Malam Bina Iman Jomblo (MABIJO)

12 July 2015



Awal Malam

Menjelang Maghrib, Bams dan Budi tiba di Tuwel, sebuah desa asri di kaki Gunung Slamet. Di halaman rumah, Zia sudah menantikan kedatangan para tetamu istimewa itu. Setelah menyantap takjil, shalat jamaah dan makan malam, tiga pemuda ini mulai membincangkan agenda malam itu. Yakni MABIJO; Malam Bina Iman Jomblo.

Agenda MABIJO ini adalah pembersihan lahiriah dari berbagai macam kekeruhan, diniati taubat serta taqarrub di malam Ramadhan, yakni dengan pembacaan selawat dan doa dalam Kasidah Mudhariyyah susunan Imam Al-Bushiri. Kemudian disusul dengan laporan pengelola web Santrijagad.org, diskusi rencana riset Jejak Ulama Tegal, lalu ditutup dengan mandi manja di kolam air panas Guci.

Setengah jam menuju Isya, datang Geko dan Abi dalam keadaan meringis kedinginan, setelah melalui berbagai rintangan sepanjang perjalanan. Bakda Isya, mereka berlima bergabung bersama squad Mushala Baitul ‘Atiq Dukuh Krajan Desa Tuwel untuk melaksanakan shalat Tarawih dan Witir berjamaah 23 rakaat.

Tengah Malam

Bakda Tarawih, sambil menunggu para jomblo lain yang belum datang, mereka melingkar di serambi mushalla. Membincangkan tentang betapa pentingnya upaya pengenalan diri melalui aktivitas akal alias rasionalisasi. Namun jauh lebih penting pula pengenalan diri dengan upaya batin berupa disiplin-disiplin tirakat, sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing orang. Perbincangan makin menjurus ke arah filsafat ketika Dida datang.

Dalam sesi ini, Dida membawa mereka melintasi dimensi-dimensi lain alam semesta. Menggunjing konsep psikologi Imam Ghazali hingga ketuhanan ala Albert Einstein. Teka-teki awal mula waktu dan sebelas dimensi dipusingkan sedemikian rupa hingga mereka makin kedinginan dan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Saat itulah Jaya datang.

Kedatangan Jaya tidak membuat polemik tentang waktu dan dimensi terurai, ia justru menambah kepusingan dengan mempertanyakan teori rotasi yang menyebabkan perbedaan durasi siang dan malam di berbagai belahan bumi. Beberapa alat peraga dipresentasikan, mulai dari helm hingga kepala kinclong Jaya sendiri, sebagai miniatur bumi, tapi tetap saja tak dapat memuaskan dahaga intelektual Jaya.

Untuk mendinginkan pikiran dan hati, mereka mulai saja ritual malam itu dengan pembacaan Kasidah Mudhariyyah. Suatu rangkaian shalawat dan doa susunan Imam Muhammad al-Bushiri yang sangat indah maknanya dan sastrawi bahasanya. Dimulai dengan panjatan shalawat sebanyak pepasir di pantai, buih di samudera, bintang di langit, dedaunan belantara, napas segenap makhluk, serta kedipan penghuni langit dan bumi. Dipungkasi dengan pengakuan kelemahan diri, semrawutnya problematika kehidupan dan ambisi, serta betapa luasnya ampunan dan kuasa Ilahi.


Akhir Malam

Lepas tengah malam, dua jomblo datang, Adam dan Pandu. Maka lengkaplah dewan jomblo malam ini berjumlah sembilan orang. Maka dimulailah musyawarah istimewa Dewan Jomblosongo. Pertama, Budi sebagai pengelola web Santrijagad.org memaparkan perkembangan website asik satu itu.

Ia memaparkan sejarah Santri Foundation yang melahirkan Santrijagad kemudian menelurkan Santrijagad.org, serta awal mula meluncurnya webblog tersebut tiga tahun lalu. Dalam momen ini, mereka menegaskan dan memantapkan bahwa Santrijagad.org adalah situs moderat sebagai penyambung lidah santri di media maya. Serta menjunjung tinggi adab yang menjadi karakter utama sebagai santri. Sajian yang terhidang di webblog ini mencoba mencakup seluas mungkin bidang keilmuan dan sudut pandang. Namun prinsip utamanya adalah ‘mengakar dan merindang’.

Webblog Santrijagad.org tidak hanya mencoba menghidangkan wawasan orisinil yang moderat dan menyejukkan, atau isu-isu hangat tertentu, tetapi juga mewadahi hasil diskusi santai Santrijagad yang digelar secara periodik. Hal ini semoga menjadi tren baru bagi dunia diskusi santri, yakni mentradisikan literasi dari gerakan riil dan diskusi lisan menjadi dokumen tertulis yang akan awet dan bisa menjadi objek kajian baru. Salah satu feedback dari diskusi Santrijagad yang dimuat di Santrijagad.org adalah tercetusnya ide untuk mendata riwayat ulama-ulama di Kabupaten Tegal.

Selanjutnya, Zia membuka diskusi rencana penyusunan dokumentasi tertulis tentang para ulama dan shalihin Kabupaaten Tegal. Hal ini menjadi urgent saat ini karena generasi muda, baik santri apalagi awam, yang kepaten obor sebab tak mengenal para ulama yang berjuang di wilayannya masing-masing.

Padahal setiap zaman, era, dan wilayah, para tokoh memiliki gaya dan bidang perjuangan khas. Dengan riset ini, bisa diketahui riwayat mereka, pemetaan wilayahnya, hubungan silsilah maupun keilmuan, serta keterkaitan sejarah dengan masa kini.

Atas pemaparan rencana riset ini, para jomblo saling tukar pendapat dan usulan. Maka disimpulkanlah beberapa poin;

Pertama, penyusunan proposal penelitian yang berisi latar belakang, manfaat, tujuan, serta kepanitiaan.

Kedua, perencanaan lini masa dan rundown sebagai target waktu eksekusi penelitian.

Ketiga, perumusan ruang lingkup tentang kriteria ulama seperti apa, wilayah mana saja, hingga peran bagaimana yang akan diriset.

Keempat, penjadwalan sowan kepada pihak-pihak yang perlu dimintai pertimbangan. Tokoh pertama adalah Al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, KH Ahmad Sa’idi pengasuh Pesantren Attauhidiyyah, kemudian KH Chambali Utsman selaku sesepuh syuriah Nahdlatul Ulama Kabupaten Tegal, dan beberapa sejarawan Tegal. Agenda sowan ini menjadi penting sebagai lampu jalan bagi Tim Riset Santrijagad, sekaligus pengarah dan penentu hasil akhir penelitian.

Diskusi ditutup dengan mandi taubat bagi para jomblo di pemandian air panas curug pat belas Guci. Kemudian sahur bersama dan shubuh berjamaah di mushalla. []

Tuwel, 25 Ramadhan 1436 H

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang