Diskusi Santrijagad: Puasa Para Wali

5 July 2015

"Bams: Moderator"
“Puasa adalah kehidupan dan kehidupan adalah puasa”. Waktu telah menunjukan pukul 01.00. Bams membuka acara nan syahdu ini dengan mengucapkan bismillah. Acara yang semuala di kantin kidul kemudian berpindah ke kantin lor yang sangat remang-remang. Budi kemudian membacakan pengantar dari diskusi ini dengan adagium sufi: “Sholatku setelah salam dan puasaku setelah berbuka". Kali ini santrijagad mencoba membahas apa yang disebut Imam Ghazali perihal puasa khowasul khowas (puasa yang sangat khusus) dari para Auliya dan Arif Billah. Dimana konsep puasa sendiri diartikan secara mendalam sebagai "berpuasa dari apa yang tak disukai Allah".

Dalam ajaran Tasawuf, Wali Allah mengemban fungsi kosmik yang paling agung, sebab merekalah yang benar-benar dianggap sebagai “ulama pewaris Nabi Muhammad yang sejati.” Mereka mengikuti jejak Nabi Muhammad bukan hanya dalam aspek kemanusiaan dan sosialnya tetapi juga dalam kapasitas spiritual dan esensi ruhaniah Nabi (al-haqiqah Al-Muhammadiyyah). Menurut tradisi Tasawuf, mereka adalah khalifah Allah yang sesungguhnya, wakil Allah di muka bumi. Para wali sangat dekat dengan Allah sehingga penglihatan (visi) mereka tidak berbeda dengan visi Allah, yandzuru bi nurillahi ta’ala, “(mereka) melihat dengan anugerah Nur dari Allah.

Budi berkata: “Hidup ini hanya mengenal dua hal: menahan atau melampiaskan. Menahan itulah yang dinamakan puasa”. Geko yakin bahwasanya nafsu itu bagaikan kuda liar yang harus dikekang salah satunya dengan puasa. Ada sebuah kisah di Jaman Nabi Sulaiman dimana beliau meminta kepada Allah agar nafsu orang-orang dicabut. Kemudian beliau ke pasar dan tidak mendapati masyarakat. Mereka semua berada di rumahnya dan di masjid untuk beribadah. Di sinilah rahasia nafsu sebagai kekuatan putaran dunia ini.

Kang Apank berkata: “Nafsu sendiri terkadang menjadi kendaraannya setan. Setan itu fungsinya membuka peluang. Kita mesti sering muhasabah nafsu kita ini dikendalikan setan atau akal. Nafsu sendiri menurut istilah adalah sesuatu yang mengajak kepada keburukan. Tapi nafsu pula yang membedakan manusia dengan malaikat dan iblis. Manusia bisa lebih tinggi derajatnya dari malaikat atau lebih rendah daripada iblis, tergantung bagimana dia mengendalikan nafsunya.

"Kang Apank dan Penjelasannya Mengenai Nafsu"

"Para Audiens Menyimak"
Para wali lahir dari penindasan mereka terhadap nafsu. Sementara orang hanya berpuasa menahan larangan tapi para wali yang sudah menekan nafsunya punya semangat puasa untuk membangun jiwa, bukan hanya menahan diri. Dikisahkan dari Sahl bin Abdullah at-Tustari bahwa ia makan dalam setiap lima belas hari sekali. Jika bulan Ramadhan tiba, ia hanya makan sekali dalam satu bulan. Kenyataan langka ini ditanyakan seorang sufi kepada seorang syaikh sufi, maka ia menjawab, “Setiap malam ia hanya berbuka dengan air bersih saja.”

Abi bertanya: “Mengapa ada wali khowariqul adat terkadang tidak puasa?”. Kami sepakat bahwasanya ini tetap harus menggunakan husnodhon. Siapa yang tahu detail wali? Hanya Allah. Pernah di Yaman, negeri para wali ada seorang wali yang dilihat penduduk desa tidak puasa. Setelah itu beliaupun diawasi dua orang yang ingin menyaksikan puasanya. Kedua orang itu ikut puasa bahkan sampai 30 hari, tapi begitu keluar dari kediaman wali itu ternyata puasa di desanya baru sehari berjalan. Ini keajaiban auliya. Tapi menurut Kang Apank, ada dimensi wali yang hanya untuk mereka sendiri. Kita tak boleh meniru yang khawariq. Lebih utama kita mengikuti wali yang a’lim dan mengikuti syari’ah.

As-Sarraj pernah mendengar dari  Ahmad bin Muhammad bin Sunaid, walikota Dinawar yang kotanya terletak di provinsi Al-Jabal, dekat Qirmisin. Wali kota ini menceritakan tentang pengalaman Ruwaim, seorang sufi pada zamannya. “Aku pernah berkeliling kota Baghdad di siang hari yang sangat panas, sehingga aku kehausan. Kemudian aku mendatangi pintu rumah seseorang untuk minta air minum. Ternyata seorang pembantu perempuan membukakan pintu dan keluar denga membawa kendi baru yang berisi air dingin. Tatkala aku mau mengambil air dari tangannya, ia berkata kepadaku, “Celaku kau! Seorang sufi minum di siang hari!” Kemudian ia membanting kendi itu ke tanah hingga pecah dan berpaling meninggalkanku. Aku merasa malu dengan perempuan itu dan aku bernadzar untuk selalu berpuasa dan tidak pernah membatalkannya untuk seumur hidup.”

Dikisahkan, Sahl bin Abdullah at-Tustari berkata, “Jika Anda kenyang maka mintalah lapar kepada Dzat Yang telah mengujimu dengan kekenyangan. Jika Anda lapar maka mintalah kenyang kepada Dzat Yang mengujimu dengan kepalaran. Kalau tidak, Anda akan berlebihan dan berkepanjangan.”
   
Abu Abdillah Ahmad bin Jabban, seorang sufi lainnya, berpuasa selama lebih dari lima puluh tahun. Ia tidak pernah membatalkan puasanya, baik ketika sedang bepergian maupun saat tidak berpuasa. Suatu hari teman-temannya memaksanya untuk tidak berpuasa. Akhirnya ia membatalkan puasanya. Setelah itu, ia sakit beberapa hari akibat ia membatalkan puasanya, dan hampir saja ia tidak bisa melakukan yang fardhu.

Ibrahim bin Ad-ham, seorang pangeran dari Balkh yang kemudian lari dari istana dan menjadi sufi, menceritakan, “Aku pernah berteman dengan seorang yang banyak berpuasa dan shalat. Aku kagum dengan apa yang ia lakukan. Kemudian aku melihat apa yang ia makan. Ternyata makanannya diambil dari sumber yang tidak baik. Kemudian aku memerintahnya “keluar” dari apa yang ia miliki dan kuajak mengembara. Ia kuberi makan dari makanan yang kuketahui kehalalannya dan Kuridhai. Tatkala ia telah bersahabat denganku dalam beberapa waktu aku perlu “memukulnya” dengan cambuk agar ia mau melakukan hal yang fardhu.

Dikisahkan, Al-Junaid Al-Baghdadi telah terbiasa berpuasa secara terus-menerus. Jika teman-temannya datang, ia akan menemani mereka makan. Ia berkata, “Keutamaan saling membantu antarsaudara tidaklah kurang berarti daripada keutamaan puasa bagi orang yang biasa berpuasa, jika puasa itu sunah.”

Dikisahkan dari Abu Ubaid al-Bashri bahwa ketika bulan Ramadhan, ia masuk rumah dan segera mengunci pintunya lalu berpesan kepada istrinya, “Setiap malam tolong lemparkan sepotong roti lewat lubang dinding (ventilasi).” Ia tidak akan keuar dari kamar, sehingga bulan Ramadhan berakhir. Tatkala tiba Hari Raya dan istrinya masuk ke kamarnya, betapa terkejutnya istri yang rela ditinggal beribadah suaminya selama sebulan itu, ia menemukan tiga puluh potong roti tertumpuk di sudut kamar.

Seorang waliyullah besar wanita dari Mesir, Sayyidah Nafisah binti Hasan (145 - 208 H) pada masa hidupnya selalu menghidupkan sepanjang malamnya dengan menegakkan shalat dan ibadah-dibadah lainnya. Sedangkan pada siang harinya selalu menjalankan puasa sunnah. Beliau menjalankan "Shaum ad-Dahri" atau Puasa Sepanjang Tahun (kecuali lima hari yang diharamkan puasa, yaitu: Hari Raya Idul Fitri tanggal 1 Syawal, Hari Raya Idhul Adha tanggal 10 Dzul-Hijjah, dan tiga hari tasyrik tanggal 11, 12, 13 Dzul-Hijjah) sampai menjelang ajalnya, yakni selama 30 tahun.

Ketika beliau mendapat isyarat tentang akan tiba masa kematiannya, beliau berinisiatif menggali lubang di dalam rumahnya untuk dijadikan sebagai kuburannya nanti. Setelai selesai menggali lubang kuburan, beliau selalu menjalankan shalat dan ibadah-ibadah lainnya di dalam lubang kuburan yang dibuatnya itu. Bahkan sampai sempat mengkhatamkan Al-Qur'an 30 juz sebanyak 6.000 (enam ribu) kali khataman. Menjelang tiba ajalnya dan masih dalam keadaan berpuasa, beliau membaca surat "Al-An'am". Dan ketika sampai di ayat: لهم دار السام عند ربهم kemudian beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir (meninggal) dan dikuburkan di kuburan yang dibuatnya sendiri yang terletak di dalam rumahnya. Ini berdasarkan keterangan diambil dari kitab "Jami' Karamat al-Auliya" karya Syeikh Yusuf bin Isma'il an-Nabhani, jilid 2 halaman 509 - 512, cetakan "Darul Fikr", Beirut – Libanon.

Syekh Abdurrahman Assegaff berkata: "Bilamana ayahku sedang membaca satu ayat AL- Quran, maka lidah beliau seolah-olah menjadi bara. Dan tak lama kemudian akan terlihat bibir beliau terbakar, karena dahsyatnya rasa Khauf beliau kepada Allah swt. Bagaimana puasanya? Sungguh di luar bayangan kita.

Puasa wali tanah jawa juga tak kurang menarik dicermati. Selama di tanah suci, mbah Kyai Dalhar pernah melakukan khalwat selama 3 tahun disuatu goa yang teramat sempit tempatnya. Dan selama itu pula beliau melakukan puasa dengan berbuka hanya memakan 3 buah biji kurma saja serta meminum seteguk air zamzam secukupnya. Dari bagian riyadhahnya, beliau juga pernah melakukan riyadhah khusus untuk mendoakan para keturunan beliau serta para santri santrinya. Dalam hal adab selama ditanah suci, mbah Kyai Dalhar tidak pernah buang air kecil ataupun air besar di tanah Haram. Ketika merasa perlu untuk qadhil hajat, beliau lari keluar tanah Haram

"Geko Ngantuk Sekali"
Almaghfurlah KH. Daldiri Lempunyangan Yogya, yang kini diteruskan KH Misbahul Munir (ada yang memanggil Gus Misbah, tapi lebih suka dipanggil Kang Misbah) beserta ratusan barisan santri beliau yang umumnya penghapal Qur'an, punya kebiasaan mengamalkan Puasa Dawud ini. Ada yang menjalankan selama 3 tahun, 5 tahun, 7 tahun, bahkan ada yang seumur hidup

Kita perlu belajar dari hidup para auliya. Ada wali yang ketika makan merasa enak maka beliau langsung buru-buru berhenti karena takut itu adalah nafsu. Ada pula wali yang ketika menanak nasi beliau mencampurinya dengan bratawali agar pahit dan nasinya tidak enak. Semua demi melawan kesenangan dan hawa nafsu. Puasa kanjeng nabi sendiri dan para aulia itu termasuk puasa ngrame. Berpuasa ditengah kerumunan orang yang tidak berpuasa dan orang-orang tidak tahu kalau kanjeng nabi atau para aulia itu sedang berpuasa. Jadi ketika kanjeng nabi berpuasa, orang lain makan dan minum di depan kanjeng nabi.  Tetapi kanjeng nabi biasa saja. Tidak marah, tidak emosi atau menyuruh merazia dan menghukumnya. Kanjeng nabi malah tersenyum.

Allah berfirman: “Puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya”. (HR Bukhari-Muslim).

Budi Mulyawan
Minggu, 5 Juli 2015
Kantin Lor Pondok, Tegal
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang