KH Maimun Zubair >>> Kedekatan dalam Senang dan Susah

28 December 2014

Oleh: KH Maimun Zubair – Sarang Rembang

Mbah Maimun
Hendaknya manusia itu harus tahu bahwa hidup di dunia itu pasti ada kesusahan dan ada kebahagiaan. Kedua sifat ini pasti akan selalu melekat pada setiap jiwa insan di muka bumi ini. Ketika hidup dalam keadaan yang serba kecukupan pasti di waktu itu seseorang akan mengalami kesusahan dan kebahagiaan dan ketika kita hidup dalam keadaan kekurangan pun kedua sifat (bahagia dan susah) itu juga tidak akan pernah luput dari diri seseorang.

Akan tetapi, bagaimana caranya agar dalam keadaan bahagia atau susah itu bisa membuat semakin lebih dekat dengan Allah S.W.T, yaitu dengan cara selalu menanamkan kesabaran dalam diri ketika tertimpa kesusahan dan tidak lupa akan selalu bersyukur kepada Allah jika hati sedang berbahagia.

Orang Islam itu hidupnya ada yang kaya dan ada yang faqir. Tetapi, meskipun mereka ada yang hidup dalam kefaqiran Allah S.W.T tidak akan pernah meninggalkan dan menelantarkan mereka. Setiap muslim yang faqir pasti diberi rezeki oleh Allah karena Islam itu sebenarnya adalah sumbernya rezeki.

Satu bukti yang bisa dijadikan sebuah ibrah adalah munculnya Islam di kota Mekkah, Madinah, dan Negara-negara Arab lainya yang kesemuanya itu adalah Negara-negara yang bertanah tandus. Tapi, apakah mereka kekurangan makanan dan minuman? Tidak. Mereka faqir, tapi justru mereka dapat membawa Islam tersebar ke belahan bumi. Itulah bukti bahwasanya Allah tidak akan pernah meninggalkan hambanya meskipun dalam keadaan kekurangan.

Jika di dunia itu campur terkadang ada bahagia dan terkadang ada susah, maka besok ketika di akhirat antara bahagia dan susah itu akan terpisah dan berdiri sendiri-sendiri. Adapun bahagia itu tempatnya ada di surga dan para penghuninya yaitu orang-orang islam akan senang dan tidak akan pernah mengalami kesusahan. Sedangkan susah itu tempatnya berada di neraka yang dihuni oleh orang-orang kafir, mereka akan selalu mengalami kesusahan dan sedikitpun tidak akan pernah mencicipi rasa kebahagiaan.

*Artikel ini disarikan dari pengajian Ahadan bersama K.H. Maimun Zubair dengan materi QS. Al-Kahfi oleh M. Habibul Ardan di www.ppalanwar.com
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang