Sains Modern dan Kaum Muslimin

18 December 2014

Oleh: S Irfan Habib – Sejarawan Sains dan Politik, India

Sejak kejadian 11 September, Islam dan kaum muslimin diseret-seret ke ranah politik dan dipojokkan begitu rupa dengan berbagai tuduhan oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Saya sangat gelisah dengan hal ini. Padahal dalam perspektif sejarah sains, ada suatu pandangan mendasar yang mencerminkan betapa konstruktifnya peran umat Islam dalam ilmu pengetahuan. Namun sebab isu politis dan terorisme, Islam disudutkan dengan pandangan yang picik dan eksklusif. Dalam ranah sains pun, muncul istilah baru; Sains Islam.

Sebenarnya sama sekali tidak ada pertentangan antara sains modern dan Islam. Setiap kaum beriman bisa menerima sains modern. Abdussalaam, orang Pakistan yang memenangkan penghargaan Nobel dalam bidang Fisika, adalah seorang muslim saleh sepanjang hidupnya. Dia salat lima waktu tiap hari tanpa merasa ada pertentangan dengan aktivitas ilmiahnya, khususnya dalam sains modern.

Abad ke-8 dan ke-12 merupakan masa-masa emas sains dalam peradaban Islam. Khalifah Abbasiyyah di Baghdad membangun Baitul Hikmah sebagai markas ilmu-ilmu alam maupun rasional. Mereka, saat itu, menerima siapapun dan darimanapun orang yang ingin belajar. Sebuah fakta bahwa warisan Bangsa Yunani bisa menjadi landasan sains modern adalah melalui para ilmuwan dan filsuf Arab. Pionir riset sains modern, Roger Bacon, berguru pada para ilmuwan Arab.

Orang-orang yang mengusung ide ‘Sains Islam’ memosisikan sains modern saat ini sebagai produk dari peradaan Barat-Kristen. Pernyataan semacam ini justru problematis, seakan ada Sains Islam dan Sains Kafir. Padahal dalam Islam, sains bersifat intrinsik. Dengan mengusung ‘Sains Islam’, mereka mencoba menciptakan alternatif baru terhadap eksistensi sains modern. Bagi mereka, sains modern yang eurosentris hanyalah merupakan media perluasan penjajahan akhir zaman, dalam teknologi maupun ekonomi.

Padahal, sains modern merupakan hasil gabungan dari berbagai unsur budaya dan peradaban. Setiap umat manusia mempunyai andil dalam membentuk sains modern saat ini di zaman dan wilayahnya masing-masing. Sebagaimana jelas dipaparkan dalam sejarah. Maka sains modern semestinya memiliki posisi yang bisa dijangkau oleh siapapun; Arab, China, India, Persia, Eropa, dan peradaban lainnya.

Sains modern yang menjadi unsur penting dalam kehidupan saat ini berhutang besar pada peradaban Islam. Sehingga, pada hakekatnya, modernitas bukanlah hal yang asing dalam Islam. Namun sayangnya, masih ada pandangan sebagian orang yang selalu mempertentangkan antara Islam dan modernitas. Khotbah mereka selalu mempertebal sekat antara kaum muslimin dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Lucunya, di berbagai belahan negeri kaum muslimin, sangat terbuka terhadap teknologi praktis sebagai produk modernitas, tapi tidak demikian dengan sains. Contohnya di wilayah Asia Barat, penduduk di sana menyambut baik teknologi, tapi tidak dengan sains. Agaknya mereka menganggap bahwa teknologi tidak seberbahaya sains. Sedangkan sains tidak hanya membawa pengetahuan baru, tetapi juga ideologi, pertanyaan-pertanyaan, kebebasan dan demokrasi. [Zq]

*Sumber: http://www.articles.timesofindia.indiatimes.com/2012-11-02/edit-page/34858562_1_islamic-science-jihad-modern
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang