Suara Dalam Dirimu

22 February 2015

Diskusi Santai Santrijagad #3
Jumat, 20 Februari 2015 di Taman Rakyat Slawi


Jaya membuka diskusi ini dengan bismillah. Bersyukur kita masih bisa berkumpul di tengah derasnya individualisasi, privatisasi dan kesibukan masing-masing untuk duduk bersama mencari ilmu dan kebenaran. Di saat dimana orang sibuk mencari siapa yang benar tapi lupa mencari apa yang benar. Kita masih diberi kekuatan melaksanakan nilai-nilai keindonesiaan tentang musyawarah mufakat dan persatuan Indonesia.

“Kami cabut apa yang terdapat dalam kalbu mereka rasa iri, sehingga mereka semua merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan” (QS Al-Hijr, ayat 47)

Begitulah bunyi ayat yang mendasari kami untuk terus melanggengkan pertemanan, silaturrohiim, dan pertemuan-pertemuan ini. Asap Samsoe mengudara, tanda gong obrolan santai ini dibuka.

Budi membacakan pengantar bahwasanya pada pembahasan kali ini kita sedang membahas sesuatu yang sangat penting, suara dalam diri. Dimana sebenarnya fitrah manusia adalah berketuhanan, keluarga dan lingkunganlah yang menjadikan manusia sukar menuju kepada kesejatian itu.


Poster Diskusi Santrijagad #3
Rumi bilang bahwasanya “hati adalah cermin, bersihkanlah debu dalam dirimu”. Ketika hati kita bersih maka yang akan terjadi mungkin kita bisa mendengar atau bahkan menafsirkan Alqur’an di alam raya ini. Pernah dijelaskan oleh Syeh Hisyam Kabbani Naqshabandi tentang tafsir surat Al-Muddatsir bahwasanya “bukalah selimutmu” itu bagi Rasulullah: “Engkau memiliki Al-Qur’an dalam hatimu, bukalah”. Kita semua bersumber dari anugerah Ruh Ilahiyah yang misterius. Pasti di satu waktu kita akan rindu asalnya. “Baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara di luar sana” pesan Umbu Landu Paranggi.

Sebab Tuhan persifatan Kalam. Dalam hal ini tidak terikat ruang dan waktu jadi kalam/bicaranya itu abadi. Seperti deras hujan tapi tidak semua tumbuh menjadi tanaman atau pohon. Tidak semua menyimak kalam ini. Kalam Tuhan hadir setiap saat, setiap detik, setiap waktu.

Kafir yang dijelaskan Imam Besar Jomblowan alias Ustadz Sya’roni bukanlah kebalikan dari Islam karena bagi agama lain pun Islam itu kafir. Kafir/cover adalah menutup diri, tidak mau menerima kebenaran. Tidak ingin membuka kalam-kalam Tuhan yang terus hadir pada kehidupan kita. Juga menutup diri dari pencarian kebenaran. Kita perlu mencari taslim/ketentraman jawaban kebenaran pada kehidupan kita masing-masing lewat ngobrol-ngobrol semacam ini.

Kami mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan dari yang hadir. Pertanyaan pertama dari Openk, “Internal voice itu sendiri apa? Internal voice itu apakah nurani? Suara hati bukannya identik dengan kebaikan?” Indra pun bertanya, “Bagaimana dengan kasus kriminal bisikan gaib? Itu bukan bunyi?” Jaya menambahkan pertanyaan, “Apakah suara itu sendiri lintasan pikiran dan hati yang hadir dan melakukan dialog?” Geko yang baru hadir pun bertanya dengan antusias: “Hati itu wadah, ada nafsu (baik/tidak baik) apa kaitannya?”

Medi yang aslinya dari kata “Memedi” menambahkan, “ Saya percaya suara itu adalah pihak ketiga, ada tarik menarik diantara kita, diantara suara diri dan suara diluar diri itu untuk berbuat sesuatu.

Openk berkata: “Sebetulnya ada yang menggerakkan hati, juga nafsu. Akan tetapi semakin orang meredam nafsu, kita akan menjadi orang yang lebih kepada kebaikan, nafsu sumber penggerak, sumber internal voice, bisikan hati itu sendiri. Jaya dengan logat khas Kesuben bicara menanggapi, “Kita perlu memikirkan apa itu angan-angan, lintasan hati. Lintasan pikiran dan hati. Terkadang ada dialektika yang saya tidak bisa mengontrol. Muatan lintasan itu terkadang pula membuat diri saya tidak nyaman.”

Openk merespon Jaya, “Yang saya sedang pikirkan bahwasanya hati adalah media pengolah. Sumbernya bisa dari internal dan eksternal. Semua diolah di akal diputuskan hati. Ilmu sendiri masih mentah kemudian masuk ke otak kita. Diolah dan ditaruh disitu, outputnya kita namakan inklinasi, semacam pengambilan sikap dalam kehidupan.”

Medi bertanya kepada yang hadir, “Kalau pada terminologi akal sehat? Kenapa ada term akal sehat ini? Berarti ada akal yang sakit? Apakah akal dan pikiran sama? Apakah akal itu netral? Ilmu sendiri netral. Ilmu tak bisa dianggap jahat/jelek kecuali menimbulkan madhorot, ilmu sendiri tidak bisa disalahkan. Misal ilmu santet, kalau tidak digunakan dan madhorot itu ya tidak masalah sepanjang hanya untuk pengetahuan.”

Budi membuyarkan semua pertanyaan dengan mengeluarkan pertanyaan, “Sebetulnya kapan saya mbojo?” Halah! Karena makin mumet dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersilangan, maka literatur resmi pun digelar untuk bisa meletakan dimana hati dan akal.

Imam Al Ghazali, dalam Muhtashar Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa akal adalah suatu tools untuk mengenali data-data nalar. Seakan-akan ia adalah cahaya yang ditempatkan di dalam kalbu. Dengannya hati siap mengenali sesuatu. Kadar dari insting berbeda sesuai dengan tingkatannya. Kedudukan akal seperti seorang raja. Memiliki banyak pasukan, yaitu tamyiz (kemampuan membedakan), daya hafal dan pemahaman. Kebahagiaan spiritual adalah akal, karena menyebabkan apsek fisik memperoleh kekuatan.

Al Ghazali melihat akal sebagai jiwa rasional, yang mempunyai dua daya: daya al ‘amilat (praktis) dan daya al ‘alimat (teoritis). Akal praktis digunakan untuk kreativitas dan akhlak manusia. Artinya, terwujudnya tingkah laku yang baik bergantung pada kekuatan akal praktis dalam menguasai daya-daya jiwa tersebut. Sedangkan akal teoritis berfungsi untuk menyempurnakan substansinya yang bersifat immateri dan abstrak. Hubungannya adalah dengan ilmu-ilmu yang abstrak dan universal.

Dari sudut ini, akal teoritis mempunyai empat tingkatan kemampuan, yaitu: al ‘aql al hayulani (akal material), al ‘aql bi al malakat (habitual intellect), al ‘aql bi al fi’il (akal aktual), dan al aql al mustafad (akal perolehan). Akal al hayulani merupakan potensi belaka, yaitu kesanggupan untuk menangkap arti-arti murni yang tak pernah berada dalam materi atau belum keluar. Akal malakat, yaitu kesanggupan untuk berfikir abstrak secara murni mulai kelihatan sehingga dapat menangkap pengertian dan kaidah umum. Misalnya, seluruh lebih besar daripada bagian. Akal fi’il yaitu akal yang lebih mudah dan lebih banyak menangkap pengertian dan kaidah umum yang dimaksud. Akal ini merupakan gudang bagi arti-arti abstrak yang dapat dikeluarkan setiap kali dikehendaki.

Adapun akal al mustafad, yaitu akal yang di dalamnya terdapat arti-arti abstrak yang dapat dikeluarkan dengan mudah sekali.

Cara beraktivitas akal-akal tersebut untuk menghasilkan ilmu dapat dijelaskan secara singkat: akal hayulani semata-mata berupa potensi, hanya mampu menangkap sesuatu dari luar jika mendapat rangsangan. Kemudian akal malakat melakukan abstraksi. Proses abstraksi itu menghasilkan pengertian. Hasil abstraksi (pengertian) itu kemudian disimpan oleh akal fi’il dan selanjutnya diteruskan pada akal mustafad menjadi ilmu. Akal memerlukan deria sebagai kuasa yang tunduk padanya, sebagai mata-mata, sebab deria itulah yang membawa berita dari alam luar kepada akal, kemudian akal meneliti dan menilai berita-berita itu.

Sedangkkan hati dalam kitab Ihya’, Imam Al-Ghazali membahas panjang lebar tentang Hati dengan sub judul Kitab “Aja’ib Al-Qalb”. Dalam pandangan Al-Ghazali, hakikat manusia bisa diungkapkan dengan kata Al-Qalb, An-Nafs, Ar-Ruh dan Al-‘Aql. Masing-masing kata Al-Qalb, An-Nafs, Ar-Ruh dan Al-‘Aqal memiliki 2 makna: dan salah satu makna nya adalah hakikat manusia. Hati (Al-Qalb) adalah bagian dari manusia yang mampu memahami, mengerti, merasakan dan sebagainya.

Imam Al-Ghazali berkata, bahwa tempatnya berbagai pengetahuan adalah Hati. Hati memiliki dua sisi. Sisi satu menghadap Alam Ghaib, sedang sisi dua menghadap Alam Nyata. Biar mudah, sebut saja sisi Hati yang menghadap Alam Ghaib dengan istilah “Perasaan”. Lalu sebut saja sisi hati yang menghadap Alam Nyata (dunia) dengan istilah “Pikiran”. Dengan begitu kita bisa mendefinisikan Hati sebagai totalitas Perasaan dan Pikiran.

Adapun buah Pikiran itu: 1) Pengetahuan 2) Suasana Hati dan 3) Tindakan. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, Tindakan mengikuti Suasana Hati. Suasana Hati mengikuti Pengetahuan. Pengetahuan mengikuti Pikiran. Jika begitu Pikiran itu dasar dan pembuka semua kebaikan. Pengetahuan Diri itu akan menentukan Suasana Hati. Sedangkan Suasana Hati itu akan menentukan Tindakan di Dunia. Keberhasilan dan Kegagalan dari sebuah Tindakan di dunia ini sangat ditentukan oleh Suasana Hati. Kualitas dari Suasana Hati ditentukan dari Kualitas Pengetahuan yang dimasukan oleh Pikiran ke dalam Perasaan.

Para hadirin ndowoh.



Suasana ngobrol santai Santrijagad di Taman Rakyat Slawi, Tegal
Geko menceritakan pengalamannya, “Ada dua bisikan dalam hati kita, positif atau negatif. Pada proses pencarian Tuhan, pada pemikiran yang sangat berat saya mengalami hawa dingin di perut, naik ke atas dan mau lepas, menggigil. Saya mencari pencipta dalam pemikiran. Pernah seminggu otak saya menjadi hang. Mungkin akal saya tidak sampai karena tidak ada tools pengetahuan mencapainya.”

Upin merespon apa yang dialami Geko, “Itu adalah gejala depresi, pada kasus pemikiran yang terlalu dalam dan berat tidak pada koridornya akhirnya pikiran menjadi blank. Bagaimanapun akal juga punya batas. Praktisnya angan dan kenyataan harus beriringan. Jangan terlalu besar keinginan.”

Fajar, seorang gondrong dari Desa Cawitali yang sedari tadi diam bertanya karena merasa sedang menjadi wongedan, “Obatnya apa ya Pin? Sepertinya saya membutuhkannya.” Upin menanggapi, “Ringkasnya, cinta sendiri kadang saya tafsirkan adalah keinginan muluk yang berlebihan sehingga bisa menimbulkan depresi. Mungkin Mas Fajar mengalami itu. Obatnya sederhana: mbojo Kang!”

Kami pun ngakak dan ingat mantan masing-masing.

Fajar bercerita pengalamannya sehari-hari. Kembali ke tema. Semua dari kita mencari jawaban saat ini sedang mencari darimana suara itu. Suara itu tergantung tempat atau waktu. Pengalamanku ada hawa gelisah dan berdoa. Ada lintasan pikiran jam 2-3 pagi. Suara juga berbeda sesuai waktu. Budi bertanya, “Itu suara wanita ya? Bukannya suara tidak berkelamin? Jangan-jangan itu suara mantanmu yang selalu menghantui.”

Openk berkata, “Jangan-jangan kesendirian itu sendiri membuat lintasan suara-suara itu. Maka kesendirian, menyendiri, rasa hanya sendiri itu pun berbahaya sebab bisa menyesatkan kita dengan suara-suara yang tidak bisa kita klarifikasi kebenarannya.” Seperti pesan Kyai Amin Budi Harjono, “Kamu boleh sendiri tapi jangan menyendiri”. Kami pun segera mengecek nomer HP masing-masing kalau-kalau ada sms dari lawan jenis karena berpikir bahwa jomblo adalah makhluk yang sangat berbahaya di dunia, jomblo terancam sesat berpikir.

Medi bercerita pengalamannya di Kramat, yang penuh sawah, “Terkadang pada hening dan sepi saya teringat masa kecil, saya tidak memintanya atau berpikir tentang itu. Seperti ada yang mendatangkan.” Openk bilang, “Akal dan nafsu, hati melakukan dialog. Ada hati didominasi akal, ada hati yang didominasi keinginan. Lalu insting apa? Seperti pada lagu Cranberries; The Animal Instinc. Saya pikir insting lebih ke bagaimana manusia sebagai hewan: makan, kawin, dst.”

Khalim menambahkan realita yang muncul dalam hidupnya. Perlintasan seperti itu muncul paling dekat dengan realita yang terjadi pada diri kita. “Kesendirian akan memunculkan dialog-dialog, akal, nafsu berdebat dalam komposisi itu. Kemudian menjadi semacam trigger. Di dalam kemudian terjadilah perdebatan-perdebatan di dalam diri. Seperti perdebatan akalnya tentang Jobfair. Sesungguhnya jobfair itu tidak waras bahkan gila. Disaat orang mencari kerja, tidak punya uang kemudian masuknya pun bayar. Akhirnya pada waktu itu, aku yang tak punya uang hanya udut di luaran jobfair.”

Openk lanjutkan, “Penekananan output suara atau lintasan itu tetap ada di perbuatan, ada efek kecil dan besar ketika suara hati itu bergulat.” Indra kemudian membahas tentang tema ini dari perspektifnya, “Pulang ke awal, aku pernah baca artikel. Perasaan itu bukan dari hati tapi dari otak. Mungkin disimbolkan sebagai hati. Apa yang kita katakan dari tadi itu tidak punya pembuktian. Bisikannya seperti apa? Bisakah kita membuktikan dari siapa bisikan-bisikan itu. Daripada saya kurang memahaminya maka pada bahasa real saya itu adalah inspirasi. Indra kemudian diminta Openk untuk menceritakan bagaimana pergulatan pemikirannya untuk hidup di Tegal daripada Jakarta. Seperti pada tema diskusi pertama Santrijagad: “Jalan Pulang”.

“Hidup adalah pilihan stay di kota atau di desa. Kita perlu mencari faktor-faktor penguat push/pull dalam pengambilan keputusan. Bahasa yang mirip suara ini adalah inspirasi, banyak seniman yang menjadikan inspirasi ini hidupnya. Misal di WC ketika inspirasi masuk, ketika mandi inspirasi masuk, ketika sholat masuk. Misalnya dalam pekerjaanku dalam bidang seni, aku mau membuat kaos secepatnya menuangkan ke coretan/software setelah mendapat ide ini,” katanya.

Medi berkata, “Mungkin karena kita dalam jumlah mini, kalau jumlah besar inputan akan semakin banyak sehingga bisa melihat dampak realitas yang terjadi pada pribadi suara dalam dirimu.” Geko kemudian menjelaskan, “Hati sendiri tidak bisa mikir, benar Openk bahwa hati pun eksekutor, pengambilan keputusan ada disana.”

Literatur tentang otak secara medis pun digelar:

Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron. Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar, gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran. Otak dan sel saraf didalamnya dipercayai dapat memengaruhi kognisi manusia. Pengetahuan mengenai otak memengaruhi perkembangan psikologi kognitif. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi. ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya.

Kukuh yang seperti kurang setuju pembahasan medis berkata, “Sebenarnya kita membahas tentang ide yang dipengaruhi hati, akal dan lingkungan. Manusia kamingajinen seperti kamu semua itu harus tahu bahwasanya Di thoriqoh pun ada rutinitas wirid yang sebenarnya menyaring suara-suara/ide yang tidak bagus. Manusia itu free will, tapi sebenarnya tidak ada free will di dunia karena hakikatnya Allah, Qudroh illahi. Maka dalam satu waktu dunia ini manusia cuma bisa bersyukur karena mendapat nikmat dan anugerah Tuhan atau dihina, dilaknat Tuhan karena free willnya.”

Karena pembahasan semakin seru dan panas maka diademkan dengan akustikan dari Kukuh & Friends. Kami menyanyi Mr. Big, Iwan Fals, sampai Firehouse untuk meredam kobongan pada otak kami.

Setelah fresh, Jaya kemudian menjelaskan, “Sumber suara bermacam-macam sehingga sulit mengidentifikasikannya bagaimana, sehingga kita sampingkan sumbernya dulu, kita lihat sikap-sikapnya, dampak-dampaknya. Saya pernah mendengar dari seorang ulama bahwa hati itu seperti radio, bila makan harom maka suara yang keluar adalah suara untuk berbuat kejelekan. Ajakan kepada kebaikan.”

Khalim menjelaskan tentang skripsinya di Teknik Elektro sekaligus mencerahkan tentang bagaimana kita menyikapi suara ini. Dia menjelaskan tentang gelombang (code, encode, dan decode). Khalim menegaskan bahwasanya ketika kita membahas suara itu bukan suara hati. Karena pada kesepakatannya hati itu tidak punya huruf apalagi suara. Yang terjadi adalah kalam insan biasa. Karena suara secara fisik fisika itu longitudinal, yang respon dari taalluqnya adalah telinga. Apabila kita ngomong perihal kalam hati manusia kita harus membuat decode untuk mengurangi distorsi ataupun noise.

Kami tercengang karena baru mendengar tentang code, decode, encode, distorsi dan noise. Ternyata kami selama ini melihat Khalim hanya bentuknya yang suram. Ternyata otaknya sangat encer dan bercahaya.

Code: Bentuk pesan yang terselubung. Decode: Membongkar pesan/kode dengan melakukan tafsir. Encode : Meringkas/mengkompres pesan asli ke kode.

Kalau kita sepakat perihal Kalam Tuhan itu juga akhirnya menciptakan kalam manusia juga di hati yang hanya dampak maka. Bahwasanya dengan mengaji kita sebenarnya sedang melakukan encode, yaitu pembongkaran kalam dari Allah di hati yang berupa code. Meskipun decode kita sendiri memiliki noise yaitu panas, hawa nafsu kita. Nafsul amarah istilahnya. Kalau decoder/hati rusak maka pesan encode dari Tuhan berupa kalam-kalam abadi itu rusak. Untuk meng-Encode kita butuh ilmu dari Rasulullah selaku utusan Tuhan.

Medi yang mumet kemudian menyederhanakan bahasa Khalim, sebenarnya ini perihal grammar. Kita mesti tahu grammar supaya tahu bahasa-bahasa Tuhan yang disampaikan ke kita atau semacam messenger. Mungkin karena itu Rasul disebut messenger.

Kami pun terhenyak (dan juga lapar). Dua orang gadis cantik menghampiri kami semua. Kami kira menawarkan diri untuk diperistri tapi ternyata mau mengambil gelas kopi karena gelasnya kami borong dan kekurangan untuk pembeli lain. Asem!

Openk merespon jawaban itu, “Sebenarnya penunjang decode/hati yang benar itu adalah kita ngaji, kita mencari berkah dari ulama, sir-sir ulama, doa orang tua.” Jaya mengiyakan dan sepakat bahwa itu sebenarnya semacam sandi, informasi yang bermacam-macam. Openk melanjutkan, “Al-Qur’an sendiri adalah info dari Tuhan, semacam hasil encoding. Kalam yang ditulis dan memiliki arti mewakili Kalam Tuhan yang tidak terjangkau itu dan decodernya adalah Kanjeng Nabi. Pantas di Qur’an sendiri ada ayat muhkamat dan mutasyabihat. Ada yang dhoruri, mudah dipahami akal manusia dan sesuai tekstualnya. Ada yang sangat berat, berlapis, terselubung rahasia.”

Khalim mengiyakan, “Istilahnya ini di Elektro adalah repetisi dalam coding, sangat mudah diterjemahkan tapi ada pula message yang ruwet.” Jaya dan Khalim sepakat untuk melakukan decode Qur’an butuh ilmu tafsir, bayan, ma’ani dan ilmu-ilmu alat seperti nahwu shorof dan banyak ilmu lain. Juga hadits untuk menjelaskan transkrip ini. Khalim berpendapat bahwasanya, “Qur’an itu menurut saya hasil encode yang mudah untuk dipahami akal manusia. Karena itu banyak ayat yang menunjukan Qur’an diturunkan buat orang berakal, agar mikir. Semacam tanggung jawab akal.”

Jaya bilang “Paradoksnya Al-Qur’an bisa dipahami tapi sebenarnya rumit. Itu kalam qodim tapi tertulis dan ada artinya. Ketika kita berpikir tekstual, limitasi tapi sebenarnya Al Qur’an / kalam Tuhan tidak terbatas apapun.”

Khalim menjelaskan perihal manunggaling kawulo lan Gusti. Sebuah konsep yang disalahgunakan orang awam yang memahaminya sebagai “Persatuan Tuhan dengan manusia adalah persatuan fisik.” Bukan. Penyatuan ini adalah penyatuan dimana kalam Tuhan dibuka rahasia seluas-luasnya di hati manusia yang sudah benar-benar kosong dan bersih sehingga apa yang dilakukan manusia ini adalah Qudroh dari Tuhan, seperti para salafunasholihin. Apa yang mereka lakukan sebenarnya adalah tuntunan dari kitab.

Hidup mereka adalah kitab sebagaimana hidup Umbu Landu Paranggi adalah puisi.

Khalim melanjutkan, “Kita semua tahu bahwa kalau bicara tauhid, yang terjadi adalah paradoks. Pada tauhid konservatif adalah wajib mustahil jaiz, maka dari tauhid konservatif inilah yang kita gunakan mencari fenomena sehari-hari, menghadirkan Tuhan dalam kehidupan kita. Di hidup salafunasholih tiada hari tanpa ‘laailahailallah’, pemahaman sejati pada Sang Maha Kalam, suara sejati itu. Paradoksnya adalah; untuk mencari Tuhan kita butuh dalil/bukti tapi Tuhan sendiri tidak butuh dalil kita, diyakini atau tidak ya Tuhan tetap ada, tidak butuh kita. Qiyamuhu ta’ala binafsihi, berdiri sendiri dan independen.”

Upin yang lingak-linguk mencari gadis tadi berpendapat, “Ketika mentok dengan pembahasan-pembahasan akal, kita mesti kembali ke Rasulullah. Bukankah Islam adalah ketertundukan?”

Jaya menghibur teman-teman sesama pencari berkata, “Hikmah dari ini semua adalah kita bisa dan harus mencari, akal tetap nadhor supaya mengenal Tuhan sejeli-jelinya, sedetail-detailnya sehingga tidak ada pada kehidupan apapun kecuali Tuhan. Openk menambahkan, “Ketika kita berproses menuju Tuhan, kita butuh maarif semacam pelurus supaya tidak keliru, karena itu teruslah mencari ilmu lewat guru-guru yang benar-benar sudah sampai.”

Budi berujar, “Ujian dari pencarian dalil, adanya Tuhan ini sendiri ada di saat sakratul maut dimana kita akan digoda setan dengan godaan yang luar biasa. Tak ada teman, yang ada hanya akal dan hati kita yang kita isi dengan pemahaman-pemahaman. Maka disitu kita bisa melewatinya dengan selamat atau tidak, khusnul khotimah atau menderita selama-lamanya.”

Waktu menggesa dan menyeri berlalu. Perpisahan itu pasti. Acara ditutup dengan doa supaya kita semakin percaya kepada Gusti Allah dan mendapatkan ilmu yang manfaat kemudian membaca fatihah untuk guru, kiai, ulama yang telah menunjukkan jalan yang terang. Saking asyiknya diskusi kami, maka tak ada tema di bulan April yang diusulkan. Kalau saya sih usul Bab Nikah. Halah! []

*Rekaman tertulis Diskusi Rutin Komunitas Santrijagad. Digelar tiap Kamis malam Jum'at awal bulan. Siapa saja boleh hadir termasuk jomblo dan setan. Tidak ada benar-salah, apalagi solusi atau pergerakan, sekedar kontemplasi bersama.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang