Salah Kaprah Khilafah

4 June 2015

Oleh: Awy A. Imran – Masyru’ Al-Maliki, Makkah

Saya ingin bicara mengenai khilafah dan mendudukkan persoalan khilafah sesuai ilmu yang saya pelajari selama ini. Karena jika melihat isu khilafah selama ini, atau isu negara Islam, jika dicermati dengan baik ternyata semuanya ngglambyar, tidak jelas. Tak heran jika pihak yang pro khilafah/negara Islam dan yang kontra sering terjebak pada debat kusir, sering kali seperti menabuh drum kosong.

Awy A Imran
Pernyataan bahwa khilafah sama dengan teokrasi menunjukkan bahwa yang mengatakan seperti itu tak paham hakikat khilafah. Begitu juga yang mengatakan bahwa khilafah bermula sejak zaman setelah nabi sampai runtuhnya Ottoman pada 1924, juga tak paham apa itu khilafah.

Kenapa saya bisa mengatakan demikian? Sebab khilafah yang mereka pahami tidak sama dengan apa yang dikatakan Nabi soal khilafah itu sendiri. Fakta yang aneh tapi nyata, kok bisa mendefinisikan khilafah tapi berbeda dengan mafhum khilafah yang disampaikan Nabi secara jelas?

Dalam hadits-hadits perihal khilafah yang banyak bertebaran, dengan tegas Nabi menyatakan bahwa khilafah hanya 30 tahun saja setelahnya. Begitu juga yang menyatakan kalau khilafah itu teokrasi. Bagi orang yang membaca sejarah dengan baik pasti langsung tertawa dengan pernyataan pendek ilmu itu. Dan kurun waktu 30 tahun itu tepat dibagi oleh pemerintahan 5 tokoh besar dalam sejarah Islam; Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan Hasan.

Setelah masa khilafah 30 tahun itu Nabi dengan sangat jelas menyatakan bahwa selanjutnya adalah Dinasti (Muluk), bukan khilafah. Hanya saja para raja itu (mulai dari dinasti Umayyah, Abbasiyyah sampai Ottoman) melabeli dirinya dengan gelar ‘Amirul Mukminin’. Ottoman High Empire masih mending, tidak menyatakan diri sebagai khalifah/amirul mukminin, tapi merendahkan hati dengan gelar Sultan.

Maka bila orang yang teriak pro khilafah menggeret masa belasan abad setelah 30 tahun awal pasca wafat Nabi, tentu saja salah judul. Memang pada masa dinasti itu suara kaum muslimin jadi satu, di bawah satu komando dinasti-dinasti itu, tidak terpecah belah. Dan masa kesatuan umat Islam sedunia itu berlangsung cukup lama, hampir 1300 tahun. Waktu sepanjang itu alami sekali terjadi pasang surut, tidak sedikit kesuksesan yang dicetak ummat, juga tidak sedikit kegagalan yg terjadi. Bagi yang membaca sejarah, tahu hal ini dengan baik.

Maka saya pribadi heran terhadap mereka yang mengatakan bahwa sistem khilafah itu gagal. Statemen yang sangat tergesa. Jelas sekali orang yang mengatakan demikian tidak cukup cerdas membaca sejarah yang membentang selama 1300 tahun. Paling sekedar baca cuplikan terjemah.

Begitu juga yang mengatakan bahwa khilafah sama dengan teokrasi. Kalau dikembalikan pada Khilafah versi Nabi, pernyataan itu sangat salah sekali. Sebab praktek pemerintahan yang dijalankan Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali bukan semacam pemerintahan gereja di masa kegelapan Eropa. Justru keempat sahabat besar ini banyak meletakkan dasar-dasar bernegara yang selanjutnya, bahkan sampai sekarang diikuti banyak negarawan.

Adapun dinasti-dinasti Islam setelahnya, tak cukup jika hanya menilai peran mereka dengan membaca sejarah cuplikan terjemahan, dari penulis Barat pula. Jika ingin mengkritik dinasti-dinasti itu, musti membaca dengan baik referensi-referensi raksasa semacam Bidayah wa An-Nihayah, Tarikh Dimasyq, Al-Kamil, atau kitab tarikh raksasa al-Mubtada' wa al-Khobar karya Ibnu Khaldun (yang kita hanya tahu Muqoddimahnya).

Tanpa membaca referensi-referensi raksasa itu, saya sarankan tidak usah gaya-gaya kritik khilafah, sebab sebenarnya tidak tahu dengan apa yang diocehkan. Alhasil, baik yang membela khilafah atau yang tidak suka khilafah, baiknya mempelajari lagi dari sumber asli; apa sih khilafah itu. Agar tidak terjebak pada debat kusir yang membuang waktu, menguras energi. Cukup sayang dan kontraproduktif.

Bagi yang pro khilafah, jangan cepat-cepat tertipu oleh pandangan mata. Baru kumpul satu stadion saja sudah begitu yakin. Bagi yang kontra khilafah, tidak perlu lebay dengan semisal mengatakan bahwa Pancasila harga mati, khilafah tidak cocok buat Indonesia, atau semacamnya.

Andai masing-masing pihak tahu dengan baik apa mafhum khilafah yang disabdakan Nabi dan bagaimana prakteknya, tidak akan pernah terjadi debat kusir. Ini masih soal mafhum khilafah saja. Belum lagi soal keterperdayaan orang yang pro khilafah jika dilihat dari kacamata ilmu Fiqh Tahawwulat.

Singkatnya (kalau dianalisa, butuh buku tersendiri), khilafah/negara Islam yang dipropagandakan saat ini (maaf) ternyata hoax saja. Maka kami sendiri selama 10 tahun di Mekkah mempelajari ilmu-ilmu syariat, khilafah/negara Islam bukan konsentrasi utama kami. Di samping waktunya belum tiba, umat saat ini membutuhkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada bungkus khilafah/negara Islam, yaitu pembenahan moral dan mental yang merosot tajam luar biasa. Karena khilafah/negara Islam tak akan berdiri dengan kondisi buruk seperti ini.

Pada akhirnya; semestinya kita mengarahkan perjuangan pada segala hal yang bersinggungan dengan moral dan Ihsan dalam beragama. Bolehlah terpikir khilafah, tak masalah, tapi bukan menjadi tujuan utama, sehingga hal-hal prinsip dalam syariat banyak yang terbengkalai.

Sekali lagi, jika cermat menilai, khilafah hanyalah salah satu sistem untuk menjalankan syariat di muka bumi ini. Dan untuk jalannya roda syariat tidak hanya monopoli khilafah saja. Sistem apapun selama bisa menjalankannya, maka itu baik. Karena tujuan utama diterapkannya syariat di antaranya adalah terwujudnya keadilan antar sesama manusia di muka bumi ini.

*Sumber: chirpstory @awyyyyy “Salah Kaprah Khilafah”
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang