Reproduksi Berkah

16 February 2015

Diskusi Santai Santrijagad #2
Kamis, 23 Januari 2015 di Alun-alun Slawi


Hujan deras tidak menyurutkan semangat para Jomblowan untuk  mencari ilmu. Jomblo harus pintar, kalau tidak, bisa digerus kejamnya jaman. Diskusi yang seharusnya dilakukan pada pukul 20.00 molor menjadi 22.00 dan tempatnya berubah dari latar Masjid Agung Slawi menjadi Alun-alun Slawi seperti biasa. Makanan dan minuman seadanya digelar sebab jomblo jelas sangat rawan busung lapar.

Diskusi Santrijagad #2 di Alun-alun Slawi
“Reproduksi, bila kata-kata ini jatuh ke penggemar JAV maka akan selalu dikaitkan dengan seksualitas. Tentu bila dibahas disini akan muncul literatur kelas berat seperti Qurrotul Uyun, Raudhatul Muathar, Kamasutra, dan lain-lain. Tapi kita sementara tidak membahas ini sebab Jomblo harus banyak berpuasa, termasuk puasa pemikiran seksual,” Jaya membuka diskusi nan barokah ini sambil menyebulkan asap Samsu dari mulut. Tanda diskusi ini dimulai.

“Mungkinkah berkah bisa direpro? Diproduksi ulang secara berkali-kali? Itu yang akan menjadi bahasan kita pada malam hari ini. Apakah barokah itu? Apakah ‘Re’ itu? Apakah barokah sudah tidak ada? Monggo dibedah,” pancing Budi.

Literatur kemudian dibuka, Menurut bahasa, berkah sendiri berasal dari bahasa Arab: barokah (البركة), yang definisinya adalah nikmat (Kamus Al-Munawwir, 1997:78). Istilah lain berkah dalam bahasa Arab adalah mubarak dan tabaruk. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179), berkah adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. Menurut istilah, berkah (barokah) artinya ziyadatul khair, yakni “bertambahnya kebaikan” (Imam Al-Ghazali, Ensiklopedia Tasawuf, hlm. 79). Para ulama juga menjelaskan makna berkah sebagai segala sesuatu yang banyak dan melimpah, mencakup berkah-berkah material dan spiritual, seperti keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, anak, dan usia.

Upin bertanya penasaran seperti penasaran pada gadis kota sebelah, “Contoh sehari-hari berkah itu apa? Makanan?” Jaya menjawabnya sambil mengangkat tangan dan menepuk bathuk, “Kalau dalam pernikahan aku tidak bisa menjawab, aku jomblo broh.” Tiba-tiba setelah Jaya menjawab, ada wongedan perempuan lewat, sepertinya dia sengaja hadir untuk mengobati luka kesepian Jaya selama ini.

“Kita makan, kita bekerja tapi gelisah. Apakah itu tanda tidak berkah?” Budi bertanya. Bam menjawab, “Mungkin, barokah ada terus tapi mungkin kita merasa tidak mendapatnya.” Jaya berpendapat, “Makna repro barokah menurut saya bukan direpro, tapi ketenteraman bisa dirasa, ditimbulkan ulang. Duit sedikit tapi tentrem bisa dicurigai sebagai barokah.”

Upin menambahkan, “Prinsip Ekonomi juga bisa diterapkan dalam menjelaskan barokah, saya pernah mengantar seorang ulama dari Jatinegara sampai Depok dan hanya memakan waktu 1 jam. Ini sangat tidak mungkin secara logis mengingat waktunya adalah siang hari dan hari jumat jam 11 dimana jalan sedang macet-macetnya.” Sahut Jaya, “Itu bisa saja. Barokah yang secara logika tidak cukup, tapi ternyata cukup bagi para Wali-Wali Allah, Sohabat nabi untuk berdzikir ratusan ribu, sholat ribuan kali, bahkan hatam Al Qur’an dalam semalam.”

Upin berkata, “Berkah sendiri saya rasakan menempel di berbagai hal. Banyak orang islam kaya secara finansial tapi tidak jadi haji, tidak niat haji bahkan. Itu tanda rejekinya kurang berkah sebab barokah itu dampak.”

“Sepakat! Dekat ulama dan akhirnya terhindar dari zina, mirip konsep Digital Fortressnya Dan Brown. Kalau kita fatihah ke wali-wali kita mendapat berkah berupa anugerah-anugerah seperti itu. Contoh simpelnya saya mendekati banyak wanita dan akhirnya kandas terus,” kata Jaya mengelap air matanya yang mulai meleleh karena ingat mantan.

Budi menambahkan, “Saya berteman dengan KBK (Komunitas Berbasis Kuburan) dan akhirnya merasakan dampak berkah-berkah dari mereka. Hidup saya ayem tentram.”

Jaya membuka lagi, “Kaitannya apa dengan tahlil menjadi berkat, konsep dalam Jawa mengkongkritkan yang abstrak dan mengabstrakan yang konkrit.” Budi memberi contoh berupa Madhang, konsep makan, materi yang diharapkan bisa madhangi ati, membuat hati penuh nur dan bercahaya.

Upin membuka kosakata Jawa lamanya, “Berkat, brek-brek diangkat. Tandhur, nata karo mundhur.” Tapi Jaya membantahnya, “Akronim itu perlu dipertanyakan, apakah otak atik atau tidak? Bisa jadi cuma gawean otak atik gathuk untuk memudahkan definisi. “ Budi berkata, “Oh ya Berkat lawuhe ajeg, tradisinya tetap: telur, mie, sambel goreng. Pluralisme pun sudah tercermin dalam wadah bernama cepon.”

Upin menambahkan, “Bahkan di Tegal, desa sudah menjadi Berkat. Desa Berkat Tegal. Kita perlu meneliti berkat itu Islam atau Jawa, dalam artian mencari literaturnya.”

Dida yang sedari tadi diam karena semedi menyanggah, “Berkat menurut saya adalah transformasi dari tumpeng yang diwadahi, bukan seperti itu konsepnya tapi mungkin juga berkat itu muncul dari khazanah Islam. Secara positif.”

Bam sambil menyulut Djarum berkata, “Berkah itu bukannya prasangka? Kesensitifan kita mesti diasah, siapa yang diberi berkah, Gusti Allah memberi berkah kepada banyak hal yang kita harus menjemputnya. Kita melakukan kebaikan nanti muncul kebaikan lain, dan seterusnya,” Bam kemudian bercerita ada ulama diundang slametan di Bank, Riba. Itu bukan suatu keberkahan. Sebab sekarang sudah bergeser, definisi berkah sekarang adalah prasangka, duit bertambah, dapat materi, dan semacamnya.

Jaya kemudian membaca headline berita terkini, “Seperti istilah; banjir membawa berkah bagi tukang ojek, yang dianggap musibah saja bisa diambil berkah dan manfaatnya.” Bam berkata, “Memangnya apa kebalikan kata dari berkah? Manfaat?”

Upin menyahut, “Saya barusan berpikir. Berkah punya banyak elemen; nyaman, manfaat, kebahagiaan. Assalamualaikum sendiri sebenarnya janji keselamatan, rohmat umum jadi barokah untuk mu’min. Mungkin kebalikannya itu Istidroj, kalau melihat deteksi outputnya. Output buruk bukan barokah dan barokah turun terus sepanjang kita menyambutnya.”

Bam sambil kukur-kukur jildodnya (harap pembaca tidak usah penasaran apa itu ‘jildod’), kemudian menjelaskan perihal efek lari dari ulama, berkah dicabut, lahir pemimpin dholim seperti Indonesia saat ini. Ketika barokah dicabut, kita niat positif tapi hasilnya negatif. Keberkahan dicabut, bermakna masal, waktu menjadi cepat sekali berlalu.”

Upin menambahia, “Berkah dicabut juga karena maksiat. Bagaikan banyu kolam keruh sedikit, keruh semua. Najis semua.” Sahut Jaya, “Berkah seperti listrik, kalaupun zaman diberi berkah tapi nggak ngefek, there is something wrong. Bohlam tidak menyala meskipun listrik mengalir terus berarti ada yang salah dengan bohlam itu.” Menurut Jaya, Indonesia sendiri berdiri karena keberkahan. Dalam berkah: listrik sinyal ada yang jadi tower, hape, satelit ada terus tapi bagaimana kita menyambungnya.

“Juga kita mesti waspada pada apa yang kita makan,” kata Upin, “Makanan ada yang halal, ada yang tidak. Waspadalah, seperti kata Sunan Bonang cucilah pakaianmu jangan dengan air najis.” Dida, fisikawan amatir yang datang agak telat karena mencari gadis di jalan-jalan sepi Slawi berpendapat lagi, “Saya tidak puas dengan Ziyadatul Khoir, sepertinya kita bisa menggali lagi.”

Bam merespon, “Taraf berkah di saya sendiri masih prasangka. Pol bagi saya nyaman, salah satu anugerah besar adalah dipertemukan dengan ulama-ulama yang benar, yang ketika kita menyebut namanya saja berkah akan turun. Dulu SMP saya tidak tahu apa-apa mengenai Ahlussunnah Waljamaah, Sufisme, Konsep-konsep Islam. Mungkin rotib waktu SMP yang menuntun saya kesini.”

Kalam Bam ini dijelaskan secara gamblang oleh Prof Shobah Ali Al-Bayati, seorang cendekiawan Muslim Irak. Melalui bukunya bertajuk “At-Tabarruk” yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “Tabarruk Ceraplah Berkah dari Nabi dan Orang Saleh”, ia tidak saja menunjukkan bahwa tabarruk bukanlah bid’ah yang dilarang, tetapi sebaliknya menunjukkan dengan gamblang bahwa ia merupakan tuntunan langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw.

Tabarruk (atau kalangan pesantren menyebutnya ngalap berkah) berarti meraih berkah, kebaikan, dan kebahagiaan dengan media sesuatu yang diistimewakan Allah. Diistimewakan karena Allah telah menyematkan atau mengalirkan keberkahan kepadanya. Oleh Professor Shobah, berkah juga didefinisikan secara ilmiah sebagai “energi positif” yang luar biasa dahsyatnya, yang terpancar ketika seseorang berhubungan dengan suatu media, tentu atas izin Allah swt.

Budi kemudian bercerita fabel tentang momen, dimana orang bisa menggunakanannya untuk yang bermanfaat, bersiap diri untuk masa mendatang dan orang yang lalai. Pada suatu hari di musim gugur ada kunyuk dan kelinci yang sama-sama mencari makan. Kelinci cerdas, dia tidak makan banyak dan menyimpan perolehan makanannya untuk persiapan musim dingin. Monyet tidak, dia makan banyak sekali dan tidak peduli musim dingin. Pada musim dingin kelinci selamat di persembunyiannya. Monyet kelabakan dan akhirnya mati.

Jaya menanggapi, “Kebaikan sendiri itu adalah kata relatif, tapi tolok ukurnya ya syariah, hukum agama. Saya ingat kaosnya Zia; barokah itu misteri. Memang. Benar-benar misteri.”

“Barokatul wakti itu rasa apa realita?” tanya Budi. “Realita!” Jawab Bam. Bam bercerita ada seorang habib naik becak dari Kudus hendak ke Habib Luthfi Pekalongan. Tentu tukang becaknya bingung, “Pekalongan mbecak, bisa turun bero saya Bib?” Lalu habib itu menyuruh agar nurut saja. Tiba-tiba ketika digenjot, wuzhhh becak sudah berada di gang dekat Kanzus Sholawat, Pekalongan. Becak akherat kyeh!

Dida menambahkan, “Mi’roj sendiri realitas, bukan rasa.  Waktu ada yang lebih panjang dari orang lain meskipun wiridan sukar dijelaskan dengan teori relativitas Einstein.” Dida kemudian menjelaskan perihal dimensi 1,2,3 dan 4 dimana merupakan dimensi ruang dan waktu berada. “Jadi kita tidak bisa berkata Tuhan itu di langit atau Tuhan di dimensi mana karena dimensi 1-4 merupakan dimensi ruang dan waktu yang diciptakannya, tidak seperti kaum Muktazilah.” Dida pun membuka wacana baru, bagaimana kalau pertemuan mendatang kita mendiskusikan internal voice, suara diri yang membuat kita melakukan apapun di dunia ini. Benar atau salah.

Kami kemudian sepakat untuk membahas pada diskusi berikutnya tentang “Internal Voice” yang ada salah seorang penulis barat pengagum yoga berkata, “Suara dari dalam dirimu itu bukan suaramu.” [Bm]

*Rekaman tertulis Diskusi Rutin Komunitas Santrijagad. Digelar tiap Kamis malam Jum'at awal bulan. Siapa saja boleh hadir termasuk jomblo dan setan. Tidak ada benar-salah, apalagi solusi atau pergerakan, sekedar kontemplasi bersama.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang