Lima Syarat Masjid Ekologis

18 January 2015

SANTRIJAGAD ~ Semestinya masjid tidak hanya difungsikan sebagai tempat shalat dan berzikir saja, tetapi juga media pendidikan bagi umat. Sebagaimana tujuan pendidikan yakni agar menciptakan kehidupan yang lebih baik, maka ranahnya pun amat luas. Tidak hanya pembelajaran tentang ilmu-ilmu syariat, baik mahdah mupun muamalah sesama manusia, tetapi juga keterhubungan alami antara manusia dengan alam sekitar sebagai salah satu konsekuensi logis dari konsep khalifatullah.

Berikut ini beberapa hal yang bisa menjadi inspirasi masjid ramah lingkungan dan kepedulian terhadap aspek ekologi.

1) Arsitektur ‘Hijau’
Tidak ada masjid ekologis tanpa tanaman produktif, entah berupa bebungaan, pohon buah, ataupun pot-pot sayur. Jangan sampai ada ruang kosong yang terbengkalai tanpa dimanfaatkan, ruang tersebut bisa digunakan untuk kebun mini. Selain itu, kebun atau taman juga akan memperindah dan memperindang suasana masjid. Buah atau sayur di sekitar masjid pun bisa dimanfaatkan jamaah ketika ada acara-acara tertentu.

Agar tidak terlalu sering menyalakan lampu di siang hari, maka arsitektur lingkungan masjid harus disesuaikan dengan arah cahaya maupun sirkulasi udara. Kubah bisa difungsikan tak hanya sebagai penghias masjid, tetapi juga berfungsi ekologis. Kubah berrongga sebagaimana diterapkan di banyak masjid Turki menjadi sistem pendingin alami dengan kemampuan sirkulasi udara yang bagus.

Parkir kendaraan bermotor sudah banyak disediakan di masjid-masjid, seiring dengan panjangnya kemacetan yang ditimbulkan saat acara-acara tertentu yang berlokasi di masjid. Kesadaran masyarakat di perkotaan yang semakin meningkat tentang energi maupun polusi dan kembali menggunakan sepeda untuk bepergian harus pula ditanggapi oleh pengelola masjid dengan menyediakan fasilitas parkir bagi sepeda.

2) Energi Terbarukan
Energi alternatif panas bumi bisa digunakan langsung dari bawah masjid, sebagaimana diterapkan sebuah masjid di Cambridge yang menggunakan teknologi tersebut. Bisa juga menggunakan energi angin dengn kincir yang dipasang di menara. Maka menara masjid menjadi lebih fungsional. Hal ini diterapkan sebuah masjid di Norderstedt (Jerman) yang memasang kincir sepanjang 1,5 meter di atas menara setinggi 22 meter untuk memenuhi sepertiga pasokan listrik bangunan masjid. Atau kalau tidak ada ruang yang cukup untuk kincir, bisa juga menggunakan pod penangkap angin.

Penggunaan panel surya juga bisa menjadi alternatif pasokan listrik bagi masjid. Meskipun mahal pada awalnya, namun pengadaan panel surya bisa menghemat pengeluaran listrik tahunan secara drastis lebih dari 50%. Sebagaimana diterapkan oleh masjid di Huddersfield (Inggris) maupun masjid di Buyukeceli (Turki).

3) Piket Kebersihan
Meski sudah ada petugas kebersihan di tiap-tiap masjid, alangkah baiknya bila jamaah sekitar masjid pun mendapat jatah piket bersama. Entah sekali sepekan atau sebulan sekali. Lokasi yang dibersihkan tidak hanya area dan fasilitas masjid, tetapi juga termasuk lingkungan di sekitarnya. Sistem daur ulang sampah juga patut diterapkan, baik dengan pola bank sampah maupun lainnya. Hal ini bisa menjadikan masjid sebagai poros pendidikan kebersihan bagi masyarakat, terutama anak-anak kecil.

4) Pengajian Dengan Tema Islam dan Ekologi
Kesadaran tentang kebersihan, kesehatan, dan kepedulian lingkungan juga harus dikampanyekan melalui dakwah lisan di masjid. Baik melalui pengajian rutin, seminar, pelatihan, maupun buletin, mading atau selebaran. Berupa pengajian tentang ayat-ayat maupun hadits-hadits ekologis, sunnah Rasulullah dalam menjaga kesehatan dan lingkungan.
Kegiatan ini diperuntukkan pada jamaah, terutama kepada jamaah belia atau anak-anak, berupa aktivitas luar ruang, outbond, kreasi barang bekas, maupun berkebun. Sosialisasi tentang gaya hidup sehat juga bisa diselenggarakan di masjid, tentu saja dengan pendekatan islami sesuai dengan syariat.

5) Manajemen Air dan Makanan
Penggunaan jamaah terhadap air tentu membutuhkan manajemen yang tepat agar tidak menimbulkan kemubaziran. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam mewanti-wanti agar kita tidak boros air meskipun berada di dekat aliran sungai yang deras. Banyak masjid yang sudah mengaplikasikan fasilitas berwudhu yang ekologis, sisa air wudhu disalurkan ke area kebun untuk mengairi tanaman-tanaman di sana. Bahkan masjid al-Markaz al-Najmi di Manchester (Inggris) memasang sensor inframerah pada 2008 yang bisa membatasi penggunaan air yang berlebihan.

Setiap bulan Ramadhan, atau hari-hari tertentu di luar Ramadhan, banyak masjid yang menyediakan santap sahur dan berbuka puasa. Biasanya, acara semacam ini menyisakan banyak sekali sampah plastik ataupun styrofoam. Namun pemandangan semacam ini tidak akan terjadi bila sistem yang dipraktekkan secara tradisional di beberapa wilayah Indonesia dipraktekkan.


Setiap jamaah membawa satu atau dua porsi makanan yang dihidangkan dengan piring yang akan dibawa pulang kembali. Setiap jamaah saling bertukar santapan untuk dinikmati. Kalaupun makanan disediakan oleh pihak masjid, wadahnya pun menggunkan daun atau kertas minyak yang mudah diolah kembali. [Zq]

*Sumber: www.theecomuslim.com
Share on :

3 comments:

  1. 1.pendingin udara menggunakan menara sebagai saluran/cerobong penarik udara panas didalam masjid. 2.air wudhu menggunakan sistem sirkulasi tertutup dengan filter untuk lebih hemat air.(ttt)

    ReplyDelete
  2. Jangan lupa manajemen sampah dengan mengurangi, memakai lagi, dan mendaur ulang

    ReplyDelete

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang