Lima Penemuan Fenomenal Umat Islam

24 December 2014

SANTRIJAGAD ~ Tak terhitung betapa banyak dan besar sumbangsih umat Islam pada kemajuan peradaban dunia modern saat ini. Meskipun, ironisnya, kebanyakan umat Islam lupa atau bahkan tidak tahu tentang fakta-fakta sejarah tersebut. Sehingga mereka sibuk dengan hal-hal remeh temeh tentang perdebatan egois tiada henti.

Di antara sekian banyak karya kaum muslimin pada masa emas peradaban Islam, berikut ini lima temuan yang sedikit banyak mewarnai gaya hidup dan perkembangan masyarakat era modern hingga hari ini.

Kopi Seduh

Sekitar 1.600.000.000 (satu milyar enam ratus juta) cangkir kopi dikonsumsi orang-orang di seluruh penjuru dunia. Jutaan orang menjadikannya minuman rutin setiap hari. Menurut catatan sejarah, pada tahun 1400-an, kopi menjadi minuman yang populer di kalangan kaum muslimin Yaman, semenanjung selatan Arab.

Biji kopi yang telah dipanggang
Ada kisah legendaris mengenai awal mula dikonsumsinya kopi. Suatu ketika, di Yaman atau Ethiopia ada seorang gembala yang takjub melihat kambing-kambingnya mendadak begitu bersemangat berlarian dan melompat-lompat setelah memakan beberapa butir biji pohon tertentu. Karena tertarik, si gembala ikut mencicipi biji-bijian itu dan ternyata berhasil menambah energi dan kesegaran tubuh. Seiring waktu, orang-orang mulai memanggang biji-biji itu dan menyeduhnya dengan air panas untuk dibuat minuman. Maka terlahirlah tradisi minum kopi.

Terlepas dari valid atau tidaknya kisah gembala itu, yang jelas kopi berhasil naik pamor dari perkampungan dataran tinggi di Yaman sampai masa Kesultanan Turki Utsmani pada abad ke-15. Kedai-kedai kopi bertebaran di kota-kota besar umat Islam saat itu; Kairo, Istambul, Damaskus, maupun Baghdad. Setelah tenar di kalangan umat Islam, kopi mendapat tempat di hati orang-orang Eropa melalui Venesia. Meskipun pada awalnya otoritas gereja Katolik menyebutnya sebagai ‘minuman orang Islam’, kopi berhasil menjadi bagian dari budaya Eropa.

Kedai-kedai kopi di masa 1600-an menjadi tempat berdiskusi bagi para filsuf. Di sana mereka membahas banyak hal tentang kebangsaan, mulai dari hak-hak asasi, pemerintah, hingga demokrasi. Perbincangan-perbincangan mereka yang ditemani kopi inilah yang kemudian melahirkan Aufklarung (pencerahan), suatu pergerakan pemikiran dahsyat yang sangat berpengaruh pada peradaban dunia modern.

Aljabar

Ketika para siswa mempelajari matematika di sekolah tingkat lanjut saat ini, mungkin tak terlalu mementingkan materi Aljabar. Padahal Aljabar adalah salah satu dari sekian banyak kontribusi penting umat Islam pada masa emas bagi ilmu pengetahuan modern. Ilmu ini pertama kali dikemangkan oleh Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, matematikawan besar yang hidup di Persia dan Iraq pad 780-850 M.

Salah satu kitab al-Khawarizmi

 Dalam karya monumentalnya, Al-Kitāb al-Mukhtaṣar fī Hisāb al-Jabr wa-l-Muqābala (Buku ringkas tentang perhitungan penyelesaian dengan persamaan), al-Khawarizmi menuliskan prinsip-prinsip dasar persamaan aljabar. Kata “al-jabr” berarti ‘penyelesaian sistematis’ yang kemudian dikenal sebagai cabang ilmu, Algebra, dalam bahasa Latin. Di dalam buku ini, al-Khawarizmi menerangkan bagaimana penggunaan persamaan Aljabar dengan variabel-variabel khayalan untuk memecahkan masalah-masalah perhitungan dalam kehidupan keseharian, semisal zakat dan waris. Alasan al-Khawarizmi mengembangkan ilmu ini adalah untuk mempermudah perhitungan dalam hukum-hukum Islam.

Pada rentang tahun 1000-1100 M di Eropa, buku-bukunya diterjemahkan dalam bahasa Latin. Di sana, nama al-Khawarizmi berubah logat dengan nama ‘Algoritmi’. Nama ini juga menjadi nama bagi salah satu cabang subyek dalam matematika yang ia kembangkan, Logaritma.

Tanpa sumbangsih al-Khawarizmi alam pengembangan Aljabar di masa lampau, aplikasi praktis matematika dalam teknik mesin dan semacamnya hampir tidak mungkin. Buku-buku al-Khawarizmi menjadi rujukan utama di uniersitas-universitas Eropa selama ratusan setelah ia meninggal dunia.

Ijazah dan Gelar Keilmuan

Lembagai pendidikan tinggi dalam bentuk universitas juga merupakan sumbangsih umat Islam bagi dunia. Di awal masa peradaban Islam, masjid merangkap menjadi sekolah. Imam yang memimpin pelaksanaan shalat juga menjadi guru yang mengajar sekelompok murid untuk belajar Al-Qur’an, fikih, maupun hadits. Semakin berkembangnya masyarakat muslim, semakin meningkat pula kebutuhan terhadap suatu lembaga yang dikhususkan untuk pendidikan. Maka didirikanlah madrasah-madrasah (‘madrasah’ artinya ‘tempat belajar’).

Madrasah al-Qairawan di Fez, Maroko
Madrasah formal pertama yang didirikan dalam dunia Islam bernama al-Qairawan di Fez Maroko, oleh seorang muslimah dermawan bernama Fatimah al-Fihri pada 859 M. di madrasah ini, para murid belajar kepada para guru selama beberapa tahun dalam berbagai cabang ilmu. Di akhir masa belajar, murid akan mendapatkan ijazah. Yakni sertifikat pengakuan dari guru atas penguasaan si murid atas ilmu yang dipelajari sekaligus legalitas untuk mengajarkannya.

Model lembaga pendidikan formal dengan pengakuan keilmuan semacam ini kemudian menyebar di dunia kaum muslimin saat itu. Universitas Al-Azhar menyusul didirikan di Kairo pada 970 M. Pada rentang tahun 1000-an M, kesultanan Seljuk membangun lusinan madrasah di seantero Timur Tengah.

Metode pengakuan keilmuan dalam bentuk ijazah diadopsi oleh pelajar dari Eropa yang berguru kepada umat Islam di Spanyol. Uniersitas Bologna di Italia dan Universitas Oxford di Inggris yang didirikan pada tahun 1100-1200-an melanjutkan tradisi ijazah sebagai kualifikasi keilmuan yang telah dimulai oleh umat Islam berabad-abad sebelumnya.

Marching Band

Para siswa sekolah menengah maupun universitas manapun pasti mengenal marching band atau drum band. Yakni sekelompok besar pemusik yang berbondong-bondong bermain musik di suatu arena. Biasanya digunakan dalam suatu perhelatan besar tertentu. Di Barat, marching band dikenal sejak era perang mesiu di Eropa untuk menyemangati para tentara dalam perang. Ternyata, akar tradisi marching band ini berasal dari para penabuh genderang Kesultanan Turki Utsmani pada tahun 1300-an. Saat itu, pasukan Utsmani memang menjadi salah satu angkatan militer terkuat di dunia.

Marching Band di Kesultanan Turki Utsmani
Sebagai bagian dari korp Janissari, korp elit Kesultanan Utsmani, para penabuh genderang bertugas membunyikan irama-irama untuk menggentarkan hati musuh dan menyemangati sekutu. Menggunakan drum-drum besar dan simbal-simbal yang nyaring, suara tabuhan mereka bisa mencapai bermil-mil jauhnya. Saat penaklukan Utsmani terhadap daerah-daerah Balkan pada abad 14-16, para penabuh genderang berjasa besar dalam mempertajam citra pasukan Ustmani yang tak terkalahkan, bahkan di hadapan esarnya jumlah pasukan persekutuan Eropa sekalipun.

Pada akhirnya, pasukan Kristen Eropa juga menggunakan penabuh genderang untuk menggentarkan musuh. Kisahnya bermula pada 1683, ketika pasukan Utsmani terkepung kalah di Wina. Pasukan yang ditawan meninggalkan senjatanya di medan laga, sekaligus lusinan peralatan musik yang dibawanya. Kemudian orang-orang Austria mengangkut peralatan musik itu, mempelajari dan mulai menggunakannya. Tak butuh waktu lama hingga seantero pasukan di Eropa mulai menggunakan marching band militer dan menjadi salah satu unsur tak terpisahkan dalam sejarah perang di sana selama berabad-abad.

Kamera

Sulit rasanya membayangkan dunia tanpa fotografi. Perusahaan-perusahaan beromset milyaran dolar semisal Canon dan Instagram berdasar pada teori bagaimana menangkap cahaya dari suatu obyek, kemudian menggambarkannya kembali dalam rupa semirip mungkin. Hal ini hampir tidak mungkin bisa dilakukan tanpa jasa Ibnu al-Haitam, ilmuwan muslim dari abad 11 M yang mengembangkan cabang ilmu optika dan menemukan cara kerja kamera sederhana.

Ibnu al-Haitam terkenal sebagai ilmuwan jenius pada awal tahun 1000-an di Kairo. Ia pernah ditahan dengan tahanan rumah oleh al-Hakim, penguasa Dinasti Fatimiyah saat itu. Saat itu ia justru mendapat kesempatan lebih banyak untuk mempelajari cara kerja rambatan cahaya. Ia menemukan fakta bahwa ketika sebuah lubang jarum dibuat di suatu ruang kedap cahaya, maka pancaran sinar dari luar ruangan itu akan tersorot melalui lubang jarum dan terpapar di dinding gelap ruangan yang berhadapan dengan lubang jarum. Di sana, akan tertayang gambaran luar ruangan secara terbalik. Ia menyadari, semakin kecil lubang jarum, makin tajam kualitas gambara yang dihasilkan.


Prinsip kerja kamera sederhana
Dari konsep sederhana ini, ia berupaya membuat alat penangkap gambar. Awalnya, alat yang dibuatnya diilhami dari cahaya yang dihasilkan oleh bulan. Sehingga ia memberi nama alatnya ini dengan sebutan ‘Qumroh’ yang berarti ‘bulan’. Qumroh pertama kali diciptakan di kamar kecil yang memiliki sudut tertutup rapat tanpa cahaya. Hanya ada satu lubang kecil di depan. Setelah itu, ada cahaya yang masuk dalam lubang kemudian dapat menyimpan bayangan.

Penemuan ini dikembangkan secara terus-menerus hingga nantinya akan menghasilkan suatu karya yang menarik berupa gambar. Dari hasil penemuannya ini, ia menjadi terkenal dan banyak penemu atau ilmuan lain yang berusaha untuk mengembangkan alat ini. Qumroh pun dikenal secara luas dengan nama ‘camera’ atau ‘kamera’.

Untuk para gembala yang mendapat ilham meracik kopi pertama kali, untuk jasa besar Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, untuk Fatimah al-Fihri, muslimah dermawan yang begitu peduli pendidikan, untuk para pemimpin kesultanan Utsmani yang kini telah hancur, dan untuk Ibnu al-Haitsam yang sedikit menguak misteri tentang cahaya, lahum al-Faatihah. [Zq]

*Sumber: http://lostislamichistory.com/5-muslim-inventions-that-changed-the-world/
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang