Mencari Sains dari Islam, Mencari Islam dari Sains

7 April 2015

Diskusi Santai Santrijagad #4
Jumat, 3 April 2015 di Taman Rakyat Slawi


“Siapa membaca, terbaca. Siapa menggali, tergali.” Jaya selaku moderator membuka diskusi ini dengan membaca basmalah, kata suci pembuka tabir-tabir gaib segala urusan manusia. Hujan gerimis tidak menyurutkan teman-teman yang hadir. Audiens yang hadir selalu menjadi kejutan bagi kami Santrijagad. Kali ini ada yang dari Pemalang, Jakarta, Semarang, dan Jogja sengaja mampir duduk bareng di Santrijagad. Kali ini kami pun sangat bergembira dengan kedatangan Imam Besar Jomblowan, Ustadz Sya’roni As Samfuriy untuk mampir mewakili komunitas SARKUB (Sarjana Kuburan), sebuah komunitas dakwah islam damai ala Nahdlatul Ulama.

Beliau menjelaskan tentang asal mula Sarkub, sejarah pendiriannya, anggota-anggotanya yang tersebar dan kekompakannya yang berasaskan nilai kekeluargaan, NU banget, hingga kegiatan dakwahnya yang sudah sampai Papua. Kang Sya’roni berharap di akhir paparannya Santrijagad dan Sarkub merapat dan saling mengenal.

“Sarkub adalah saudara jiwa kami. Apa yang Sarkub butuhkan kami siap membantu semampunya,” Budi merespon penjelasan tentang Sarkub mewakili Santri Foundation. Budi kemudian menceritakan tentang Santri Foundation yang melahirkan Santrijagad. Mulanya, Santri Foundation bergerak di beasiswa tidak mampu dan anak yatim, lewat Santrijagadlah -yang dipelopori oleh Kang Zia- kami mulai pergerakan di literasi dan diskusi. “Kami butuh kontributor dari Sarkub barangkali ada yang minat menulis di Santrijagad,” pinta Budi.

Santrijagad sendiri namanya terinspirasi dari komunitas musik punk yang punya idealisme: alam raya adalah sekolah kami. Teknisnya adalah belajar apapun dari fenomena-fenomena yang ada di sekitar kita. Kami sendiri bukan santri, juga bukan siapa-siapa, mondok juga tidak. Hanya kagum pada dunia santri dan pesantren, salah satu kearifan lokal sejati bangsa Indonesia sehingga kami berusaha dekat-dekat ulama semampu kami.

Sebab, hasil galian kami, hanya sistem pendidikan pesantrenlah yang mampu membuat jaya bangsa Indonesia tanpa perlu studi banding dan repot-repot impor pendidikan dari luar negeri. Sebab teknik pendidikan pesantren merangkum agama-agama Nusantara. Budha-Hindu-Islam mewarnai peradaban ini. Kristen juga menerapkan ini lewat asrama para pastor sejak jaman Belanda. NU-Muhammadiyyah berkembang lewat teknik ini. Mengapa pemerintah Indonesia menafikan sejarah?

Sejarah pesantren islam dimulai di Indonesia. Gus Dur pernah dawuh dalam buku Membaca Sejarah Nusantara, "Nama pesantren sendiri merupakan adopsi dari 'Peshanti', padepokan pada jaman Hindu-Budha dulu untuk mencari ilmu dan mempelajari spiritualitas." Sejarahnya dimulai dari ketika Dewi Anarawati meminta kepada Prabhu Brawijaya agar saudara-saudaranya yang muslim, yang banyak tinggal dipesisir utara Jawa, dibangunkan sebuah Ashrama, sebuah Peshantian, sebuah Padepokan, seperti halnya Padepokan para Pandhita Shiva dan para Wiku Buddha.

Mendengar permintaan istri tercintanya ini, Prabhu Brawijaya tak bisa menolak. Namun yang menjadi masalah, siapakah yang akan mengisi jabatan sebagai seorang Guru layaknya padepokan Shiva atau Mahawiku layaknya padepokan Buddha? Pucuk dicinta ulam tiba, Dewi Anarawati segera mengusulkan, agar diperkenankan memanggil kakak iparnya, Syeh Ibrahim As-Samarqand yang kini ada di Champa untuk tinggal sebagai Guru di Ashrama Islam yang hendak dibangun. Dan lagi-lagi, Prabhu Brawijaya menyetujuinya. Semenjak itulah banyak pesantren lahir di Indonesia.

Diskusi Santai Santrijagad #4: Sains Islam
Diskusi

Setelah berembuk dengan Sarkub usai, diskusi pun dimulai dengan tema kebangkitan sains Islam yang sejatinya ingin menemukan kebangkitan sains di dalam Islam, di umat Islam. Judul dari kebangkitan sains Islam dirubah secara mendadak menjadi "Mencari Islam dari Sains dan Mencari Sains dari Islam".

Budi membacakan pengantar dari literatur Dida:

Michio Kaku dalam buku The Future Of Wealth menjelaskan bagaimana pada era 1400-1500 M peradaban Cina di timur dan Turki Ottoman di selatan sedang berjaya, sedangkan Eropa dalam keadaaan menyedihkan disiksa oleh fundamendalisme agama, pengadilan untuk para tukang sihir dan institusinya. Eropa barat, ketika itu dalam kemunduran drastis selama seribu tahun sejak keruntuhan kerajaan Roma, sangat terbelakang sehingga mereka merupakan kelompok importir teknologi

Ketika peradaban Cina sedang sangat maju dengan penemuan: kertas, peralatan cetak , bubuk mesiu, kompas, ilmuwan mereka adalah yang terbaik di planet bumi. Pemerintahnya bersatu dan kehidupanya damai. Di selatan, ada Kerajaan Ottoman yang menginvasi nyaris seluruh Eropa. Peradaban besar muslim menemukan aljabar, menguasai lmu optik dan aljabar tingkat lanjut, dan menamai bintang-bintang. Seni dan sains tumbuh dengan subur. Pasukan militer mereka tidak ada tandingannya. Istambul adalah satu dari pusat pembelajaran sains yang paling maju.

Lalu mengapa kemudian Cina mundur? Konon sebab penguasa Cina generasi berikutnya menelantarkan armada kapal penjelajah sampai rusak dan akhirnya dibakar. Cina secara berangsur-angsur terisolasi dari dunia luar, mandeg ketika dunia sedang maju berkembang. Dan bagaimana kemunduran Ottoman? Adalah sebab kembali seperti Eropa pada jaman kegelapan. Orang-orang Ottoman beralih menuju ke dalam diri, ke dalam fundamentalisme agama dan ratusan tahun stagnasi.

Dan majulah eropa karena dua peradaban besar itu mundur. Perdagangan mulai segar, ide-ide revolisioner, percetakan milik Gutenberg sebagai motor pemercepat. Pengaruh gereja mulai melemah setelah satu millennium mendominasi. Univesitas perlahan berbelok dari interpretasi yang tidak jelas Bible menjadi pusat perkembangan aplikasi fisika Newton dan kimia Dalton. Sejarawan Paul Kennedy dari Yale berkata bahwa Eropa bangkit karena mengembangkan sains dan engineering untuk melancarkan ambisi mereka. Sains ketika itu tidak hanya urusan akademis tapi juga menciptakan senjata baru dan cara baru memperoleh kejayaan. Sampai Cina tersentak Eropa menggunakan penemuan bubuk dan mesiu, penemuan Cina sendiri.

Mahatir Mohamad, mantan perdana menteri Malaysia pernah mengatakan,

"The great Islamic civilization went into decline when muslim scolars interpreted knowledge acquisition, as enjoined by the Qur’an, to mean only knowledge of religion , and that other knowledge was un Islamic, As a result, Muslims gave up the study of science, mathematics, medicine, and other so-called worldly disciplines. Instead, they spent much time debating on Islamic teachings and interpretations, on Islamic jurisprudence and Islamic practices, which led to a breakup of the Ummah and the founding of numerous sects, cults, and schools."
Selama kita tidak damai antara Islam dan sains, orang Islam tidak aktif pada penelitian dan penemuan dan hanya mandeg pada Islam tekstual, pada perdebatan khilafiyah, bid’ah, ilusi negara islam dan sebagainya. Islam tidak akan maju.

Jaya kemudian membuka rangsangan diskusi dengan meminta para audiens menggaris apa itu sains, apa itu sains Islam, apa sama dengan orang Islam pelaku sains? Jaya kemudian menceritakan bacaan barunya tentang sejarah uang oleh Antropolog Jack Weatherford. Ketika di dunia Islam matematika berkembang dan menyederhanakan angka di jaman Al Hajjaj bin Yusuf Al Mattar, Al Khawarizmi (Algoritma) di jaman 800-900 M maka yang paling diuntungkan adalah para bankir di Eropa. Karena rumitnya angka-angka romawi untuk menulis uang pada saat itu.

Jaya juga bercerita banyak orang-orang Indonesia yang canggih tapi enggan menulis atau mempublikasikan bukunya karena nanti yang memanfaatkan bukan bangsa ini tapi bangsa lain. Seperti Pak Chandra yang dikenalnya, beliau penelitian dampak nama dan simbol pada seseorang atau benda sudah 30 tahun lebih tapi tidak mempublikasikannya karena nanti Eropa memanfaatkan kita. Misal kita melakukan penerjemahan naskah Parsi, Arab ke bahasa kita, apakah nanti juga tidak diangkut ke Eropa? Banyak peneliti kita juga enggan karena kurang diapresisasi pemerintah.

Jaya bercerita ada yang menarik mengenai kemunduran sains di China ketika armadanya ditarik oleh penguasa pada waktu itu. Dalam buku Membaca Sejarah Nusantara, Gus Dur menjelaskan mengapa waktu itu armada kapal China untuk ekspansi dan riset dimusnahkan. Sebab penguasa Konfusius waktu itu khawatir para pelaut yang Islam (termasuk Chengho) membawa harta, bisa membeli tanah dan akhirnya Islam berkembang di daratan.

Suasana diskusi santai Santrijagad #4
Sains VS Islam?

Pada kenyataannya yang paling diuntungkan dari perkembangan sains adalah para pengusaha dan kaum industrialis. Revolusi industri mengambil hasil penelitian dan mengeruknya. Kang Sya’roni menjelaskan untuk mengawali cakrawala berpikir diskusi ini kita harus mendamaikan sains dan Islam tanpa membeda-bedakannya. Di Islam, agama dan iptek (ukhrowiyyah) itu sama-sama  fardhu. Sama-sama kewajiban tanpa pembedaan. Hanya saja ilmu agama (Tauhid, Fiqih, Tasawwuf) itu fardhu sementara ilmu iptek tersebut adalah fardhu kifayah. Bengkel kalau di desa atau suatu kecamatan tidak ada, bisa susah semua. Akhirnya ilmu perbengkelan menjadi fardhu kifayah.

Kang Sya’roni berkisah di jaman Rasulullah ketika perang, ada hidung sahabat Rasul yang terkena senjata dan lepas. Rasulullah sendiri bisa menyambung tapi beliau melarang, karena dalam tafsir Kang Sya’roni pada saat itu yang berkembang adalah sastra, belum waktunya sains semisal kedokteran. Baru semenjak 5 Hijriyah berkembang. Kang Sya’roni kemudian menjelaskan mengenai paper Dr. Zakir Naik dari India yang menulis tentang “Al Qur’an dan Sains Modern, Kompatibel atau Tidak?” Di sana beliau menganalisa bagaimana dalil naqli Al-Qur’an menjelaskan ilmu saat ini seperti Astronomi, Fisika, Geografi, Geologi, Oseanografi, Biologi, Botani, Zoologi, Kedokteran, Psikologi, Embriologi hingga sains secara umum. Tinggal bagaimana umat Islam saat ini mengembangkan tafsir beliau, Dr. Zakir Naik yang paparannya jauh melampaui waktu.

Kang Sya’roni lanjut menjelaskan. Rasul sendiri berpesan: “Engkau lebih tahu urusan duniamu,” dan menjelaskan hadits perihal Rasul diturunkan untuk memperbaiki akhlak”. Sebab akhlak itu tidak bisa otodidak, harus ada Rasul sebagai mursyid, sebagai guru untuk peradaban yang berakhlak. Satu hal penting yang harus kita garis bawahi, spidol, dan stabilo. Apabila kita membaca manakib para penemu sains Islam, mereka adalah orang-orang tasawwuf.

Hal ini agak serupa dengan apa yang dikemukakan Syofwandi Ahmad dalam statemennya, “Hikmah dari perangSshiffin antara sahabat Muawiyah dan Sayyida Ali adalah kubu Muawiyah membesarkan Islam dengan material bangun bangunan besar, ekspansi berbagai daerah. Sedangkan Sayyidina Ali dan pengikutnya membesarkan Islam lewat jalur rohani sehingga muncul berbagi thoriqot. Keduanya sama-sama membesarkan Islam. Tetapi seiring perkembangan, karena tasawwuflah sains akan jaya. Ketika kita kembali ke tasawwuf maka kita akan bangkit lagi sains kita. Maka orang-orang yang melarang ilmu tasawwuf adalah orang-orang yang ingin Islam mundur."

Kang Sya’roni berkata, “Jaman sekarang, bukan waktunya kita menyalahkan orang barat.” Beliau mengembalikan penjelasannya bahwa ilmu dunia maupun ilmu akherat itu wajib. Jika ada yang tak pintar ilmu dunia, maka sekampung berdosa. Ini sudah masuk ke jaman spesialisasi. Di kampus sendiri baik UIN atau kampus PTN sudah dijurus-juruskan sesuai spesialisasinya. Semakin kesana kualitas ilmu pun mau tidak mau menurun seperti kata hadits sebagai konsekuensi akhir jaman. Pada akhirnya santri juga pelajar boleh belajar apapun yang penting jangan pernah meninggalkan ilmu agama (Tauhid, Fiqih, Tasawwuf) karena itu ilmu wajib.

Faiq Anan yang backgroundnya Biologi kemudian mempresentasikan bagaima Darwin berkembang tetapi sejarah sebelum Darwin sendiri seperti ditutup. Linnaeus sendiri memakai nama ilmiah untuk universalitas tahun 1400-an tetapi penemuan sebelum itu tidak ada sejarahnya. Faiq menceritakan perihal mengapa teori evolusi berkembang sedahsyat ini sampai agama-agama orang Eropa sekarang banyak yang beralih ke sains-naturalisme-logika. Sebab fondasi mereka adalah skeptisme.

Jaya menambahkan, skeptisme itu harus bertitik berat di empirisme, kuantitatif. Saat 1400 sampai sekarang titik reneissance disini. Ketika metode deduksi gereja ditolak sebagai doktrin. Mereka lebih suka skeptis dan bereksperimen. Dominasi kaum gereja dan feodalisme akhirnya runtuh. Ilmu sendiri adalah alat, maka di Eropa saat ini percuma jika sains/naturalisme menjadi agama. Karena tidak dimanfaatkan dan hanya sekedar menjadi kepercayaan.

Orang-orang absurd dalam diskusi santai Santrijagad #4
Jaya beralih ke bagaimana pemanfaatan sains Islam. Kang Sya’roni menganalisa perihal sejarah pencurian buku dan penemuan islam yang dicuri barat. Akhirnya implikasinya kita mengalami pengkotakan ilmu pengetahuan karena putus literatur. Implikasi pengkotakan ini akan berbahaya karena umum dan agama di Indonesia terutama sangat kontras sekali dan mengalami benturan. Meskipun di ilmu islam sendiri ilmu fiqih dan tasawwuf juga mengalami benturan. Benturan tetap ada. Beliau mengakui Iran paling top dalam riset ini.

“Memang kelemahan santri itu, menganggap semua kitab kuning itu agama. Padahal ada karya Imam Suyuthi Badaiudzuhur, ada Imam Ghazali dengan Kimiaatussaadah (kimia kebahagiaan) yang sains banget. Tetapi begini, pada akhirnya Imam Ghazalipun kembali ke jalan Tasawwuf, semurni-murninya setelah kejadian kisah 'ma’mum dengan Ahmad' dan setelah itu menyadari bahwa ada ilmu yang lebih luar biasa dari sains. Beliau mencari guru tasawwuf setelahnya. Lagipula, prioritas nabi adalah akherat, tidak hanya dunia," tutur Sya'roni.

Jaya mempertanyakan apakah Islam kemudian setelah era ini mundur akhirnya kembali ke dalam seperti Ottoman pada masa itu? Apa sains Islam mandeg? Dari jagad besar masuk ke buana alit?

Geko merespon, “Pada pertengahan kuliah, aku mikir pengkotak-kotakan ilmu agama-dunia, mencoba membuka literasi juga sejarah. Saya sepakat bahwa ilmu agama-dunia itu sama-sama untuk mencapai kemaslahatan. Cuma ada paradigma di mindset orang tua-tua kita, ilmu agama itu ya ngaji, sembahyang,dst. Perlu ada perubahan pelan-pelan paradigma di masyarakat. Juga kalau belajar ilmu sains nanti takut tergiring ke arah sekuler.”

Jaya melanjutkan, “Saya tergelitik apakah misal di Islam ada falak, di Jawa ada primbon, itu sains bukan? Imam Syafi’i dulu kan riset tentang haid empiris. Jangan-jangan sains sendiri adalah stempel kaum-kaum tertentu dimana parameternya sudah direbut. Mereka melupakan ranah-ranah yang secara angka susah kalau menurut mereka akhirnya ditolak. Empiris atau tidak empiris sesuai dengan subyektifitas mereka. Sains sendiri mungkin sederhananya seperti ilmu statistik, kalau segini maka begini. Kalau segitu maka begitu.”

Iqbal yang sedari tadi diam bicara satu hal penting, “Jangan kemudian benda, ilmu, atau apapun itu diagama-agamakan. Agama itu di manusia. Kita perlu merekonstruksi kembali sains ini apakah sosok Islam yang ahli sains atau bagaimana?” Jaya merespon: “Sains dimanipulasi barat, sains Islam bagaimana? Mungkin yang kita bahas akan kita juruskan ke kebangkitan Islam, umat Islam di dalam kemajuan sains. Sebab agama dan ilmu dunia jangan terpisah. Nanti kita heran kolang-kaling jadi emas, itu cuma mitos Sunan Kalijaga kalau hanya punya satu sudut pandang ilmu dunia saja.”

Faqih yang datang bersama rombongan Geng Sipri menimpali, “Maaf karena saya telat maka mungkin agak tidak relevan. Saya menemukan oase di sini dimana kita bisa saling belajar, di Semarang saya merasakan ini bersama geng Sipri tapi sekarang sudah pindah ke Jakarta. Kami ketinggalan, kami nangkepnya judul kurang tepat. Kita perlu membangun ulang sains itu sendiri bisa ditemukan lewat Islam? Atau nemu sains dulu baru islam?”

Faqih kemudian menjelaskan Materialisme-Dialektika ala Madilog Tan Malaka, seorang filsuf orisinil dari Indonesia. Sains dibahas secara mendetail di sana dari mulai atom dalton hingga peradaban masyarakat dunia dan bagaimana sains mengubah kondisi masyarakat. “Kita lihat di Eropa, Amerika sekarang terjadi atheisme agama dimana akhirnya atheis sendiri menjadi agama. Kita yang serba sains-minded tapi kekurangan spiritual akhirnya membuat sains menjadi agama baru yang menuhankan logika.”

Faqih melanjutkan, “Sebenarnya sains sendiri itu cuma jalan antara idealisme dan materialisme, bertuhan atau nanti tidak bertuhan. Materialisme melihat secara empiris sehingga kadang terjebak pada resiko meniadakan Tuhan. Sedangkan idealisme sendiri terkadang terjebak pada percaya Tuhan tapi tidak bisa membuktikan akhirnya menjadi doktrin. Kita coba mengkerucutkan ke pertanyaan awal, Tan Malaka bilang bahwa orang yang berlogika dia pasti akan paham agama termasuk Pan Islame. Islam adalah agama logika bukan doktrin.”

Kang Sya’roni menjelaskan tentang “Robbana ma kholaqta hada bathila”, bahwa sains itu penting sekali, tidak diciptakan dengan sia-sia. Jaya menyesalkan terkadang kita ditolak kaum sains saat ini karena tidak kuantitatif. Maka kebangkitan sains dalam Islam hendaknya berdiri independen dimana informasi agama dijadikan titik berangkat.  Kang Sya’roni melanjutkan, “Sains di Ottoman dulu maju karena dukungan pemerintahnya, Indonesia akan maju sainsnya kalau pemerintah mendukung riset-riset.”

Budi menjelaskan, “Sains barat sendiri boros biaya dan materi. Misal dalam geotermal harus melakukan survey, ini itu yang biayanya sangat besar. Begitu digali ternyata muncul Lapindo. Mereka melupakan khazanah lawas yang dianggap mitos. Imam Ghazali, mencari minyak hanya dengan menebarkan daun. Keborosan sains barat sendiri yang akhirnya menimbulkan global warming, isu-isu lingkungan yang akhirnya mereka berkoar-koar terhadap ini juga. Nggawe dhewe gemboran dhewe. Juga mereka kental hak paten sehingga paten-patenan (bunuh membunuh secara perdagangan). Sains Islam tidak, free copyright.”

Jaya mengiyakan dengan bercerita lebih mendukung Tesla dalam riset yang pada akhir hayatnya terobsesi angka 3. Para ahli sains sendiri tidak seperti sekarang hanya suka kuantitatif, mereka menyukai lagu, sastra. Medi merespon, “Sangat miris ketika melihat teknologi sekarang itu jauh dengan warisan leluhur kita. Kita selalu mengartikan teknologi itu dengan hal-hal materialis. Teknologi sendiri berarti memudahkan sesuatu, tapi kita sudah mempersempit. Munculnya istilah klenik, tahayul itu adalah penyempitan dari teknologi sendiri. Bagaimana kita tidak payah? Kita yang sedang menggali orang-orang dulu dengan pendidikan sekarang kita disuruh tidak mempercayai apa yang jelas-jelas wujud dan ada seperti santet dan semacamnya.”

Budi ber cerita, “Kalau kita mau banding-bandingan, ornitologi Jawa lebih detail. Perkutut saja diteliti watak, karakter, tabiat kebiasaan dengan sangat teliti di Betaljemur Adammakna.” Faiq Anan menambahi, “Sekarang perkembangan ornitologi barat sedang ke arah situ juga.”

Jaya mengambil contoh apa yang dikemukakan Sabrang, dulu ketika nabi sakit mengambil air dari 7 sumur. Nah air 7 sumur itu sendiri sangat membumi di tanah Jawa. “Saya penasaran, sebelum Islam, Hindu, Budha datang ke sini kita seperti apa? Animisme-dinamisme seperti yang dituduhkan barat atau sebetulnya monotheis/hanif sehingga mudah menerima islam?”

“Kita perlu ingat, Jawa dan Islam itu nyambung. Pada saat Suro, Muharrom itu bulan yang tak boleh perang. Kemudian diadopsi Jawa menjadi tiap suronan keris dan senjata tajam dicuci, dikumbahi,” Kata Geko. Jaya memberi informasi bahwasanya ada riset perihal dualisme cahaya, kemudian akhirnya tak ada yang bisa menjelaskan kecuali Al-Qur’an. Mereka mentok, dan akhirnya membuktikan Tuhan itu wajib adanya. “Perihal teknologi kuno, kita bisa membayangkan satu tulisan di Negara Kertagama. Dimana bupati berkumpul sama rajanya. Minum air segelas bersama untuk sebuah simbol persaudaraan. Bagaimana cara mereka datang? Dari Champa, Philipina? Bisa-bisa berbulan-bulan hanya di jalan. Mereka sepertinya memakai aji lempit bumi."

Faqih sendiri berkata, “Saya kagum dengan Harun Yahya, beliau berangkat dari ayat kemudian melakukan tafsir, sama seperti Dr. Zahir Naik di India tadi”. Faiq menjelaskan bahwasanya di dunia sainspun sekarang mandeg. Hanya penerusan-penerusan saja yang terjadi. Sains sekarang pun mentok di mengkritisi metodologi sebelumnya.

Kang Sya’roni meneruskan, “Kita harus membaca manaqib, sejarah mereka para penemu muslim. Satu hal yang pasti di kitab-kitab sains mereka. Semua diawali dari Al Qur’an baru menjabarkan tafsirnya secara teknis. Tapi tidak menutup kemungkinan teknis juga dijabarkan dengan Qur’an atau Hadits. Penjelasan Habib Ali Al Jufri sendiri perihal penemu sains, mereka adalah para pengamal tasawwuf. Orang-orang sufi yang zuhud dari duniawi. Karena itu benarlah hadits yang mengatakan bahwasanya tafakkur itu lebih baik dari 1000 ibadah sunnah.”

Medi sepakat dengan Iqbal bahwa agama itu ada pada manusia, bukan benda-benda. Sains sendiri adalah alat, bisa dipakai untuk agama siapapun. Paling penting umat islam disini berusaha menjadi subyek, pelaku dari sains itu sendiri. Jaya mengiyakan dan mengambil bahasa simpel untuk sains sekarang adalah IPA. Kami semua sepakat bahwa sains islam akan bangkit jika menggunakan metode deduktif, berangkat dari dalil naqli kemudian menjabarkannya. Seperti apa yang didawuhkan Mbah KH. Munawwir Krapyak seorang pakar Al-Qur’an di tanah Jawa:

“Semua ilmu termuat dalam Al Qur’an, hanya saja orang-orang tak mampu memahami seluruh kandungannya”

Kang Sya’roni yang menekankan kita jangan selalu menyalahkan barat, agama lain, karena di kalam Nabi sendiri ada Isroiliyyat, kabar dari orang israel sebagai informasi. Islam menyempurnakan, tidak menghapus memori, agama masa lalu. Ketika Habib Abu Bakar Az Zabidi teman Gus Dur ditanyai oleh orang Yahudi apakah di Islam ada ilmu hereditas. Kemudian habib menjelaskan satu hadits nabi yang menjelaskan tentang seorang anak yang hitam meskipun orang tuanya tak ada yang hitam. Ternyata ada pada salah satu mbah buyutnya. Yahudi itu langsung masuk Islam.

Diskusi santai Santrijagad #4
Maka kumpulan rekomendasi pada malam hari ini adalah:

1)      Kebangkitan sains Islam dimulai dari tasawwuf, jika tasawwuf dimusuhi sains Islam akan ambruk.
2)      Sains umat Islam akan bangkit jika menggunakan metode deduktif, berangkat dari dalil naqli Al Qur’an Hadits kemudian menjabarkannya

Para peserta kemudian memberikan feedback atas diskusi ini. Dimulai dari Firjaun yang menyindir diskusi ini absurd dan membahas isu tidak seksi. Pengalaman kuliahnya tak membahas ini. Tapi Firjaun sangat mengapresiasi! “Lihatlah di dunia ini formalitas itu kekosongan dan tak ada artinya, pendidikan tinggi pun kini kosong. Mungkin kita menjelajahi hal-hal formal untuk mengetahui bahwasanya informal, diskusi seperti ini lebih penting!” katanya lantang.

Medi menyambung, dia cerita ikut Kenduri Cinta di tahun 2010. “Betapa hal-hal yang dibahas itu lebih absurd, ada wayang, keris. Tapi ini seperti irisan. Ada pertemuan dengan dunia kuliah saya. Ada semacam irisan antara dunia. Di sini saya kenal teknologi, kenal kultur budaya, kenal lemuria-atlantis yang sangat menarik, lalu bagaimana leluhur kita dulu hidup, ada lipatan di pulau jawa, perpindahan dimensi. Aku usul tema kita lebih mendasar dan membumi."

Iqbal Fuadi menambahkan, “Sebenarnya kita sedang membuat lingkaran, bendera pemikiran yang fresh. Saya ingin tema selain agama juga diangkat misal Nusantara, sejarah."

Tiba pada giliran Faiq Habibie, dia berkata: “Aku silent listener, diskusi ini menarik. Tema-tema yang lebih simpel harus diadakan misalnya tentang wanita dan cinta. Mungkin ada counter seminar pranikah yang seperti di kampus-kampus biar ramai,” katanya terbahak.

Mitra melanjutkan Faiq Habibie: “Tema kita harus berangkat dari masalah, fenomenologi, kita mencari solusi dari masalah itu dan tema harus bisa berkesinambungan.”

Dokter Helmi berikutnya memberikan feedback: “Bagus sekali diskusi ini, saya baru datang dan meraba temanya. Ini menjadi informasi baru dan wawasan, menambah wawasan. Perihal tema saya ngikut saja. Endhas saya sampai kemebul. Yang penting kita migunani tumrap ing liyan, berguna bagi yang lain.”

Faqih yang menyebut ini oase dan banyak ketidakformalan kemudian usul, “Kita supaya bisa mengundang narasumber yang expert dalam bahasan, salah satu keberhasilan diskusi-diskusi anak muda dimotori oleh jomblo. Pertahankan kejombloanmu dengan syariah! Keberhasilan kita bukan output tapi siapa yang datang, match dengan tema atau tidak dan kita bisa istiqomah."

Abi bilang: “Aku pusing, ini adalah ekstase bagi saya. Ghirah saya untuk belajar banagkit, formalitas di kampus didekonstruksi, ini semacam ekstase formalistik bagi saya. Semoga diskusi ini bisa istiqomah. Penting juga bagi kita membahas Tegal, apa yang ada di sini”.

Geko mengiyakan singkat: “Pertemuan ini srang-srangan alus, seperti radan edan” Kami semua pun tertawa.

Rizki Adi yang sedari tadi diam karena menahan nyeri belum menikah berterima kasih: “Alhamdulillah saya baru ikut, bertambah kenalan, ilmu baru, wawasan baru, nusantara kita, leluhur. Temanya dipersimpel, mendasar dan kita mesti mencari solusi-solusi jangka pendek."

Kami sepakat untuk tema berikutnya yaitu: “Sejarah Rumpun Ngapak” untuk membedah asal usul Tegal, Pemalang, Purwokerto, dan banyak daerah ngapak. Sangat menarik untuk mengetahui lebih tua mana rumpun ngapak dan rumpun krama alus. Malam menunjukan pukul 00.00, mau tak mau kita harus berpisah dalam kerinduan yang disimpan masing-masing. Sampai jumpa pada kegembiraan berikutnya. [Bm]

*Rekaman tertulis Diskusi Rutin Komunitas Santrijagad. Digelar tiap awal bulan. Siapa saja boleh hadir termasuk jomblo dan setan. Tidak ada benar-salah, apalagi solusi atau pergerakan, sekedar kontemplasi bersama dan langkah minimal.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang