Gus Dur >>> Etnis Arab dan Tionghoa di Indonesia

28 December 2014

Oleh: KH Abdurrahman Wahid
Gus Dur
Gambaran yang jelas dari dua kelompok minoritas bangsa kita sangatlah menarik untuk dibahas di sini. Keduanya adalah golongan keturunan Arab dan Tionghoa. Masa lampau kedua golongan tersebut membawakan pelajaran yang berharga bagi kita sebagai bangsa, untuk selanjutnya diambil sebagai pelajaran bagi masa depan kita.

Kesatuan kita sebagai bangsa, bukanlah sesuatu yang tumbuh begitu saja, melainkan merupakan pengalaman yang kita alami sebagai bangsa di masa lampau. Kalau Bung Karno bertanya apa raison d’etre –meminjam istilah Ernest Renan- alasan berdirinya sebuah bangsa maka itu berarti akumulasi pengalaman ratusan tahun yang dialami bangsa itu dalam membentuk sebuah negara yang kuat. Jadi, bukanlah pengalaman sesaat di saat Renan atau Soekarno menyatakan hal itu saja, tetapi fakta demi fakta yang akhirnya membentuk sejarah bangsa tersebut.

Untuk bangsa kita, hal itu harus dicari tidak cukup pada abad pertama Masehi, ketika Prabu Ajisaka memperkenalkan tulisan dan memulai hitungan tahun Saka saja. Tetapi juga harus dicari hal-hal lain, seperti dimulainya gerakan Oikumene di Barus pada abad ke-4 Masehi, ketika rombongan gereja Syria sampai ke sana. Mungkin juga, raison d’etre Indonesia pada kenyataan antropologis yang memperlihatkan adanya ras Melayu di Indonesia bagian barat dan ras Austro-Melanesia di bagian timur.

~

Laksamana Cheng Ho
Dalam hal ini, golongan keturunan Tionghoa di masa lampau dapat dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama adalah ketika Angkatan Laut Tiongkok menguasai Samudera Hindia dari kepulauan Madagaskar hingga ke lautan Pasifik di Pulau Tahiti. Pada abad ke-13 sampai dengan ke-16, Angkatan Laut ini dikuasai oleh para perwira yang beragama Islam, seperti Laksamana Ma Chengho (Ma Zenghe). Laksamana pendiri Singapura ini melakukan ekspedisi tujuh kali ke perairan kita dan meninggal dunia di pantai timur Hindia (Kalikut).


Angkatan Laut China muslim inilah yang –menurut perkiraan penulis membantu Raden Wijaya (dari Marga Oey atau Wie?)- mendirikan Kerajaan Majapahit. Mungkinkah Desa Tarik di kawasan Man yang didirikannya itu berasal dari kata 77 thariqah, yang berarti sekte tasawuf (di negeri ini lebih dikenal dengan nama tarekat)? Bahwa ia bertentangan dengan mertuanya, Kertanegara, dari Singosari hanya karena ambisi politik pribadi, bukan karena perbedaan agama, sejarahlah nanti yang akan menjawabnya.

Bagian kedua terjadi ketika orang-orang muslim China itu ditinggalkan oleh perahu dan kapal-kapal laut mereka dibakar di pantai daratan China. Lalu, mereka menjadi pribumi di kawasan rantau ini. orang-orang Belanda yang kemudian mendatangkan orang-orang China yang beragama Budha dan Konghuchu dari Pulau Hainan dan daratan Tiongkok, dengan tidak sadar telah menciptakan golongan keturunan Tionghoa baru.

~

Sementara itu, orang-orang Arab telah datang ke sini sejak masa dini, seperti dikisahkan Sulaiman asy-Syairafi (dalam kisah-kisah perjalanannya), ketika orang-orang Belanda masuk kemari, mereka menerapkan kewajiban membayar uang (fiscal duty) bagi orang Ara yang akan bepergian ke luar kota besar. Dengan demikian, orang-orang Arab itu mempribumikan diri dan hal itu dapat dilakukan dengan mudah karena mereka beragama Islam. Demikianlah kita mengenal Pangeran Diponegoro, KH. Hasyim Asy’ari dan sebagainya, sebagai orang pribumi dan bukan orang-orang keturunan Arab.

Keluarga Arab di Tegal, awal abad XX
Gelombang kedua terjadi ketika pemerintahan Hindia-Belanda mencabut kewajiban fiskal tersebut, dan memperkenankan orang-orang keturunan Arab itu menggunakan nama-nama marga (‘asyirah) mereka. Karena mereka dari golongan sayyid (baik ‘habib’ maupun lainnya) dengan segera tampillah nama-nama seperti al-Habsyi, as-Sagaf, al-Gaderie, ash-Shihab, dan seterusnya. Mereka inilah yang dinamakan orang-orang Arab, sedangkan kelompok pertama tadi tidak dianggap orang Arab, seperti halnya penulis kolom ini yang sebenarnya berasal dari marga Basyaiban.

Kelompok ketiga adalah golongan keturunan Arab yang muncul ketika pintu dibuka lebar-lebar untuk semua orang Arab masuk ke kawasan ini. Datanglah orang-orang keturunan Arab non-sayyid, seperti Bawazier, al-Katiri, Baswedan, serta Makarim. Mereka adalah orang Arab biasa yang muncul dari lingkungan profesi mereka. Bukankah dari perkembangan kedua golongan keturunan tersebut dapat disimpulkan pentingnya arti hilangnya perbatasan? Bukankah ini berarti kita bersatu sebagai bangsa ini karena tinggal dan hidup di tempat yang sama, bukan karena keturunan kita?

Kramat Raya, 30 Nopember 2001

*Sumber: Membaca Sejarah Nusantara, hal. 25-28, LKiS, 2010, Yogyakarta. [Zq]

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang