Teguran Untuk ‘Islam Protestan’

4 May 2015

Oleh: Syaikh Imran Nazar Hussein – Pakar Islamic Escatology, Trinidad

Syaikh Imran Nazar Husain
Protestanisme merupakan suatu metodologi (kaidah) beragama yang bermula di Eropa. Yakni ketika segolongan umat Kristen memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma dan menamakan diri mereka sebagai kaum Protestan. Yakni kaum yang menggelorakan gerakan ‘kembali kepada Alkitab’ dan menolak berbagai bentuk tradisi Gereja Katolik Roma (sola scriptura).

Mereka melandaskan kaidahnya pada teks dan harus dipahami secara literal, sehingga mereka menolak interpretasi. Kemudian metodologi ini sampai di tengah umat Islam, dipioniri sebagai gerakan radikal yang melahirkan kerajaan Saudi. Mereka adalah saudara saya, saudara seiman, saya tidak hendak beradu dengan mereka. Namun memang mereka inilah bentuk protestanisme dalam Islam.

Bila Anda mengikuti metodologi ‘Islam Protestan’ ini, maka Anda akan memahami agama dengan mengacu kepada teks secara literal, apa adanya. Anda akan menafsirkan teks sebatas apa yang tersurat. Sehingga panduan Anda adalah teks, bukan ‘nuur’. Oleh karena itu Anda tidak akan bisa memahami Eskatologi (ilmu tentang tanda-tanda akhir zaman), Anda tidak akan bisa memahami dunia hari ini, Anda tidak akan bisa menjelaskan krisis ekonomi yang melanda dunia, Anda tidak bisa pula memahami tingkah polah Israel yang hendak menggeser posisi Amerika Serikat sebagai dominator dunia.

Adakah saudara-saudara kita kaum tekstualis itu bisa memahami hal-hal ini?

Ada sebuah hadis yang akan membuatmu menangis. Rasulullah saw bersabda, “Ada sesuatu yang aku risaukan terhadap umatku, lebih daripada Dajjal.” Apakah itu? Padahal mengenai Dajjal, Baginda katakan bahwa fitnah terbesar yang umat manusia akan alami sejak dari masa Nabi Adam sampai hari kiamat adalah fitnah Dajjal. Tapi dalam hadis ini beliau mengatakan, “Sesuatu yang aku risaukan terhadap umatku, lebih dari Dajjal,” dan Abu Dzar menjadi takut, hadis itu diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad. Abu Dzar menjadi takut lalu dia bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah perkara yang lebih Anda risaukan daripada Dajjal terhadap umatmu itu?” kemudian Rasulullah saw menjawab, “Ulama yang buruk / salah jalan.” (‘ulamaa-us-suu’), inilah yang aku risaukan terhadap umatku, melebihi kerisauanku terhadap Dajjal.”

Lalu bagaimana cara kita menyikapi ulama yang salah jalan sekaligus melindungi diri dari penyesatan mereka?

Anda mungkin mempunyai hati yang tulus, namun tetap sangat mungkin bisa tersesatkan oleh ulama yang salah jalan. Seseorang yang bangun pada waktu pagi dengan keimanan dalam hatinya, pada akhir zaman, bila malam menjelang imannya bisa tercabut darinya. Lelaki yang tidur pada malam hari dengan keimanan dalam hatinya, akan hilang keimanannya bila pagi menjelang, begitu sabda Rasulullah saw.

Bila Anda perhatikan kisah Khidr as, maka Anda dapat memahami suatu kaidah tentang bagaimana menghadapi kondisi akhir zaman. Di dalam surat yang sama, ada beberapa ayat tentang pemuda-pemuda gua. Dalam kisah ini Allah swt menerangkan tentang keadaan mereka yang di dalamnya juga terkandung kaidah tentang perlindungan dari fitnah Dajjal.

Dalam mengkaji hal ini, saudara-saudara kita dari kalangan ‘Islam Protestan’ telah meninggalkan kaidah yang betul. Sehingga mereka tidak akan dapat memahami hal ini. Mereka hanya menekankan kepada ampasnya saja, hanya memberi perhatian kepada sekam padi tapi tidak kepada biji berasnya.

Bila Anda memasak beras, lalu matang kemudian disebut nasi. Sebelum dimasak, ia masih berupa padi, lalu digiling kemudian terpisah menjadi sekam (gabah) dan bulir-bulir beras. Kalau Anda mengikuti kaidah yang betul, maka Anda tidak akan terpaku dan memberi perhatian penuh kepada sekam padi, tapi Anda akan memberi perhatian kepada biji beras.

Maka jangan biarkan sekam padi mengalihkan perhatian Anda, itulah kaedah yang betul. Adapun Dajjal justru berupaya meletakkan semua sekam di hadapan Anda dan mengaburkan pandangan Anda. Sehingga Anda sibuk di situ, dan melalaikan intipati utama kisah tersebut. Nah, kaidah yang salah ini telah berlaku sekarang oleh 'Islam Protestan'.

Merekalah yang asyik mengkritik saya setiap hari. Dan hari ini bahkan mereka menertawakan dan melaknat saya, semoga Allah mengampunkan saudara kita ini. Bukan begitu caranya. Jika saya membuat kritikan terhadap kaedah Anda, saya melakukannya dengan penuh hormat. Saya tidak melakukannya dengan cara yang tidak elok. Bukan dengan menyakiti hati atau menjatuhkan muruah. Ini merupakan dialektika ilmu pengetahuan.

Jika kita saling berbagi pendapat, kita semua dapat manfaatnya. Saya akan dapat faedah dan Anda juga akan dapat faedahnya. Dan setelah saya menelaah kaidah yang Anda gunakan, wahai penganut protestanisme, maka saya temukan kekurangan dalam kaidah Anda itu. Kaidah yang Anda gunakan itu tidak akan dapat memahamkan Anda kepada ilmu akhir zaman atau Islamic Escatology, yakni tentang bagaimana keadaan dunia saat ini.

Maka dari itu, kita bisa mengenali bagaimana karekter ulama salah jalan yang disebutkan di dalam hadits itu. Yakni mereka yang memahami teks secara literal tanpa tuntunan ‘nuur’ (cahaya ilahiyah). Adapun ulama yang sebenar-benarnya adalah mereka yang memadukan pembacaan lahiriah dan batiniah.

Mereka yang memiliki ‘Majma’u al-Bahrain’ ialah ulama sebenarnya. Apa ‘Majma’u al-Bahrain’ atau ‘Perpaduan Dua Lautan’ itu? Yakni, menurut Imam Baidhawi, perpaduan dua lautan ilmu; ilmu pengetahuan eksternal yang didapatkan secara mekanis, dan ilmu internal yang didapatkan langsung dari Allah dengan olah batin.

Lautan ilmu eksternal diperoleh dengan mempelajari disiplin ilmu secara lahiriah. Anda bisa belajar politik, sejarah, ekonomi, sains, filsafat, dan sebagainya. Semua itu adalah ilmu yang dipelajari secara eksternal. Artinya, jika Anda tak menanam maka Anda takkan memahaminya.

Sedangkan lautan ilmu internal diperoleh dengan lelaku spiritual. Allah akan memberikan nuur-Nya kepada siapapun yang Ia kehendaki. Perkara yang tak mudah adalah memadukan antara ilmu eksternal dengan ilmu internal sehingga harmonis, yaitu menjadi ‘Majma’u al-Bahrain’. Hanya orang yang benar-benar disiplin belajar dan bermujahadah yang sanggup menggapainya. Sebagaimana terdapat dalam pribadi guru saya, Maulana Dr. Fadhlurrahman al-Anshari yang dimakamkan di Karachi Pakistan.

Dialah guru saya seingga hari ini saya bisa menyampaikan Ilmu Akhir Zaman. Saya, Imran Husain, bukanlah orang penting, nama saya tidak penting, namun misi yang saya sampaikan inilah yang penting. Ilmu Akhir Zaman ini sangat penting agar kita bisa memahami kondisi dunia saat ini serta bagaimana kita menyikapinya secara tepat sesuai tuntunan Rasulullah dalam Al-ur’an dan Sunnah. Dan ini tidak bisa dipahami secara tekstual-literal saja, melainkan harus dibimbing dengan ‘nuur’ spiritualitas.

Semoga Allah merahmati kita dengan memunculkan ulama-ulama yang sebenar-benarnya, bukan ulama dan pemimpin salah jalan sebagaimana yang Rasulullah risaukan. [Zq]

*Transkrip ceramah Syeikh Imran Husain, dari link Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=lRauMdj7tdM | https://www.youtube.com/watch?v=evBx7Dv2t9w
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang