Sejarah Rumpun Ngapak

3 May 2015

Diskusi Santai Santrijagad #5
Jumat, 1 Mei 2015 di Taman Rakyat Slawi


Diskusi Santrijagad #5 ~ Sejarah Rumpun Ngapak
Istilah Galuh Purba populer disebut oleh Van Der Meulen, seorang orientalis ahli islam dan sejarah Belanda, murid dari Snouck Hurgronje. Teorinya mengatakan bahwa nenek moyang rumpun ngapak berasal dari daerah Kutai Kalimantan timur sebelum periode Kerajaan Kutai Hindu. Kemudian pendatang-pendatang tersebut masuk ke tanah Jawa jauh sebelum abad ke 3 Masehi mendarat di Cirebon, kemudian masuk ke pedalaman. Sebagian menetap di sekitar Gunung Cermai dan sebagian lagi melanjutkan perjalanan dan menetap di sekitar Gunung Slamet dan Lembah Sungai Serayu.

Pendatang yang menetap di sekitar Gunung Cermai selanjutnya mengembangkan peradaban sunda sedangkan pendatang yang menetap di sekitar Gunung Slamet kemudian mendirikan Kerajaan Galuh Purba. Kerajaan Galuh Purba yang didirikan di Gunung Slamet ini disebut-sebut merupakan kerajaan yang pertama di Jawa Tengah dan keturunannya bakal menjadi penguasa dari kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa. Wilayah Kerajaan Galuh Purba sebelum pindah ke Kawali mempunyai wilayah kekuasaan yang lumayan luas, mulai dari Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Bumiayu, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen ,Kedu, Kulonprogo dan Purwodadi.

Kerajaan Galuh Purba didirikan pada sekitar abad Ke-1 M di Gunung Slamet berkembang sampai dengan abad ke-6 M dengan kerajaan-kerajaan kecil dengan nama Galuh didepannya. Antara lain kerajaan :
1. Kerajaan Galuh Rahyang lokasi di Brebes, ibukota di Medang Pangramesan
2. Kerajaan Galuh Kalangon lokasi di Roban, ibukota di Medang Pangramesan
3. Kerajaan Galuh Lalean lokasi di Cilacap, ibukota di Medang Kamulan
4. Kerajaan Galuh Tanduran lokasi di Pananjung, ibukota di Bagolo
5. Kerajaan Galuh Kumara lokasi di Tegal, ibukota di Medangkamulyan
6. Kerajaan Galuh Pataka lokasi di Nanggalacah, ibukota di Pataka
7. Kerajaan Galuh Nagara Tengah lokasi di Cineam,ibukota di Bojonglopang
8. Kerajaan Galuh Imbanagara lokasi di Barunay (Pabuaran), ibukota di Imbanagara
9. Kerajaan Galuh Kalingga lokasi di Bojong, ibukota di Karangkamulyan

Di sini Van Der Meulen penting sebagai data dan tafsir baru sejarah Galuh Purba karena tujuh Yupa yang ditemukan di Kutai sendiri tidak ada yang membahas mengenai Galuh Purba. Menarik mengkaji darimana data-data Van Der Meulen berasal. Data asli atau berupa data yang diangkat dia sendiri untuk merintis tafsir baru tentang Galuh Purba.

Kita harus ingat siapa Van Der Meulen sendiri dalam kiprahnya membantu pemerintahan Belanda menjajah Indonesia pada waktu itu. Juga mempertanyakan dimana kubu Van Der Meulen? Apakah pada kepentingan akademis yang netral atau pada kepentingan pemerintah hindia Belanda? Pada sisi lain kita patut mengapreasiasi para penulis Belanda yang netral seperti perjalanan hidup Douwes Dekker yang mirip kisah “The Last Samurai”. Beliau dikirimkan dari Belanda ke Indonesia tapi justru melakukan perlawanan sastra lewat Max Havelaar terhadap pemerintah Hindia Belanda Waktu itu. Gegerlah negerinya atas lahirnya karya sastranya ini.

Disini kita harus bisa memisahkan data dan fakta sejarah dengan politik penulisnya. Tidak menutup kemungkinan pada saat itu versi ini digunakan untuk politik Belanda. Maka kalau kita merujuk kepada sanad kepada Van Der Meulen belajar maka hanya ada dua kemungkinan yaitu merevisi dan mengcounternya juga.  Pada kenyataannya akademisi pun tidak bisa lepas dari kepentingan politik jadi para konsumen data dan informasi sejarah harus jeli siapa yang menulis sejarah ini.

Kelemahan membaca kubu penulis sejarah menjadi kelemahan ilmu sejarah modern. Juga kelemahan sejarah akademis kita sampai hari ini adalah tidak belajar dari ilmu hadits, mengenali isnad dan sanad. Kita tidak bisa asal kutip keterangan dan penjelasan begitu saja tanpa memandang sanad, siapa dan bagaimana sifat periwayat, juga kubu penutur sendiri berada dimana. Terkadang sejarah modern juga skeptis terhadap sejarah dari pakar islam dan sejarah dari pesantren sehingga enggan menyertakan sumbernya. Meskipun sejarah modern memberikan kontribusi besar metodologi yang sangat berguna sekali dalam menelaah kejadian sejarah yaitu Heuristik, Kritik sumber, Interpretasi, dan Historiografi.

Teori Van Der Meulen dilanjutkan dalam kajian bahasa yang dilakukan oleh E.M. Uhlenbeck pada tahun 1964, dalam bukunya : “A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura”, The Hague: Martinus Nijhoff, bahasa yang digunakan oleh “keturunan Galuh Purba” masuk ke dalam Rumpun Basa Jawa Bagian Kulon yang meliputi :Sub Dialek Banten Lor, Sub Dialek Cirebon/Indramayu, Sub Dialek Tegalan, Sub Dialek Banyumas, Sub Dialek Bumiayu (peralihan Tegalan karo Banyumas), Kelompok dialek ini biasa disebut Bahasa Jawa Ngapak-ngapak atau Bahasa Banyumasan.

Cakupan Galuh Purba sendiri diantaranya Cirebon, Indramayu, Banyumas, Tegal, Kebumen, Brebes, Purbalingga, Banjarnegara. Adapun paparan tahun masehi dimana peresmian kota/kabupaten ini  beserta sejarah ringkasnya adalah:

1482 pada tahun 1482 Masehi setelah Syarif Hidayatullah diangkat menjadi sultan Cirebon membuat maklumat kepada Raja Pakuan Pajajaran Prabu Siliwangi untuk tidak mengirim upeti lagi karena Kesultanan Cirebon sudah menjadi Negara yang Merdeka. Selain hal tersebut Pangeran Syarif Hidayatullah melalui lembaga Wali Sanga rela berulangkali memohon Raja Pajajaran untuk berkenan memeluk Agama Islam tetapi tidak berhasil. Itulah penyebab yang utama mengapa Pangeran Syarif Hidayatullah menyatakan Cirebon sebagai Negara Merdeka lepas dari kekuasaan Pakuan Pajajaran.

1527 Berdirinya pedukuhan Darma Ayu dari nama Nyi Endang Dharma yang memang tidak jelas tanggal dan tahunnya namun berdasarkan fakta sejarah Tim Peneliti menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada jum’at kliwon, 1 sura 1449 atau 1 Muharam 934 H yang bertepatan dengan tanggal 7 Oktober 1527 M. Untuk mengenang jasa orang yang telah ikut membangun pedukuhannya maka pedukuhan itu dinamakan “Darma Ayu” yang di kemudian hari menjadi “Indramayu”.

1582 Banyumas berasal dari kata “Air yang berharga seperti emas” sebab pada waktu penyebutannya sedang musim kemarau yang sangat panjang. Kabupaten Banyumas berdiri pada tahun 1582, tepatnya pada hari Jum`at Kliwon tanggal 6 April 1582 Masehi, atau bertepatan tanggal 12 Robiul Awwal 990 Hijriyah. Kemudian ditetapkan dengan Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor 2 tahun 1990. Keberadaan sejarah Kabupaten Banyumas tidak terlepas dari pendirinya yaitu Raden Joko Kahiman yang kemudian menjadi Bupati yang pertama dikenal dengan julukan atau gelar Adipati Marapat (Adipati Mrapat)

1601 Tegal berasal dari nama Tetegal, tanah subur yang mampu menghasilkan tanaman pertanian (Depdikbud Kabupaten Tegal, 1984). Ada pula sumber yang mengatakan dari kata Teteguall Sebutan “pemberian” yang diberikan seorang pedagang asal Portugis yaitu Tome Pires, anak buah Alfonso Alberqueque yang singgah di Pelabuhan Tegal pada tahun 1500 –an (Suputro, 1955). Tokohnya Ki Gede Sebayu tahun 1600. Ki Gede Sebayu diangkat menjadi Juru Demang setarap dengan Tumenggung di Kadipaten Tegal pada Rabu Kliwon tanggal 18 Mei 1601 Masehi atau tanggal 12 Robiul Awal 1010 Hijriyah atau 1524 CakaTegal.

1677 Nama Kebumen konon berasal dari kabumian yang berarti sebagai tempat tinggal Kyai Bumi setelah dijadikan daerah pelarian Pangeran Bumidirja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677, saat berkuasanya Sunan Amangkurat I. Sebelumnya, daerah ini sempat tercatat dalam peta sejarah nasional sebagai salah satu tonggak patriotik dalam penyerbuan prajurit Mataram pada zaman Sultan Agung ke benteng pertahanan Belanda di Batavia. Saat itu Kebumen masih bernama Panjer.

1678 Brebes identik dengan tanah yang dihuni pengembara bernama Panembahan Losari dari Kraton Gunung Jati. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 9A Tahun 1985, ditetapkan bahwa Kabupaten Brebes berdiri pada 18 Januari 1678, hari Senin Kliwon, bertepatan dengan tahun 1089 Hijriyah, atau tahun 1600 Caka atau 1601 Jawa. Hal ini terjadi setelah adanya tragedi mati sampyuh Adipati Arya Martalaya (Bupati Tegal ) dan Adipati Martapura (Bupati Jepara) yang terjadi pada 17 Januari 1678. Sehari berikutnya, Sunan Amangkurat II (waktu itu Raja Mataram) berkenan menetapkan kekosongan jabatan bupati yang meninggal tersebut. Untuk memimpin Kabupaten Tegal diangkatlah adik Adipati Martalaya yang bernama Reksanegara, sedangkan untuk Brebes yang sekaligus dijadikan daerah kabupaten yang berdiri sendiri, diangkatlah adik Martalaya juga dengan nama dan gelar Tumenggung Arya Suralaya. Jadi, wilayah Brebes dan Tegal dipimpin saudara sekandung atau kakak-beradik.

1830 Kitab babad yang berkaitan dan menyebut Purbalingga diantaranya adalah Babad Onje, Babad Purbalingga, Babad Banyumas dan Babad Jambukarang. Selain dengan empat buah kitap babat tsb, maka dalam merekonstruksi sejarah Purbalingga, juga melihat arsip-arsip peninggalan Pemerintah Hindia Belanda yang tersimpan dalam koleksi Aarsip Nasional Republik Indonesia.Berdasarkan sumber-sumber diatas, maka melalui Peraturan daerah (perda) No. 15 Tahun 1996 tanggal 19 Nopember 1996, ditetapkan bahwa hari jadi Kabupaten Purbalingga adalah 18 Desember 1830 atau 3 Rajab 1246 Hijriah atau 3 Rajab 1758 . Dengan tokoh Kiai Arsantaka.

Tahun 1831, pendatang yang bernama Kyai Maliu sangat tertarik akan keindahan alam di sekitar Kali Merawu sebelah selatan jembatan Clangap (sekarang). Setelah Kyai Maliu tinggal di tempat barunya tersebut, dalam waktu singkat disusul pula dengan berdirinya rumah-rumah penduduk yang lain disekitar pondok Kyai Maliu sehingga kemudian membentuk suatu perkampungan. Perkampungan tersebut terus berkembang waktu demi waktu yang akhirnya menjadi sebuah desa. Desa baru tersebut kemudian dinamakan “BANJAR” sesuai dengan daerahnya yang berupa sawah yang berpetak-petak. Atas dasar musyawarah penduduk desa baru tersebut Kyai Maliu diangkat menjadi Pertinggi (Kepala Desa), sehingga kemudian dikenal dengan nama “Kyai Ageng Maliu Pertinggi Banjar”. Peristiwa Pengangkatan Raden Tumenggung Dipoyudho IV pada tanggal 22 Agustus 1831 sebagai Bupati Banjarnegara inilah yang dijadikan dasar untuk menetapkan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara

Dari pembahasan sejarah rumpun ngapak ini akan diperoleh beberapa analisa yang menarik:

Para pendatanglah yang melakukan perubahan pada suatu wilayah yang kebanyakan tanah kosong atau tanah pasca kekuasaan yang vakum
Dari para pendatang ini kemudian muncul sikap merdeka dan tidak mau diatur oleh Kraton lama seperti Sunan Gunung Jati (Cirebon) atau sikap independen dimana membangun peradaban tanah kosong mandiri tidak bergantung pada pemerintahan sebelumnya. Sikap merdeka dan independen ini mengalir dalam darah masyarakat ngapak sehingga sukar mengenal bahasa kromo halus
Nama-nama kota rumpun ngapak disepakati pada rentang tahun 1400-1700, artinya sebelum itu masih lahan kosong atau pedukuhan. Juga bisa memiliki nama lain yang tidak diketahui sumbernya
Bila kita lihat dari sejarah tersebut, diperoleh informasi bahwa perkembangan peradaban rumpun ngapak sudah berkembang sedemikian jauh sebelum masa-masa Kerajaan Majapahit. Artinya peradaban budaya dan bahasa Banyumasan sudah sangat tua jauh sebelum Kerajaan Mataram Islam yang kemudian terpecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Ada yang menarik adalah dulu wilayah Tegal sendiri berasal dari kerajaan Galuh Kumara yang didirikan di sini dengan ibukota di Medangkamulan.
Cirebon dan Pemalang dapat menjadi kunci memahami perjalanan masyarakat ngapak era mataram sebab kota tersebut lebih tua daripada kabupaten atau kota
Gunung Slamet dan Gunung Ciremai akan menjadi awalan yang menarik dalam meneliti asal usul masyarakat ngapak di atas. Gunung Slamet dahulu bernama Pasir Luhur. Slamet sendiri berasal dari kata Salam. Artinya gunung ini diberi nama Slamet berarti pada saat Islam sudah mulai ada di sekitarnya
Dengan mengetahui sejarah besar rumpun ngapak, maka sikap inferior dan minder warga ngapak akan minder karena mereka menyimpan sejarah yang begitu megah dalam peradaban
Maka belajar dari ratusan tahun penulisan sejarah kita, penulis dari kita sendiri mesti bangkit menuliskan catatan-catatan dan sejarah diri mereka sendiri termasuk meletakan garis waktu (timeline)

Apabila dunia sejarah mengakrabi literatur pesantren maka akan semakin terbukalah kekayaan intelektual dunia sejarah. Sebagai contoh, Galuh Purba sendiri tidak lebih tua daripada apa yang dijelaskan Di dalam Kitab ‘al-Kamil fi al-Tarikh‘ tulisan Ibnu Athir, menyatakan bahwa Bani Jawi (yang di dalamnya termasuk Bangsa Sunda, Jawa, Melayu Sumatera, Bugis… dsb), adalah keturunan Nabi Ibrahim. Para peneliti islam yang berangkat dari literatur ini banyak menemukan hasil-hasil baru yang tidak stagnan. Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, semakin nyata, ketika baru-baru ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM), diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen (merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik).
"Para Pembahas Paper"
[Ditulis ulang oleh Budi Mulyawan, dipaparkan dan dibahas bersama: Adi Jaya Rizkiawan, Mitra Satriani, M. Khoirus Zadit Taqwa, Sya’roni As Samfuriy.]

*Paper ini adalah hasil rekaman tertulis rutinan Diskusi Santai Santrijagad, bebas dicopy paste, didistribusikan, digandakan dengan mencantumkan sumber. PDF paper ini bisa didownload DISINI
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang