Sekolah Rakyat ala Pesantren Salaf (Sebuah Konsep Praktis)

20 March 2015

Oleh: Zia Ul Haq

Sejarah pendidikan Indonesia tak lepas dari spiritualisme. Sejak zaman Hindu-Buddha hingga Islam, bentuk pendidikan di Nusantara cenderung kepada model pemupukan karekter dalam wadah padepokan dan diteruskan oleh pesantren. Namun di bawah mendung penjajahan, wadah pendidikan semacam itu diisolasi dari kekuasaan karena dianggap sebagai ancaman bagi kedaulatan kolonial. Sehingga ia terus menerus ditekan agar makin kerdil dan terabaikan.

Pada mulanya, pendidikan Nusantara berorientasi pada pembinaan moral serta pelatihan profesi praktis bernuansa maritim dan agraris. Tetapi kemudian terjadilah perubahan arah menuju industrialisasi dalam segala aspek kehidupan yang berkiblat pada peradaban Eropa, tak terkecuali dalam ranah pendidikan. Maka mulailah terbentuk institusi-institusi pendidikan yang berfungsi sebagai pabrik tenaga kerja kolonial. Pendidikan bagi pribumi hanyalah alat untuk melanggengkan imperialisme Eropa di Nusantara.

Pada akhirnya, meskipun imperialisme klasik runtuh sebab atmosfer global yang begitu liar, pengaruh penjajahan tetap membekas hingga saat ini. Bentuk pendidikan peninggalan kompeni sudah dilembagakan menjadi alat pelestarian penjajahan modern.

Dalam bentuk warisan penjajah ini, institusi pendidikan tidak lagi mencirikan karakter Nusantara. Ia hanya tempat pengisian individu dengan wawasan sekaligus alat pacu dalam persaingan ekonomi global. Pendidikan karakter yang digaungkan sejak dahulu hingga kini hanya formalitas tanpa bekas. Proses pengendapan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan yang dahulu berlangsung secara alamiah melalui interaksi antara guru dan murid kini tak ada lagi. Proses ini diformalkan sedemikian rupa sehingga menjadi mata pelajaran – mata pelajaran kognitif belaka.

Interaksi efektif multidisiplin antara peserta didik dengan realita lingkungan pun diputus oleh sistem persekolahan eksklusif yang membutakan. Bahkan parahnya, hak pendidikan yang dibawa lahir oleh semua anak bangsa dirampas oleh komersialisasi busuk pendidikan modern.

Pendidikan formal modern hanya menjadi wahana pembodohan dan penindasan terselubung yang dimaklumi secara kolektif. Sementara itu, pendidikan integratif ala padepokan-pesantren menjadi makin termarjinalkan. Ia tersingkir baik oleh kejamnya himpitan dari luar maupun merebaknya keminderan dari dalam.

Otokritik

Keunggulan sistem pendidikan pesantren begitu banyak, jauh di atas sistem pendidikan modern. Mulai dari konsep keteladanan kiai-santri, full-day education, dialogis pedagogik, hingga respon lingkungan sosial.

Sayangnya, lembaga pendidikan tua bernama pesantren salaf ini mengalami krisis identitas akibat dua faktor: tekanan luar dan kekeroposan dalam. Tekanan dari luar tidak bisa dihindari seiring berkembangnya realita zaman global. Berarti kondisi dalamlah yang semestinya diperbaiki agar tak keropos. Karena kerapuhan jati diri menyeret warga pesantren ke dalam jurang keminderan yang berbahaya.

Nah, bentuk respon pesantren terhadap laku zaman terbagi dua. Pesantren yang masih bertahan dengan idealismenya dan menolak modernitas system justru menjadi terasing di tengah atmosfer kehidupan modern. Sedangkan pesantren yang mencoba menyesuaikan diri dengan pola pendidikan materialistis menjadi kikis jatidirinya.

Keadaan seperti ini menjadikan pesantren tak lagi menjadi prioritas utama pendidikan masyarakat. Pendidikan materialistis yang dipromosikan secara massif mengajak masyarakat meninggalkan pendidikan kerakyatan ala pesantren. Sehingga pesantren dicitrakan hanya sebagai sekolah penghasil tukang khotbah. Ini adalah suatu penyempitan fungsi sosial yang sangat parah bila mengingat betapa agungnya proses pendidikan ala pesantren.

Banyak pesantren yang latah mengadopsi pendidikan formal ke dalam lingkungan pesantrennya atas dasar tuntutan masyarakat. Didirikanlah sekolah umum di dalam pesantren, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Fenomena ini jika tidak dikawal dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan dampak berbahaya; alumni yang ‘ala kadarnya’ (yang penting berijazah sekolah formal) dan kehilangan karakter pendidikan khas pesantren. Kalaupun bagus, pasti mahal.

Hemat penulis, pesantren salaf tak perlu ikut-ikutan latah mendirikan sekolah formal di dalam lingkungannya. Tak usah terkungkung kurikulum pemerintah dengan mengikuti sistem pendidikan amburadul yang setiap tahun diuji coba itu. Toh pesantren sudah memiliki sistem pendidikan yang top dan lestari.

Jika pesantren salaf ingin menyesuaikan diri dengan roda zaman, maka jangan sampai terjebak pola pikir materialistis ala sekolah sekuler yang menjadikan sekolah sekedar mengejar ijazah. Pesantren harus tetap memfokuskan pendidikan pada penguasaan ilmu dan pemantapan karakter. Sistem tetap dipertahankan, tinggal dimasukkan materi-materi pelajaran umum yang perlu diajarkan.

Pelajaran moral dan agama sudah menjadi makanan pokok yang tidak hanya dipelajari, tetapi juga diamalkan dalam keseharian santri. Tinggal diimbuhi materi-materi pelajaran ‘umum’ yang dipakai dalam pergaulan oleh dunia global.

Pesantren tetap mempertahankan sistem boarding/full day education dengan asrama pondok dan keteladanan kiai sebagai ciri khasnya. Pesantren bisa mendirikan sekolah formal dengan gedung dan kurikulum ala pemerintah, namun tetap disesuaikan dengan kultur pesantren. Bisa pula tidak usah mendirikan sekolah di dalam pesantren, cukup menggelar pendidikan kesetaraan.

Konsepnya adalah Sekolah Rakyat ala Pesantren Salaf. Apa dan bagaimana prakteknya? Berikut ini penulis cantumkan konsep praktisnya:
A. PENGERTIAN

Sekolah Rakyat ala Pesantren Salaf adalah bentuk sekolah yang diselenggarakan bagi rakyat dengan berbasis pada pendidikan ala pesantren. Diperuntukkan bagi pesantren salaf yang ingin menggelar pendidikan ilmu-ilmu ‘umum’ tingkat menengah secara efektif dan integratif dengan kultur pesantren. Baik berupa sekolah formal (SMP-SMA) maupun paket kesetaraan.

Model pendidikan ini dirancang sebagai upaya untuk memadukan kajian syariat di pesantren dengan pemahaman wawasan keilmuan umum, dengan gaya pembelajaran yang efektif dan efisien, serta tidak membebani siswa dengan berbagai macam tanggungan belajar. Juga menciptakan atmosfer yang nyaman bagi siswa untuk memahami dirinya sendiri dengan cara menggali ide, maupun mengenal lingkungan ia hidup.

B. BASIS PEMIKIRAN

Pendidikan Spiritual

“Seorang guru adalah berurusan langsung dengan hati dan jiwa manusia, dan wujud yang paling mulia dimuka bumi ini adalah jenis manusia. Bagian paling mulia dari bagian-bagian tubuh manusia adalah hatinya, sedangkan guru bekerja menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, dan membawakan hati itu mendekatkan kepada Allah.”
[Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin]
Pendidikan Pawiyatan
“Faedah dari cara pondok/pawiyatan/pencantrikan, guru dan murid tiap hari hidup bersama, siang malam bersama makan, bermain, belajar, bergaul. Sudah teranglah di sini anak akan terdidik dengan sempurna, tidak menurut buku-buku pedagogik, tetapi menurut pedagogik yang hidup, yaitu cara hidup yang nyata dan baik. Dengan sistem demikian maka anak-anak kita tidak akan berpisah dunia dengan orang tuanya, lahirnya tidak, batinnya pun juga tidak. Anak-anak seharinya terus merasa anak rakyat, terus insaf akan kemanusiaan, karena senantiasa hidup dalam kemanusiaan.”
[Ki Hadjar Dewantara, Majalah Wasita]
Pendidikan Pedagogik
“Pendidikan berfungsi sebagai alat untuk memfasilitasi generasi muda dalam memahami keadaan sekitar di masanya, sehingga menjadi praktek pembebasan. Lelaki dan wanita mampu berpikir kritis dan kreatif terhadap kenyataan, serta menggali upaya untuk terjun dalam transformasi dunia.”
[Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed]
C. KEUNGGULAN PENDIDIKAN BERBASIS PESANTREN

Keteladanan

Hubungan antara murid dan guru adalah hal vital di pesantren. Posisi guru bukan sebagai ‘dewa’ penentu hidup mati santri. Melainkan sebagai teladan dalam unsur pendidikan karakter. Maka, memang, semestinya sosok kiai memahami betul tugasnya.

Full Day Education

Pendidikan karakter tak bisa dicapai dengan satu sampai dua jam mata pelajaran saja, ia butuh kesinambungan dan pembiasaan dalam keseharian, sejak bangun tidur hingga pejam lagi di pembaringan. Pesantren sudah menyediakan itu semua.

Dialektis Pedagogik

Konsep pendidikan dialektis pedagogik sudah mengakar dalam budaya pesantren berupa model pengajian sorogan maupun diskusi ilmiah (bahtsul masa-il). Dalam proses ini, santri mengalami berbagai macam aspek pendidikan pedagogik; penggalian sumber pengetahuan secara mandiri, presentasi hasil kajian, diskusi maupun perdebatan ilmiah, serta kontrol korektif dari pembimbing.

Respon Lingkungan

Hal yang tak kalah penting adalah respon pesantren terhadap realita lingkungan. Ini sudah menjadi jiwa pesantren sebagai basis spiritualitas masyarakat. Pembauran kehidupan masyarakat dengan pesantren adalah hal yang niscaya sejak dahulu. Sejak zaman pra kemerdekaan hingga masa pembangunan.

D. KONSEP BELAJAR

Pendampingan

Dalam satu kelas, jumlah siswa dibatasi hanya 15 orang. Setiap kelas belajar bersama seorang guru yang berperan sebagai pendamping. Selain bertugas mengajar mata pelajaran yang berkaitan, guru juga menjadi pemantau pencapaian pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Dengan demikian, pengawasan dan proses belajar akan lebih efektif.

Fungsi guru adalah sebagai pendamping atau fasilitator bagi siswa untuk menggali sumber-sumber ilmu yang tersedia. Baik dari lingkungan sekitar maupun jaringan internet yang disediakan.

Efisiensi Energi

Lokasi belajar bisa dimanapun, asalkan memungkinkan untuk belajar secara berkelompok dan fasilitas primer tersedia. Guru bersama siswa bisa belajar di manapun sesuai kesepakatan kelas, memanfaatkan lingkungan pesantren maupun desa.

Waktu belajar pukul 08.00 – 12.00 saja. Sabtu – Kamis, libur Jum’at. Dalam satu hari hanya diisi dua mata pelajaran agar penyampaian materi oleh guru dan pendalaman materi oleh siswa bisa optimal. 08.00 – 09.50 untuk mata pelajaran pertama, sedangkan pukul 10.10 – 12.00 untuk mata pelajaran kedua. Tentu dengan diselingi waktu rehat dua puluh menit.

Pembatasan jumlah mata pelajaran setiap hari ini bertujuan agar siswa bisa lebih fokus dalam belajar, tidak terlalu banyak beban dan pikiran. Durasi jam belajar selama 110 menit menjadi upaya untuk mengoptimalkan proses belajar. Yakni untuk mendalami teori dan praktek, serta penggalian sumber belajar lain yang tersedia.

Berbasis Pesantren

Peserta didik terutama adalah santri-santri di pesantren. Proses belajar di Sekolah Rakyat menjadi pelengkap dan penyokong bagi tujuan pendidikan di pesantren. Maka efisiensi waktu dan energi sangat ditekankan agar tidak menjadi beban bagi santri-santri. Justru menjadi sarana kegembiraan dan keceriaan santri-santri sambil belajar ilmu-ilmu umum yang akan bermanfaat di kemudian hari. Materi pelajaran disesuaikan dengan kurikulum pengajian di pesantren. Pelajaran agama diintegrasikan dengan jadwal pengajian di pesantren.

Berwawasan Lingkungan

Sekolah Rakyat dan pesantren semestinya tidak menjadi tembok penghalang antara peserta didik di dalam dengan realita lingkungan sekitar di luar. Justru siswa diperkenalkan dengan lingkungan di mana dia hidup.

Materi tentang lokalitas dimasukkan dalam mata pelajaran di kelas. Bahan yang digunakan bisa mengacu pada referensi pemkab maupun lainnya. Materi ini berbicara tentang berbagai kekayaan khas daerah (desa, kecamatan, kabupaten), baik budaya maupun potensi geografis. Pembelajaran ini tidak terbatas pada penelaahan teoretis, tetapi bisa terjun langsung ke tempat-tempat dan objek yang bersangkutan.

Dialogis Pedagogik

Proses belajar berdasarkan pada kesadaran bahwa anak didik adalah makhluk berakal yang mampu berpikir. Siswa dituntun untuk berpikir dan berbicara mengungkapkan pendapat, tentu dengan tetap diawasi dan dikoreksi oleh guru.

Dengan kapasitas kelas kecil, suasana diskusi kelas bisa lebih tumbuh. Mata pelajaran humaniora bisa dilakukan secara presentatif. Setiap siswa secara bergiliran mempresentasikan materi pelajaran yang akan dibahas bersama. Mata pelajaran eksak dan bahasa bisa dioptimalkan teori dan prakteknya dengan lebih nyaman.

Kelas kecil dan durasi yang cukup sangat memungkinkan bagi guru untuk melakukan evaluasi terhadap pencapaian pemahaman siswa.

Apresiasi Bakat dan Karya

Satu kali dalam sepekan, di setiap kelas diadakan Gelar Ide sebagai salah satu ‘mata pelajaran ciri khusus’. Masing-masing siswa dalam satu kelas mengungkapkan idenya dalam hal apapun, tentang segala hal yang dilihat dan dipikirkannya. Tentang mimpi-mimpinya terhadap dunia, atau cita-citanya di masa depan. Tentang pengalamannya atau masalah-masalah yang ia lihat di sekitar.

Lalu dilengkapi dengan upaya apa yang bisa dilakukan untuk mewujudkan atau menyelesaikan hal-hal itu. Tentu ide tersebut dilontarkan di dalam kelas untuk didiskusikan bersama. Kemudian masing-masing siswa menuangkan ide tersebut secara naratif di atas kertas, atau diketik di komputer. Di akhir periode belajar, kumpulan ide tersebut dibukukan sebagai ‘hasil belajar’ siswa dalam ‘mata pelajaran’ Gelar Ide tersebut.

Upaya ini, meski sederhana, sangat bisa membantu pematangan daya pikir siswa sebagai makhluk berpikir. Juga sebagai penyeimbang bagi gaya belajar hapalan yang diterapkan di pesantren. Dari upaya ini pula, guru bisa melihat kecenderungan dan bakat siswa, serta mengupayakan langkah yang bisa dilakukan untuk mengarahkan bakat tersebut.

Sebulan atau dua bulan sekali, misal mengambil hari Jum’at, diadakan Gelar Karya. Yakni satu momen bagi siswa-siswi untuk menampilkan karyanya dan saling mengapresiasi, sambil tentunya refreshing. Penampilan drama, pembacaan puisi dan cerpen, atau pemajangan karya lukis dan kaligrafi, kriya dan kerajinan tangan, tilawah dan qiroat, maupun lomba-lomba, bisa menjadi agenda dalam Gelar Karya.

E. PENERAPAN

Sekolah Menengah Pertama (SMP)


Fasilitas pendukung: Ruang kelas (tidak mengikat), alat tulis (harus ada), perangkat komputer & koneksi internet (harus ada), laboratorium bahasa (kondisional).

Pembagian kelas: 15 siswa perkelas

Jadwal belajar:
  • Satu kali pertemuan 110 - 120 menit
  • Sabtu – Kamis
  • Dua sampai tiga mata pelajaran (2 atau 3 pertemuan) dalam satu hari
  • Mata pelajaran disesuaikan dengan kurikulum pemerintah:
  1. Pendidikan Agama difokuskan pada Sejarah Kebudayaan Islam
  2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan diintegrasikan dengan wawasan sejarah Nusantara dan kebangsaan
  3. Mata pelajaran Bahasa dioptimalkan kepada praktek membaca, menulis dan berbicara.
  4. Mata pelajaran eksak mengoptimalkan materi-materi aplikatif keseharian.
  5. Mata pelajaran sosial menggunakan pola diskusi dan tanggap.
  6. Mata pelajaran olah raga dan prakarya diintegrasikan dengan ekskul dan program gelar karya.
  • Kurikulum ciri khusus:
  1. Pengajian ilmu syariat dan Bahasa Arab (sesuai jadwal pesantren)
  2. Mengenal Daerah (penggalian referensi dan kunjungan periodik)
  3. Gelar Ide (sepekan sekali bersama kelompok sekelas)
  4. Gelar Karya (sebulan atau dua bulan sekali bersama seluruh kelas)
  5. Ekstrakurikuler sesuai minat dan kebutuhan, misal: Pencak Silat, Komputer dan Desain Grafis, Kaligrafi & Lukis, Seni Rajut, Sastra dan Literasi.
  • Berikut ini contoh kegiatan dan pembagian jam dalam satu kelas di SMP dengan konsep Sekolah Rakyat ala Pesantren Salaf:
  1. Ahad   : Matematika, Bahasa Indonesia
  2. Senin   : PPKn, IPA.
  3. Selasa : IPS, Sejarah Islam.
  4. Rabu   : Bahasa Inggris, Mengenal Daerah.
  5. Kamis  : Gelar Ide, Olahraga.
  6. Jum’at : Libur (dimanfaatkan dengan kegiatan rekreasional)
  7. Sabtu  : Seni Budaya. Ekstrakurikuler.
  • Berikut ini contoh kegiatan dan pembagian jam dalam satu kelas di SMA (IPA & IPS) dengan konsep Sekolah Rakyat ala Pesantren Salaf:
  1. Ahad    : Matematika, Bahasa Indonesia
  2. Senin    : PPKn, Fisika / Ekonomi.
  3. Selasa    : Biologi / Sosiologi, Sejarah Islam.
  4. Rabu    : Bahasa Inggris, Mengenal Daerah.
  5. Kamis    : Kimia / Sejarah, Gelar Ide, Olahraga. (Durasi: 110’, 55’, 55’)
  6. Jum’at    : Libur (dimanfaatkan dengan kegiatan rekreasional)
  7. Sabtu    : Geografi, Seni Budaya, Ekstrakurikuler. (Durasi: 110’, 55’, 55’)
Berikut ini contoh penyesuaian bidang studi untuk SMP
Berikut ini contoh penyesuaian bidang studi untuk SMA
Paket Kesetaraan (B dan C)

Penyelenggaraan pendidikan Sekolah Rakyat ala Pesantren Salaf dengan paket kesetaraan relatif lebih sederhana dibandingkan dengan SMP atau SMA yang harus mengikuti kurikulum diknas. Dengan sistem kesetaraan, lembaga memiliki otonomi dalam pengaturan kurikulum secara mandiri.

Fasilitas pendukung: Ruang kelas (tidak mengikat), alat tulis (harus ada), perangkat komputer & koneksi internet (harus ada).

Pembagian kelas: 15 siswa perkelas

Paket Kesetaraan 5 tahun plus:
  • Paket B: setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) selama 2 tahun.
  • Paket C: setara Sekolah Menengah Atas (SMA) selama 2 tahun.
  • Pemantapan wawasan dan Pengarahan Keberlanjutan: 1 tahun.
Karakter Kurikulum Makki-Madani:
  • 2 tahun pertama diisi dengan materi berpola ‘makki’, yakni pemantapan pola pikir, logika sehat, dan penegasan karakter lokal Nusantara.
  • 2 tahun berikutnya digunakan pola ‘madani’ dengan lebih banyak mendiskusikan tema-tema pelajaran, memancing daya kritis dan respon terhadap realita dalam berbagai mata pelajaran.
  • Tahun terakhir untuk diisi dengan pemantapan wawasan serta penempaan minat dan rancangan keberlanjutan pendidikan.
Pembagian jenjang sebagai berikut:
  • Tahun I : Matematika, Bahasa Indonesia, Sejarah Nusantara, Seni Rupa, Sains
  • Tahun II : Matematika, Bahasa Inggris, Sejarah Internasional, Seni Musik, Sains
  • Ujian Paket B
  • Tahun III : Matematika, Bahasa Indonesia, Sejarah Nusantara, Seni Musik, Sains
  • Tahun IV : Matematika, Bahasa Inggris, Sejarah Internasional, Seni Sastra, Sains (Sesuai Pilihan Minat)
  • Ujian Paket C
  • Tahun V : Sejarah Islam, Bahasa Jawa, Seni Sastra, Studi Kasus Lokal & Global, Pengarahan Minat
Jadwal belajar:
  • Satu kali pertemuan 110 menit.
  • Sabtu – Kamis
  • Dua mata pelajaran (satu pertemuan) dalam satu hari.
  • Mata pelajaran terdiri atas lima kelompok pokok:
  1. Logika     : Matematika
  2. Bahasa    : Indonesia, Inggris, Jawa
  3. Sejarah   : Nusantara, Internasional, Islam
  4. Sains       : Geografi, Sosiologi, Ekonomi, Biologi, Fisika, Kimia
  5. Seni         : Rupa, Musik, Sastra
  • Asupan Integratif Pesantren:
  1. Pengajian ilmu syariat dan Bahasa Arab (sesuai jadwal pesantren)
  2. Mengenal Daerah (penggalian referensi dan kunjungan periodik)
  3. Gelar Ide (sepekan sekali bersama kelompok sekelas)
  4. Gelar Karya (sebulan atau dua bulan sekali bersama seluruh kelas)
  5. Ekstrakurikuler sesuai minat dan kebutuhan, misal: Pencak Silat, Komputer dan Desain Grafis, Kaligrafi & Lukis, Seni Rajut, Sastra dan Literasi.
  • Berikut ini contoh kegiatan dan pembagian jam dalam satu kelas kesetaraan di Sekolah Rakyat ala Pesantren Salaf:
  1. Ahad   : Matematika, Bahasa (Indonesia/Inggris/Jawa)
  2. Senin   : Sejarah (Nusantara/Internasional/Islam), Sains.
  3. Selasa : Bahasa, Sains (Biologi/Geografi/Sosiologi/Ekonomi/Fisika/Kimia).
  4. Rabu   : Matematika, Seni (Rupa/Musik/Sastra).
  5. Kamis  : Sejarah, Gelar Ide / Studi Kasus Global & Lokal.
  6. Jum’at : Libur (dimanfaatkan dengan kegiatan rekreasional)
  7. Sabtu  : Olahraga, Mengenal Daerah, Ekstrakurikuler.
Berikut ini contoh penyesuaian bidang studi untuk Paket Kesetaraan
Pada akhirnya, tugas utama Sekolah Rakyat di lingkungan Pesantren Salaf dalam bentuk kesetaraan adalah;
  • Menyelenggarakan pendidikan pedagogik yang murah dan bermutu
  • Membangun kepercayaan diri siswa bersama minat dan bakatnya
  • Menyediakan informasi & upaya pendidikan lanjutan yang bisa diakses siswa sesuai minat dan bakatnya.
Pelaksanaan model pendidikan ini menyesuaikan kondisi pesantren. Pemanfaatan interaksi kreatif antara pesantren, murid, pembimbing, dan lingkungan lebih diutamakan daripada tetek bengek infrastruktur pendukung yang sering direpotkan sekolah-sekolah pemerintah. Sehingga proses pendidikan akan lebih efektif dan efisien dari segi waktu, tenaga maupun dana karena telah memangkas berbagai faktor sekunder serta tersier.

~
Jogja, Jum’at 20 Maret 2015
untuk infografis slide tentang konsep ini, bisa kirim surel ke alfaqirziaulhaq@yahoo.com
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang