang globalisasi terorisme. Globalisasi terorisme ini dikhawatirkan akan terus berkembang ke kawasan lain, meskipun di tempat yang tidak memiliki daya dukung yang cukup seperti di kawasan Amerika dan Eropa. Karena itulah kita harus lebih hati-hati untuk melihat setiap pergerakan gerakan terorisme secara global. [Bm]
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang