Ibadah Membawa Musibah: Tragedi Keluarga Sang Resi

28 December 2014

Oleh: Nugrahary Cahya Ramadhani – Yogyakarta
Sastrajendra, wejangan Dewaruci, berbagai kisah wahyu  dan tentunya dialog antara Sri Betara Kresna dengan Sang Dhananjaya Arjuna dalam carut-marut perang Baratayuda—adalah sedikit dari banyak bagian cerita wayang pembentuk kolase pengajaran nilai-nilai kebijakan, kebajikan, dan kebijaksanaan yang amat luhur.
Tokoh-tokoh pewayangan
Tak dapat disangsikan bahwa cerita-cerita wayang—yang merupakan adaptasi dari beberapa epik India—tersebut mengandung nilai moral yang amat tinggi, di sisi lain juga memiliki bentuk cerita yang sangat kompleks, tetapi mudah diserap karena sarana penyampaian yang menarik dan atraktif. Pembuatan wayang oleh para wali sebagai bentuk ilustrasi kisah Mahabharata dan Ramayana adalah langkah yang sangat efektif untuk berdakwah dalam pengertian khusus dan umum.

Wayang sebagai sarana penyebaran agama Islam tentunya, dalam artian khusus dan sarana pendidikan moral dalam artian umum. Terlepas dari dakwah dalam artian khusus, wayang selalu menyuguhkan tontonan dan tuntunan. Nilai-nilai yang universal melekat pada dirinya walaupun pada dasarnya wayang adalah adaptasi kisah agama Hindu dan tasawwuf Islam. Karena pada saat ini anggapan bahwa wayang masih eksis dalam artian dakwah Islam—sangat jelas—sudah meluntur. Sekarang wayang lebih dianggap sebagai integral model budaya Jawa—yang universal—sehingga semua orang “dapat” melihatnya. 

Salah satu cerita pembentuk kolase  mulia yang juga masyhur dalam jagad pewayangan adalah kisah keluarga Resi Gotama, seorang pendeta dari pertapaan Grastina. Resi Gotama adalah seorang ahli ibadah yang sangat  tekun. Ibadahnya sangat intens dan ketat. Tapi merupakan suatu kealpaan, sang resi terlupakan, bahwa selain “mempunyai” tuhan, ia juga mempunyai keluarga—seorang istri dan tiga anak dalam kehidupannya.

Musibah dimulai ketika Dewi Indradi, istri sang resi mengalami kehampaan dan kebosanan dalam berumah tangga. Terlalu banyak waktu yang dihabiskan oleh sang suami, Resi Gotama, untuk manembah di sanggar pamujan. Perhatian Resi Gotama kepada keluarga—khususnya kepada sang istri—teralihkan “hanya” kepada tuhan. Karena kesepian berterusan yang dialami oleh Dewi Indradi, ia melakukan laku serong, berselingkuh. Dan yang ia selingkuhi bukan figur yang main-main, ialah Betara  Surya, Sang Dewa Matahari. Betara Surya dengan tangan terbuka menerima Dewi Indradi yang sedang kesepian. Atas terbentuknya relasi mereka berdua, Betara Surya menghadiahi Dewi Indradi dengan sebuah pusaka—Cupu Manik Astagina. Sebuah wadah bulat yang di dalamnya berisi pemandangan indah semesta.

Sepandai-pandai menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga. Perselingkuhan Dewi Indradi dengan Betara Surya akhirnya diketahui oleh seorang putrinya, Dewi Anjani (yang nantinya menjadi ibu dari Kapi Anoman). Karena rasa takut beserta panik yang mencengkeram pikiran, istri Resi Gotama tersebut menjadi pendek nalar. Tanpa pertimbangan yang matang, ia memberi “uang tutup mulut” kepada Dewi Anjani dengan meminjamkan pusaka Cupu Manik Astagina pemberian Betara Surya. Dewi Indradi meminta Anjani untuk tidak membocorkan laku serongnya dan memintanya untuk tidak memperlihatkan pusaka tersebut kepada siapapun.

Pada kenyataannya, Dewi Anjani  justru melanggar janjinya. Ia menggunakan cupu tersebut terang-terangan, bahkan hingga ditunjukkan kepada dua adiknya, Guwarsa dan Guwarsi. Permintaan Guwarsa-Guwarsi untuk meminjam cupu anugrah tersebut tidak diluluskan oleh Dewi Anjani. Hingga mereka melakukan aksi anarkis—merebut pun tak mereka dapati.

Sampai pada akhirnya mereka melapor kepada ayah mereka, Resi Gotama. Resi Gotama keheranan, bagaimana Anjani bisa mendapatkan pusaka yang  dimiliki oleh Betara Surya?. Resi Gotama bergegas menemui Anjani, putrinya, dan menanyakan perihal pusaka cupu tersebut. Karena takut membuka rahasia, Anjani hanya menjawab bahwa cupu tersebut ia dapatkan dari ibunya.  Resi Gotama pun segera menemui Dewi Indradi dan menanyakan asal-usul pusaka Cupu Manik Astagina itu. Dewi Indradi membisu, tak menjawab satu patah kata pun. Karena istrinya yang terdiam seribu bahasa, Resi Gotama menjadi marah.

“Ditakoni kok ora semaur, kok  kaya tugu manungsa iki” (ditanya kok tidak menjawab, kok seperti tugu manusia ini). Perkataan sang suami menjadi nyata, Dewi Indradi menjadi tugu. Resi Gotama kemudian melempar tugu tersebut jauh-jauh sampai ke perbatasan Alengka. Cupu Manik ia lemparkan ke udara. Tutupnya menjadi Sendang Nirmala (yang berarti tanpa penyakit, tanpa bahaya) di Ayodya dan cupu yang berisi air kehidupan berubah menjadi Sendang Sumala (yang berarti banyak penyakit, banyak bahaya). Guwarsa dan Guwarsi yang masih menginginkan cupu tersebut mengejarnya hingga terjun ke dalam Sendang Sumala bersama kedua cantriknya, Jembawan dan Menda. Mereka semua berubah menjadi kera, Guwarsa menjadi Sugriwa, Guwarsi menjadi Subali, begitu pula kedua cantriknya, mereka berubah bentuk menjadi kera. 

Anjani dan cantriknya, Suwareh yang sedang mencuci muka dan membasuh tangan serta kakinya tersebut juga ikut terkena air sendang. Sehingga muka, tangan, dan kaki mereka berubah bentuk menjadi wajah, tangan, dan kaki kera.

Karena keinginan mereka menjadi manusia, atas petunjuk ayah mereka, Resi Gotama, mereka bertapa. Walaupun pada akhirnya hanya Anjani yang berubah menjadi manusia seperti semula setelah melahirkan Anoman, namun pada akhirnya mereka semua menjadi figur yang aji dan mulia.

Uraian panjang cerita ini adalah salah satu kisah kompleks yang memuat banyak nilai moral di dalamnya. Keterlenaan Resi Gotama atas ibadah ritual membawa istrinya kepada tindakan asusila. Dewi Indradi yang hatinya takut bila wadinya (aibnya) terbuka menjadi pendek nalar dan melakukan hal yang ceroboh. Dewi Anjani yang—walaupun bukan dalam tataran kebaikan—mengingkari janjinya dengan ibunya, Dewi Indradi. Dan itu membawa Guwarsa dan Guwarsi pada kesialan yang tak berbeda karena ambisinya.

Di cerita ini penulis menafsirkan bahwa ibadah sosial adalah hal yang sangat penting—bukan “juga penting”—di samping ibadah ritual. Ketimpangan antara hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia membuat “kecelakaan” yang amat pedih bagi pelakunya pada cerita ini. Meski pada cerita ini tidak diceritakan bahwa Resi Gotama menerima karma atas tindak ketimpangan tersebut secara langsung, tetapi peristiwa-peristiwa—berubahnya Dewi Indradi menjadi tugu; Anjani berwajah, bertangan, dan berkaki kera; Guwarsa-Guwarsi yang menjadi kera seluruh tubuhnya—di sekililingnya dapat dianggap sebagai karma dalam bentuk lain yang diterima Resi Gotama.

Kisah ini merupakan gambaran radikal ketidakseimbangan antara ibadah ritual dan sosial—di samping juga bentuk perilaku asusila. Penulis cerita ini sudah pasti ingin menyoroti dampak dari ketidakseimbangan tersebut. Dan kisah ini, pada detik ini, masih sangat relevan untuk dibaca atau dipertunjukkan karena ketimpangan ibadah ritual dan sosial terus saja terjadi sampai saat ini.

Sebagai seorang abdi tuhan dan insan yang selalu berinteraksi dengan sesamanya, sudah semestinya ia (termasuk penulis yang sangat dhalim yang malah mengingatkan) untuk tumbuh ke “atas” dan juga ke “samping”. Bukan hanya ke “atas” saja ataupun ke “samping” saja.

Diolah dari buku "Nonton Wayang dari Berbagai Pakeliran"

*Sumber: catatan Facebook Nugrahary Cahya Ramadhani
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang