Bediuzzaman Said Nursi: Sufi Pejuang di Akhir Era Utsmani

6 January 2015

Oleh: Zia Ul Haq

Bediuzzaman Said Nursi
Karena kagum atas kecerdasan Said, salah seorang gurunya berniat mengunjungi orang tua Said di kampung halamannya; Nurs. Ketika sampai di sana, sang guru melihat ayah Said yang bernama Mirza sedang menggiring dua ekor sapi betina dan seekor sapi jantan yang diikat mulutnya.

"Kenapa Anda melakukan itu, Pak?" tanya sang guru.
"Sawah saya sangat jauh, dan melewati sawah-sawah orang. Saya khawatir saat melewati sawah-sawah itu sapi saya makan tanaman orang dan jadi haram," jawab Mirza.

Luar biasa! Lalu sang guru bertanya kepada Nuriye, ibunda Said, tentang bagaimana ia membesarkan putranya itu.

"Ketika saya mengandung Said, saya tidak pernah menginjakkan tanah ke kaki kecuali saya telah berwudhu terlebih dahulu. Dan ketika ia hadir ke dunia, tak seharipun saya menyusuinya tanpa menyucikan diri dengan berwudhu."

Sang guru kini telah menemukan apa yang ingin ia ketahui. Tentu saja, orang tua semacam mereka akan mendapatkan anak semacam itu. Siapa sebenarnya Said ini?

Namanya Sa’id Nursi, bernasab al-Hasani dari ayah dan al-Husaini dari ibu. Ia lahir dan berjuang (1873-1960) pada saat Turki mengalami peralihan dari kesultanan menjadi republik sekuler. Perjuangannya tak hanya di atas tarian pena, tetapi juga di belakang kokang bedil dan desingan peluru. Ketajaman analisa berpikirnya selaras dengan putaran tasbih dzikir di jemarinya.

Dia dijuluki sebagai Badii’u az-Zaman (bediuzzaman) alias Kekaguman Zaman. Julukan ini disematkan kepadanya oleh gurunya sendiri, Syaikh Fathullah Efendi, sebab kecemerlangan si murid. Bayangkan, saat berusia belasan tahun ia berhasil menguasai pelajaran Syaikh Muhammad Jejali di Madrasah Bayazid yang normalnya dikaji dalam waktu 15 tahun hanya dalam tempo 3 bulan saja. Ketika sang guru sudah mengijinkan ia memakai jubah dan sorban sebagai identitas keulamaan, ia hanya berujar; “Hamba lebih senang berpakaian biasa-biasa saja.”

Kemampuan otaknya dalam penguasaan ilmu memang luar biasa. Ia memahami berbagai macam buku dalam bidang Fisika dalam waktu empat hari, dan berhasil menundukkan seorang ahli fisika sehingga memutuskan menjadi muridnya. Ia menguasai Geografi hanya dalam waktu dua puluh empat jam dan berhasil memukau seorang ahli geografi. Ia membaca semua buku di Perpustakaan Tahir Pasya dalam berbagai disiplin ilmu modern; matematika, astronomi, kimia, filsafat, biologi, sejarah, bahkan kedokteran.

Fokusnya terhadap ilmu memang bukan main-main. Selama dua tahun di Bitlis, Said tinggal di rumah Tahir Pasya yang sangat ramah dan menganggap Said sebagai gurunya. Tahir Pasya memiliki enam orang putri. Tiga masih belia, sedangkan tiga lainnya sudah cukup umur.

Suatu malam, salah seorang putri Tahir mencoba masuk ke kamar Said karena penasaran dengan isi kamar tamunya itu yang penuh buku. Namun, baru sampai pintu, Said membentaknya dan mengusirnya keluar seraya membanting pintunya di depan wajah gadis itu. Ia pun beringsut pergi dengan perasaan kesal luar biasa.

Pada suatu siang, seorang yang merasa terganggu atas keramahan Tahir terhadap Said mencoba menghasut tuan rumah agar mengusir tamunya; "Kau ini bagaimana, kau punya enam anak perempuan yang masih muda. Dan kau sering keluar rumah, sedangkan istrimu sudah tidak ada. Padahal di rumahmu ada laki-laki muda yang masih bujang. Apa kau tidak khawatir?" bisik si penghasut itu.

Kata-kata ini membuat hati Tahir gundah. Ia agak terpengaruh oleh hasutan itu. Akan tetapi, semua berubah ketika ia masuk rumah dan bertemu putrinya yang nampak marah.

"Ayah, saya sebal terhadap tamu ayah itu. Sombong sekali. Dia pendatang di sini, tapi ia begitu berani mengusirku dari kamarnya dan membanting pintu tepat di depan wajahku!" keluh putrinya.

Kata-kata putrinya ini justru membahagiakan hati Tahir Pasya, kekhawatiran yang tadi dihembuskan oleh si penghasut seketika hilang. Dan ia semakin ramah terhadap Said.

Selama dua tahun Said tinggal di rumah Tahir, ia tak bisa membedakan siapa-siapa putri-putri Tahir. Tidak jarang orang yang bertamu rumah Tahir beberapa hari dan langsung bisa mengenali dan membedakan putri-putri Tahir yang cantik itu. Tapi tidak demikian dengan Said, seakan-akan dia tidak memperhatikan mereka sama sekali. Ketika ditanya apa alasannya, Said menjawab;

"Demi menjaga kemuliaan hakikat belajarku, maka aku tidak boleh memperhatikan mereka dan hal-hal semacam itu."

Ketika ia diperiksakan ke rumah sakit karena dituduh gila oleh pemerintah, sang dokter malah berujar setelah berdialog dengan beliau tentang ilmu kedokteran;

“Jika Badii’uzzaman ini gila, maka berarti tak ada seorangpun yang waras di muka bumi.”

Pandangannya sungguh unik dan menarik, menurutnya, untuk menafsirkan Al-Qur’an haruslah berdasarkan semua sudut pandang keilmuan. Sehingga penafsiran yang lahir akan komprehensif dan mendekati tepat. Maka seharusnya Al-Qur’an ditafsirkan oleh suatu dewan ulama yang menguasai berbagai bidang keilmuan. Sebab itulah ia mencita-citakan Madrasah Az-Zahra, sebuah perguruan tinggi yang memadukan antara ilmu agama dengan ilmu modern di Anatolia.

Pada masa Perang Dunia I, ketika Rusia mulai merusuh di Turki, ia turut angkat senjata dan memegang komando Pasukan Topi Bulu yang masyhur dan ditakuti musuh itu. Di medan perang inilah beliau telah menulis tafsir Al-Qur’an yang bertajuk Isyaaratul I'jaz dalam bahasa Arab. Karyanya ini ditulis ketika ia menunggang kuda di barisan depan dan di dalam kubu-kubu pertahanan.

Pada era runtuhnya kekhilafahan Islam, berakhirnya Dinasti Utsmani, merebaknya virus-virus komunisme, sekularisme dan materialisme di Turki, ia berjuang menjaga dan memijarkan cahaya spiritualitas di dada masyarakat. Dalam perlawanan terhadap meterialisme dan atheisme ini ia merangkul semua golongan umat beriman; dari Sunni dan Syi’ah hingga Kepausan dan Gereja Ortodoks Yunani.

Berkali-kali penjara ia masuki. Bertahun-tahun masa tahanan ia lewati. Namun cahaya ilmu tetap memancar dimanapun ia berada, bebas merdeka tak terkekang belenggu tangan besi penguasa.

Perlawanannya terhadap penjajah begitu keras, baik dalam medan tempur maupun media massa. Namun sebaliknya, ia sangat anti dengan pertempuran sesama saudara sebangsa. Ketika para pemberontak di Turki Timur meminta dukungannya sebagai tokoh yang berpengaruh, ia menolak dan berujar;

“Pedang hendaklah digunakan terhadap musuh dari luar. Ia bukanlah untuk digunakan mengarah ke dalam negeri sendiri. Hentikan usahamu itu karena itu akan gagal. Itu hanya akan mengakibatkan beribu-ribu orang lelaki dan wanita yang tidak bersalah terbunuh lantaran tindakan beberapa gelintir orang.”

Karangan-karangannya yang masyhur terhimpun dalam belasan jilid Risalatu an-Nur. Kebanyakan karyanya ditulis semasa di penjara, dan satunya rujukan dalam buku-bukunya adalah Al-Qur’an. Karyanya ini dominan membahas dan memancarkan cahaya tentang akidah; pengokoh keimanan. Hal ini dikarenakan pendapatnya bahwa zaman ini (masa ketika beliau hidup) adalah zaman menyelamatkan iman. Hingga ia katakan;

“Jika Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, Syaikh Bahauddin an-Naqsyabandi, atau Imam Rabbani Syaikh Ahmad Sirhidi hidup di zaman kita ini, niscaya mereka akan mencurahkan segala kemampuan mereka bagi memperteguh hakikat keimanan dan akidah Islam.”

Nuansa spiritual sufistis memang sangat kental dalam diri Said sejak muda. Saat Said Nursi masih kecil, jika ia kehilangan sesuatu, bahkan hanya sekecil biji walnut, ia selalu berseru; "Ya Hazrat Jaelani, salamku bagimu, tolong saya temukan barang yang hilang..", dan selalu saja ia dibimbing oleh Sang Wali menemukan barang-barangnya itu. Dia berkata;

"Fatehahku banyak kusampaikan kepada Rasulullah dan kepada Hazrat Abdul Qadir Jaelani. Namun karena kesibukanku mendalami ilmu-ilmu, aku tak sempat terikat pada suatu tarekat apapun."

Di akhir masa-masa hidupnya, di dalam penjara, ia memfokuskan diri untuk menulis karya-karya meskipun dibatasi dan ditindas oleh penguasa pada masanya. Yakni masa ketika adzan dilarang berkumandang, penyampaian ajaran-ajaran agama dikriminalisasi, dan semua hal tentang Badii’uzzaman dibungkam.

Tokoh besar multidimensi ini wafat pada 1970. Pusaranya banyak diziarahi orang, jasad dan kafannya tetap utuh ketika beberapa bulan kemudian dipindahkan ke lokasi lain yang disembunyikan. Walaupun dia sering mendakwa bukan seorang sufi, namun cara hidup dan amalannya sangat sufistis. Ketika meninggal dunia, ia hanya meninggalkan seutas jam tangan, jubah, sorban dan uang sebanyak 20 lira.

Dialah Sang Kekaguman Zaman, Said Nursi, Badii’u az-Zaman, rahimahullah. Lahu al-Faatihah.

*Sumber: Sukran Vahide, "Biografi Intelektual Bediuzzaman Said Nursi, Transformasi Dinasti Utsmani Menjadi Republik Turki", Prenada Media, 2013. [Zq]
Share on :

4 comments:

  1. API TAUHID
    Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujaddid :-)

    ReplyDelete
  2. API TAUHID
    Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujaddid :-)

    ReplyDelete
  3. API TAUHID
    Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujaddid :-)

    ReplyDelete

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang