Diskusi Santrijagad : Jalan Pulang

14 February 2015

Diskusi Santai Santrijagad #1
Kamis, 23 Januari 2015 di Alun-alun Slawi


Malam Jum'at yang sakral, sholawat dan terbangan mengalun dimana-mana. Tetapi orang-orang ini kabur dari pengajian. Menyepi di remang-remang alun-alun Slawi pada pukul 22.00 di tengah hempasan hujan angin dan badai. Sekedar saling menyapa dan bertemu. Obrolan yang random kemudian membuat anak muda jomblo ini intens membahas perihal pulang kampung. Satu kata yang ringan diucapkan tetapi berat untuk dilaksanakan.



Suasana diskusi santai Santrijagad #1
Kota adalah impian dan gambaran indah setiap orang, dengan berbagai gelimang harta, kesibukan, status sosial. Sementara desa terpotret seperti tanah gelap sepi, becek, penghasilan kecil, lapangan pekerjaan sempit, gengsi yang rendah. Mayoritas pemuda-pemudi di kota ini merantau untuk mengubah Nasib sebab kemauan sendiri ataau keterpaksaan. Fenomena urbanisasi yang tak kunjung selesai.

Dida, jones pengayuh sepeda UGM-Tegal yang kalau dihitung sudah ratusan kilometer ini bercerita, "Pasca lulus bulan-bulan kemarin saya mengalami syok sepulang rumah, di Desa saya, Panarukan, sepi anak muda. Bahkan kini saya pun kesepian di rumah. Teman-teman SD-SMP, apalagi SMA sudah tidak ada lagi." Budi bertanya, “Meninggal maksud sampeyan?” “Bukan, maksud saya merantau,” jawab Dida, saudara seperguruan Banteng sambil udut samsu eceran.

Hegar, laki-laki yang dulu gimbal ini mengiyakan, “Tidak cuma di Panarukan, di Krandon dan Sidakaton banyak sekali perantau yang meninggalkan rumah mewah. Kadang-kadang aku kuwe bingung pan pada ngrantau kuwe nggo apa? Kadang rumah-rumah itu tidak berpenghuni. Hanya ramai setahun sekali pada saat lebaran.”

 “Tapi tidak semua merantau, di Kebasen-Talang dan sekitarnya banyak orang di rumah. Melaksanakan tawaf ekonomi di rumahnya sendiri. Sehingga Kebasen terkenal dengan pelayat paling banyak sedunia kalau ada kematian. Sebab rata-rata berwirausaha dan memiliki freetime. Mayit bahagia kalau meninggal di Kebasen. Didoakan penuh sama masyarakatnya,” Budi mencoba bersuara serak-serak basah menanggapi Hegar.

“Mungkin karena mencari kemapanan,” Jawab Upin, laki-laki yang mengejar cinta sampai ke Provinsi sebelah. Nama aslinya Muhammad Wahyudin.

“Mapan itu apa Mas Jay?” tanya Budi pada Jaya, mantan aktor WWF dan WCW yang berperan sebagai The Rock dan sedari tadi diam. Jaya pun menjawab, “Mama saya plong kalau melihat saya mapan dalam artian ada yang digeluti, pekerjaan yang jelas, dan mungkin menikah,” jawabnya sambil tersenyum dan bersenandung lagu Adele, Someone Like You. Jaya pun berimajinasi suatu hari dia dipijit istrinya setelah mandi air hangat sepulang dari ngasab. Oh!

Upin yang kaget karena Jaya sudah bisa menyanyi lagi melanjutkan, “Mapan itu juga mungkin secara sandang dan pangan tercukupi.” Budi kemudian bertanya kepada Upin, “Tapi sepertinya di dunia ini tak ada yang lebih mapan dari tukang kayu Pin, bisa bikin papan.” Mereka pun tertawa sambil mengingat para mantan.

Budi berkata, “Banyak orang mengejar kota juga karena fasilitas dan kemudahan. Di kota semua ada. Mau apa tinggal lompat. Mungkin juga karena Tegal itu laka-laka. Akhirnya ada joke; ‘laka kabeh’. Tidak ada bioskop, taman-taman diskusi, toko buku yang sangat besar.”

“Tapi lumayan, masih ada buku seken di Maya, Alun-alun Taman Poci,” kata Upin yang semakin menggigil karena jomblo dan hujan yang semakin deras.

Jaya mencoba mencari benang merah dari jahitan diskusi suwek ini:, “Pemuda-pemudi kentang (kena tanggung) semacam kita butuh inkubator, semacam atmosfer untuk terus berkumpul, berdiskusi, mengobrol nasib desa tempat pulang kita. Kota-kota besar sudah semakin defisit spiritual.”

"Setuju Mas The Rock, eh Mas Jay, saat-saat ini pun sepertinya diskusi kita sudah menurun kualitasnya, apakah karena tidak intens bertemu atau kenapa? Ada yang bisa menjelaskan?" Budi mengiyakan Mas Jay.

 “Jelas karena kita bertabrakan dengan realita. Semakin kesana kita menghadapi realita-realita yang sulit dipaskan dengan diskusi-diskusi formal. Ibarat pencak silat, kita sedang langsung tanding dengan realita!” Tegas Dida sambil memasang kuda-kuda kuntulan.

“Bagaimanapun struktur sosial, fenomena pergeseran sosial itu seperti menjadi kelumrahan di era ini. Para perantau yang pulang sepertinya ikut bertanggungjawab atas nilai-nilai negatif yang disebarkan dari kota ke desa,” Hegar menambahkan.

Dida berkata sambil menyedot Samsunya dalam-dalam tapi ternyata kuwalik, “Di desa saya gitaran imejnya negatif, apalagi di luar rumah malam-malam. Bisa dikira pengangguran, juga preman dan pengganggu ketentraman. Sekarang dan nanti sepertinya berubah, tidak lagi.”

Upin menanggapi, “Di desa pasangan pun tabu. Pacaran kalau kelewat tengah malam bisa dipalak atau dikeroyok. Sekarang entah. Karena pemudanya merantau, yang mengeroyok jadi nggak ada.”

Bamz kemudian menjelaskan perihal banyak faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangan psikologi masyarakat dan kota ini. Degradasi dan pengikisan moral semakin menjadi-jadi. Terutama mengenai bagaimana masyarakat mengambil pemahaman mengenai produktifitas. “Sebab produktif sekarang diukur dengan uang,”tegas Bams. Laki-laki dari kaligayam yang gagal audisi vokalis Samsons. Nama aslinya sebenarnya Syofwandi, panggil saja Andi atau Udin.

Dida sambil menyulut Samsu berikutnya (yang ternyata Sampoerna) mencoba berargumen, “Kuliah saja dibebani ekspektasi sehingga kuliah bukan lagi kuliah, pencarian ilmu dan jati diri tetapi pencarian kerja, status, kemapanan. Juga kuliah menggeser lembaga-lembaga lain yang sejatinya berperan penting di Indonesia. Kuliah menjadikan kita mengikuti globalisasi sedangkan globalisasi menghilangkan identitas. Contohnya, perlahan pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia dibunuh eksistensinya. Gus Mus dawuh: tidak ada lapangan kerja yang mencari lulusan pesantren. Padahal pesantren merupakan tonggak utama moral bangsa.”

Bamz meneruskan, “Aslinya lebih baik kita, Indonesia diembargo, embargo dalam contoh kecil dibuang di hutan akan mengakibatkan dua hal: mati atau bertambah kuat. Dengan didikan yang benar dan kearifan lokal, kita akan bertambah kuat!”

Upin tidak sepakat dengan Bams: “Embargo hanya akan mengakibatkan keterpurukan, saya tidak setuju (Upin sedang membayangkan jajan-jajan kesukaannya di Alfamart tidak ada karena embargo).”

“Misal embargo nasional tidak berani, kita harus berani mengembargo diri sendiri dari pengaruh bangsa lain. Nilai dari mereka yang terbukti menghilangkan nilai kita,” jawab Si Bamz..

Budi berkata melanjutkan, “Benar. Tapi sambil kita mesti belajar bagaimana bangsa-bangsa lain bisa maju, misalnya, dan bangsa kita tertinggal. Mobil nasional yang benar-benar mobil pun tak punya. Bagaimana kita bangkit?”

Upin menjawab dengan agak pesimis, “Sulit menyatukan Indonesia karena terlalu beragam, kebhinekaan yang ekstrim. Ada penjelasan mengenai Heterogenitas-Homogenitas. Eropa maju karena homogen, contoh kecilnya mungkin bangsa Skandinavia, bersatu karena sama-sama rasnya.”

Hegar mengiyakan, “Mungkin karena itu Jerman yang sudah dipecah sejarah bisa disatukan kembali. Maka pemimpin Indonesia harus bisa menyatukan siapapun, golongan apapun. Sebab tingginya perbedaan. Meskipun sulit tapi bisa.”

(Kami mengerem diskusi dari membicarakan politik nasional Indonesia yang tidak menarik)

Jaya berujar, “Relatif kita melihat dari sudut pandang mana, Gajah Mada bisa menyatukan Nusantara dulu kala. Kita tidak bisa mengejar Barat karena kita sesungguhnya punya orientasi masa depan sendiri. Barat tidak bisa dikejar timur karena beda orientasi, sama juga barat mengejar timur dalam teknologi internal, kemajuan-kemajuan esoteris, karena logika mereka adalah logika material.”

Budi memberi contoh, “Tetangga saya dulu bercerita,  Alg-Ghazali konon mencari ladang minyak hanya memakai daun. Diterbangkannya daun itu lalu ditemukannya ladang minyak yang minim resiko. Tidak seperti sekarang begitu digali yang keluar adalah lumpur. Sekarang ini juga muncul kerumitan-kerumitan khas barat. Ilmu pengetahuan materialis yang dipecah-pecah padahal satu tujuan: Geologi, Geodesi, Geotermal. Padahal dahulu kala orang cuma belajar beberapa mata pelajaran utama: Sastra, Silat, Agama, dan seterusnya.”

Jaya ingat diskusi di Blok M, “Mantra itu pun khazanah Timur yang terlewatkan. Tidak bisa digali dengan sains Barat. Hanya jika kita mau menggalinya. Kebangkitan kita, Tegal-Indonesia hanya akan terjadi ketika khazanah lokal digali lagi. Lihat Honocoroko, aksara ini hilang karena tidak diajarkan. Kita mesti menggali perlahan sumber-sumber lama kita. Eropa bangkit karena meninggalkan Arab-Persi, kembali ke khazanah mereka: Helen, Yunani, Romawi, dan lainnya.”

Upin mengiyakan Jaya, “Klenik, animisme, dinamisme, bahkan syirik. Banyak yang hilang: keris, batik. Pernahkah sampeyan membayangkan dengan apa pendekar jaman dahulu bertarung memakai keris? Pertanian kita jangan pertanian barat. Pernah saya dengar di Jogja sana ada yang bertani kemudian tanamannya ditabuhi gamelan dan sukses panen. Padi Temanggung hidup karena ritual.”

Malam semakin larut, menjadi dini hari. Hujan selesai dan jomblo semakin menggigil merindukan kasur di rumahnya masing-masing. Kami pun pulang dengan dehidrasi. Karena hanya udut tidak pakai minum sampai jam 1 malam sebab semua pedagang sudah tutup. [Bm]

*Rekaman tertulis Diskusi Rutin Komunitas Santrijagad. Digelar tiap Kamis malam Jum'at awal bulan. Siapa saja boleh hadir termasuk jomblo dan setan. Tidak ada benar-salah, apalagi solusi atau pergerakan, sekedar kontemplasi bersama.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang